KOMPAS
Selasa, 07 Mar 1995
Halaman: 13
Penulis: ADHI KSP

FENOMENA PROPERTI KELOMPOK LIPPO
DAN MENGGUGAT KONSEP KOTA MANDIRI


SIAPA yang menyangka daerah Karawaci di Tangerang -sekitar 25
km dari Jakarta- kini tumbuh menjadi sebuah kota baru yang mulai
dipenuhi gedung-gedung jangkung? Dua tahun silam, kawasan itu masih
rata dengan tanah. Tapi Kelompok Lippo telah menyulapnya menjadi
sebuah kota mandiri, dalam arti sebenarnya, yang dinamakan Lippo
Village. Suasana modern, jauh dari jantung metropolitan Jakarta ini,
dapat dilihat dari tepi jalan tol Jakarta-Merak pada Km 25.

Hotel bintang empat, rumah sakit swasta berlantai delapan,
klub olahraga, gedung-gedung perkantoran, sekolah elite, pusat
perbelanjaan modern, apartemen tertinggi di Asia Tenggara dengan 52
lantai, lapangan golf, dan tentu saja perumahan. Semuanya dibangun
hampir serentak dan dalam waktu tak jauh berbeda. Hasilnya? Sebuah
kota baru dan mandiri, yang tentu membuat banyak orang kagum.

“Konsep yang diterapkan Lippo memang berbeda dengan developer
lainnya,” kata Managing Director Lippo Group Roy E Tirtadji dalam
percakapan dengan Kompas pekan lalu. Diakui bahwa konsep kota
satelit dilakukan pertama kali oleh kelompok Ciputra. Lippo sendiri
belum lama terjun dalam dunia properti. Namun menurut Roy E
Tirtadji, konsep yang diterapkan Lippo terbalik dari hal yang lazim.
Jika developer lain membangun dulu, baru menjual, Lippo menjual dulu
baru membangun sehingga harga bisa kompetitif.

Dan yang menjadi fenomena menarik dalam dunia properti adalah
langkah spektakuler yang diambil Lippo. Kelompok ini membangun
sarana dan infrastruktur serentak dengan perumahan. “Kami membangun
sekolah Pelita Harapan terlebih dahulu pada tahun 1993, sebelum
fasilitas lain-lain,” jelas Roy. Saat ini tercatat 900 pelajar
Sekolah Pelita Harapan -semuanya dari kelompok menengah ke atas.
Namun tahun 1995 ini, Lippo membangun lagi Sekolah Dian Harapan dari
TK hingga SMA (kapasitas 1.000 pelajar), yang sasarannya lebih pada
menengah ke bawah.

Sementara itu Chief Executive Officer PT Lippo Village Tong
Padilla mengungkapkan, pembangunan kawasan Lippo Village dimulai
dengan mengajak “orang-orang yang dekat” dulu. Lippo mengajak
kelompok Matahari untuk membangun gedung perkantoran. Matahari
memang membangun gedung setinggi 42 lantai, 20 lantai untuk
perkantoran -termasuk kantor pusat Matahari-, 22 lantai selebihnya
untuk apartemen. Jika tower Matahari ini selesai 1997, akan
melengkapi gedung jangkung yang sudah berdiri dan berfungsi yaitu
Asia Tower -kantor pusat Lippo, Danaplast Tower (10 lantai), dan
Hotel Imperial Century.

Gedung jangkung lainnya yang sedang dibangun adalah tower Anwar
Sierad (20 lantai), RS Siloam Gleneagles (8 lantai), dan apartemen
Amartapura (52 lantai) -konon apartemen tertinggi di Asia Tenggara.
Selain itu sebuah pusat perbelanjaan modern berlantai tiga yang
disebut Supermall seluas 200.000 meter persegi, empat kali lebih
luas dari Pondok Indah Mall di Jakarta Selatan dalam tahap
penyelesaian dan akan rampung September tahun ini juga.

Supaya lalu lintas di sekitar gerbang tol Karawaci tidak macet
akibat pembangunan pesat Lippo Village, konglomerat Lippo tak
tanggung-tanggung membangun interchange (simpang susun) dengan
sembilan gerbang baru, dan menambah tiga jembatan baru, sebagai
pintu masuk dan keluar tol. “Biaya simpang susun itu seluruhnya
sekitar Rp 40 milyar, semua ditanggung Lippo,” kata James T Riady,
Chief Executive Officer Lippo Group. Karawaci Interchange ini
diperkirakan rampung bulan Juli
1995.
***

FENOMENA menarik dalam dunia properti, seperti yang terlihat
dari langkah yang diambil Kelompok Lippo, kini banyak disoroti
berbagai pihak. Konsep kota mandiri Lippo bukan cuma isapan jempol.
Gugatan orang pada konsep kota mandiri adalah developer cuma
membangun perumahan, tapi toh tempat kerja tetap di Jakarta,
sehingga masalah lalu lintas tetap tak terpecahkan. Banyak dari
mereka yang tinggal di pinggiran seperti Tangerang dan Bekasi tetap
harus ke Jakarta untuk bekerja.

Kota mandiri yang bagaimana yang diharapkan? Lippo City di
Bekasi misalnya, merupakan salah satu contoh. Proyek pertama
properti Lippo seluas 2.000 hektar ini dibangun tiga tahun silam,
kini sudah menunjukkan citra sebagai kota mandiri. Bahkan Bupati
Bekasi Moch Djamhari belum lama ini berkomentar, Lippo City cocok
menjadi ibu kota Kabupaten Bekasi karena sudah memenuhi syarat
sebagai ibu kota.

Jika kota baru Lippo Village Karawaci Tangerang sudah rampung
seluruhnya, diperkirakan sekitar 40.000 tenaga kerja bakal
tertampung di kota mandiri Lippo Village seluas 500 hektar, yang
akan dikembangkan menjadi 2.100 hektar.

Bagi Kabupaten Tangerang, pembangunan yang dilakukan kelompok
Lippo tentu diharapkan dapat membantu pemasukan kas daerah setempat.
Setidaknya kehadiran Lippo Village memberikan citra baru bagi
Tangerang, yang dulu lebih berkesan menjadi tempat buangan.

Munculnya Lippo Village, tampaknya membuat developer lainnya
berlomba-lomba membangun permukiman di sepanjang pinggir jalan tol
Jakarta-Merak. Kelompok Ciputra hadir dengan Citra Grandcity di
Cikupa. Juga muncul Gading Serpong, Alam Sutera dan sebagainya.

Konsep kota mandiri, seperti yang selalu didengung-dengungkan
dalam iklan berbagai developer perumahan selama ini, perlu digugat
dan dipertanyakan. Membangun perumahan di pinggiran Jakarta, namun
penghuninya tetap harus bekerja di Jakarta.

Apakah Lippo Village di Tangerang atau Lippo City di Bekasi
bisa jadi contoh pembangunan kota mandiri? Mudah-mudahan demikian.
Mereka yang tinggal di sana juga bekerja di sekitar tempat
tinggalnya, berbelanja dan mencari hiburan juga di sana. Keuntungan
lain akan diperoleh warga yang tinggal di sekitar kawasan itu karena
mereka tak perlu jauh-jauh ke Jakarta berbelanja dan mencari
hiburan. “Kami membangun bukan cuma hanya penghuni Lippo Village
saja, tapi juga untuk masyarakat sekitar,” kata Tong Padilla.

Namun yang selalu menjadi pertanyaan dari semua pembangunan
tersebut, di manakah tempat bagi kalangan menengah ke bawah? Ke mana
pula mereka yang tergusur untuk proyek-proyek itu? Jangan sampai
pembangunan hanya untuk kalangan berduit, sedangkan masyarakat kecil
hanya menggigit jari, menyaksikan keangkuhan gedung-gedung jangkung
di sekitar tempat tinggalnya. (adhi ksp)

Teks foto:
Kompas/ksp
GEDUNG JANGKUNG DI KARAWACI – Inilah sebagian gedung-gedung jangkung
yang dibangun di kawasan Karawaci Tangerang, sekitar 25 kilometer
dari Jakarta. Suasana modern yang jauh dari metropolitan Jakarta
ini, membuat citra Tangerang berubah total.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s