KOMPAS
Selasa, 17 Jan 1995
Halaman: 20
Penulis: ADHI KSP

Jenderal (Pol) Banurusman Astrosemitro
OBSESINYA, MENINGKATKAN PELAYANAN
POLRI PADA MASYARAKAT


SALAH satu obsesi Kapolri Jenderal (Pol) Drs Banurusman
Astrosemitro adalah bagaimana pelayanan Polri kepada masyarakat
dapat ditingkatkan. Karena itu sejak awal menjabat sebagai Kapolri 6
April 1993, Banurusman sudah mencanangkan “lima tantangan Polri”.
Salah satu dari lima tantangan itu adalah tantangan peningkatan
pelayanan terhadap masyarakat.

“Sebagai pengayom, pelayan, pelindung dan pembimbing
masyarakat, Polri harus mampu meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat. Ini termasuk kecepatan polisi ke TKP (tempat kejadian
perkara), dan bukan cuma dalam urusan pelayanan SIM dan STNK. Ada
laporan masyarakat ke polisi, petugas harus segera datang,” kata
Jenderal Banurusman suatu ketika dalam percakapan dengan Kompas.

Orang nomor satu di jajaran Kepolisian Republik Indonesia ini
menyadari betapapun tantangan sudah dijabarkan, yang
melaksanakannya itulah yang akan menentukan, yaitu anggota Polri
sendiri. “Kepada mereka, saya ajak untuk melakukan pekerjaan sebagai
anggota Polri sesuai jati dirinya. Laksanakanlah tugas sesuai dengan
jati diri sebagai anggota Polri, yang terlihat dari seragam, jabatan,
dan pangkat,” katanya.

Selain tantangan peningkatan pelayanan Polri kepada masyarakat,
Jenderal Banurusman merumuskan pula empat tantangan lainnya, yang
harus dijalankan secara simultan dan bersama-sama. Yaitu tantangan
situasional, yang menggambarkan betapa gangguan kamtibmas dengan
berbagai modus operandi kian berkembang dari tahun ke tahun, dan
menunjukkan angka yang relatif tinggi. Crime total yang diselesaikan
cukup berat dibandingkan jumlah crime clearance yang dicapai.

Polri menghadapi tantangan instrumentalia, di bidang piranti
lunak, termasuk di dalamnya perangkat hukum dan perundang-undangan.
Di bidang ini diakui, Polri belum mampu mengejar kemajuan zaman dan
masih ketinggalan. Masih banyak pula perundang-undangan zaman
kolonial yang masih dipakai.

Tantangan lainnya menyangkut aspek penampilan kepolisian. Dari
segi prefesionalisme, kata Banurusman, aspek ini perlu ditingkatkan.
Diakuinya, sarana dan prasarana Polri masih serba terbatas. Tapi
meski demikian, toh Polri tetap dituntut maksimal melaksanakan tugas.

Tak kalah pentingnya adalah tantangan di bidang kesejahteraan
prajurit. Bagaimana meningkatkan kesejahteraan prajurit, terutama
yang menyangkut hak-hak prajurit bisa sampai kepada yang berhak.
Jenderal Banurusman minta kepada setiap kepala kesatuan, agar ikut
memikirkan meningkatkan kesejahteraan anggota, terutama di bidang
perumahan.

Kapolri Banurusman mengakui, masih ada anggotanya yang
nakal. Lalu bagaimana menanggulanginya ? “Caranya mudah. Bantulah
mendidik polisi dengan cara tidak menyuap polisi. Soal suap-menyuap
‘kan dua arah. Antara yang disuap dan yang menyuap. Kalau masyarakat
tidak mau menyuap polisi, ‘kan anggota juga tidak macam-macam.

Memang, di samping setiap komandan berupaya mengawasi anak buahnya
di lapangan, masyarakat juga harus membantu. Mari kita bersama-sama
membentuk korps polisi yang baik dengan mendidik mereka. Anggota
Polri yang nakal ‘kan sudah ada yang dihukum, diberhentikan. Bahkan
jenjang kepangkatan, untuk sekolah pun harus melalui konduite yang
baik,” katanya sungguh-sungguh.

Polisi bekerja selama 24 jam di tengah-tengah masyarakat
sehingga tak heran kalau polisi yang paling sering kena imbas, kena
pengaruh panas masyarakat. “Saya betul-betul mengharapkan bantuan
masyarakat ikut mendidik polisi. Misalnya, beranilah menegur polisi
kalau salah. Tapi beranilah bertanggung jawab kalau ia berurusan
dengan polisi dan jangan mencari jalan pintas dengan menyuap
polisi,” katanya.

Kapolri tidak berkeberatan dengan kontrol sosial masyarakat
pada polisi, tapi ia menyayangkan warga yang teriak-teriak citra
polisi jelek, tapi warga itu masih suka saja menyuap, memberi uang
pada polisi. Cara-cara seperti ini, kata Banurusman, tidak mendukung
upaya pimpinan Polri memperbaiki citra Polri.
***

SIAPA orang nomor satu yang bertanggung jawab atas 180.000
anggota Polri di seluruh pelosok Indonesia itu? Dia adalah
Jenderal Polisi Banurusman Astrosemitro yang dilantik menjadi
Kapolri oleh Presiden Soeharto pada Selasa 6 April 1993 di Istana
Negara bersama tiga Kepala Staf Angkatan lainnya. Banurusman yang
sebelumnya Kapolda Metro Jaya -dijabatnya hanya dalam waktu tujuh
bulan- lahir di Tasikmalaya, 28 September 1941.

Di mata seorang rekan dan tetangganya di Bandung, Banurusman
seorang jenderal yang rendah hati. Menurut Illia Amin, Dipl Ing Med
SH kepada Kompas, Banurusman menyempatkan diri ke rumah Ketua RT dan
Ketua RW di kawasan Sekeloa, untuk memberitahukan rencana
pembangunan rumah. Bagi pengurus RT dan RW setempat, kerendahhatian
seorang Banurusman seperti itu, merupakan hal yang sangat langka.

“Kalau sesekali Pak Banu pulang ke Bandung, ia suka berdialog dengan
penduduk di sekitarnya. Ia juga sering menitipkan keluarga dan
rumahnya kepada RT dan RW tempat tinggalnya di Bandung,” kata Illia
Amin yang mengenal Banurusman sejak 1989.

Sedangkan seorang putri Banurusman, Ratih Jelantik Pustikasari
(22), dikenal dengan panggilan Poppy mengungkapkan, hubungan ayah ibu
dan putra-putrinya sangat dekat. “Kalau Poppy lama tidak ke Jakarta,
ayah suka menelepon ke Bandung dan menanyakan keadaan Poppy. Ayah
memang penuh perhatian,” cerita Poppy, mahasiswi Fakultas Ekonomi
Jurusan Manajemen angkatan 1991 Universitas Padjajaran Bandung
kepada Kompas. Biasanya setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), Poppy
dan kakaknya Letda (Pol) Witnu Urip Laksana (24) yang bertugas di
Polwil Bogor, selalu ke Jakarta berkumpul dengan ayah ibu dan
adiknya P.R. Cempaka (16).

Menurut Poppy, salah satu hobi ayahnya adalah menyanyi.
“Kebetulan Poppy bisa main organ. Kalau ke Bandung, ayah paling suka
menyanyikan lagu I Can’t Stop Loving You,” ungkap gadis itu kepada
Kompas.

Hubungan mesra dan akrab yang dijalin Banurusman dengan
istrinya, Ny. Hajjah Mastiar (50) -yang dinikahinya 19 Juli 1970- dan
ketiga putra-putrinya itu, terjalin sejak awal kehadiran mereka
masing-masing. Ibu kandung Banurusman, Ny. H Siti Maryam Abdul Wahid
yang tinggal di Desa Cibeuti, Kecamatan Kawalu, Kabupaten
Tasikmalaya ini yang mengajari anak-anaknya, termasuk kepada Cecep
(panggilan sayang kepada Kapolri Banurusman) bahwa keluarga adalah
sebuah basis yang harus terus-menerus diperkuat dan dipelihara,
karena dari sinilah segalanya dimulai. Keluarga merupakan salah satu
faktor penentu terbesar dari kehidupan dan masa depan bangsa. Ayah
Banurusman juga seorang polisi, Abdul Wahid terakhir pangkatnya
kapten, meninggal 21 April 1989, memiliki pribadi sederhana, sabar,
penuh pengertian dan terbuka.

Tidak heran kalau didikan orangtuanya mengantarkan seorang
putranya “Cecep” Banurusman menjadi orang nomor satu di jajaran
Polri. Hubungan Banurusman selaku Kapolri dengan tiga Kepala Staf
Angkatan pun dekat. Tak cuma itu. Dalam konteks hubungan luar
negeri, Banurusman cukup akrab dengan Kepala Polisi Singapura Tee
Tua Ba dan beberapa kepala polisi lainnya.
***

BANURUSMAN, lulusan PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian)
Angkatan IX/Rajawali ini mengawali kariernya di Pare-pare sebagai
Kepala Seksi II Batalyon 935 Brimob (1963-1967). Lalu menjadi
perwira operasi Polres KPPP (Kesatuan Pelaksana Pengamanan
Pelabuhan) Tanjungpriok Jakut (1967-1974), Sekretaris Pribadi Kepala
Staf Umum Dephankam (1974-1976).

Setelah lulus Seskopol (Sekolah Komando Kepolisian) 1976, ia
menjadi Kepala Bagian Samapta Komtarres Malang (1976-1977) dan
Danres Banyuwangi di Jatim (1977-1980). Lulus Seskogab (Sekolah Staf
Komando Gabungan) 1980, Banurusman lebih banyak terjun dalam bidang
intelijens. Ia ditugaskan sebagai Kasi Intelpam Komdak Jatim (1980-
1981), As Intelpam Kasdak Sulselra (1981-1982) dan As Intelpam
Kasdak Jawa Barat (1982-1985). Setelah itu Banurusman menjabat
Kapolwil Banten (1985-1986), dan Kapolwil Cirebon (1986-1987).

Ketika menjadi Wakapolda Sumut (1987-1989), Banurusman
menyelesaikan pendidikan di Lemhannas (1988). Kariernya cepat
menanjak, Wakapolda Metro Jaya (1989-1990), Direktur Bimbingan
Masyarakat (1990-1991), Kapolda Jawa Barat (9 Maret 1991-25 Juli
1992), dan Kapolda Metro Jaya (30 Juli 1992-31 Maret 1993).
Kapolri Jenderal (Pol) Banurusman dan jajaran pimpinan Polri
bersungguh-sungguh berupaya memperbaiki citra Polri dengan
mencanangkan program “lima tantangan” yang selalu dikemukakannya. Ia
yakin satu waktu obsesinya dapat terwujud dan terlaksana. (adhi ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s