KOMPAS
Kamis, 03 Oct 1996
Halaman: 17
Penulis: ADHI KSP

Pasar Wisata Indonesia 1996
MENJUAL PARIWISATA INDONESIA ATAU MANCANEGARA?

PASAR Wisata Indonesia atau Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME)
digelar kembali di Balai Sidang Jakarta untuk kali yang ketiga pada
tahun 1996 ini. Kegiatan tahunan yang sudah tercantum dalam kalender
wisata internasional dan bertujuan mempromosikan paket-paket wisata
Jakarta dan Indonesia ke luar negeri itu, direncanakan dibuka resmi
oleh Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja hari Kamis (3/10) ini.

Pada penyelenggaraan Pasar Wisata Indonesia 1995 silam, transaksi
bisnis yang dihasilkan dalam mart sekitar Rp 70 milyar. Transaksi itu,
menurut Wuryastuti Sunario, ketua panitia penyelenggara, dinilai cukup
sukses. Tahun lalu Pasar Wista mendatangkan pembeli terbanyak dari
Amerika Serikat (22), Belanda (19), Jerman (11) dan Jepang (9), serta
berhasil pasar pariwisata Indonesia ke Vietnam (6), India (3) dan
Afrika Selatan (2).

Dalam acara yang sama tahun ini yang berlangsung 1-6 Oktober,
badan promosi wisata luar negeri pun ikut memanfaatkannya dalam arena
ekspo dengan mempromosikan paket-paket wisata andalan mereka, dengan
maksud agar orang-orang Indonesia tertarik berlibur ke sana.
Sedikitnya tujuh NTO (National Tourism Organization) hadir dalam
ekspo Pasar Wisata Indonesia kali ini, yaitu Singapore Tourist
Promotion Board, Malaysia Tourism Promotion Board, Australian Tourist
Comission, Tourism Authority of Thailand, Hongkong Tourist
Association, India Tourist Government Office, dan National Turkish.

NTO-NTO ini tampaknya serius menjaring wisatawan Indonesia. Dalam
Pasar Wisata Indonesia, mereka menampilkan aneka atraksi dalam ruang
ekspo. Australian Tourist Comission, misalnya, menghadirkan wahana
simulasi Banteng Liar, yaitu mesin simulasi gerakan seekor banteng
liar dengan kecepatan gerak yang dapat diatur sesuai kelihaian
penunggangnya. Banteng mekanik ini dibawa langsung dari Townsville,
kota kecil dekat Cairns di negara bagian Queensland, Australia.
Sedangkan Thailand akan menampilkan atraksi Thai Boxing dalam arena
ekspo.
***

DILIHAT dari perbandingan jumlah peserta buyers (pembeli),
terlihat ada kenaikan. Tahun 1995 lalu, jumlah pembeli – yang terdiri
dari perusahaan biro perjalanan wisata dari mancanegara – tercatat 170
dari 32 negara, sedangkan tahun 1996 ini, jumlah pembeli menjadi 206
dari 36 negara.

Para pembeli antara lain berasal dari Amerika Serikat, Australia,
Belanda, Filipina, Hongkong, India, Inggris, Meksiko, Mesir, Perancis,
Jerman, Singapura, Turki, Thailand, dan berbagai negara lainnya. Pada
umumnya para pembeli ini perusahaan biro perjalanan wisata dan
perusahaan yang bergerak di bidang MICE (meeting, incentive, convention
and exhibiton) yang sudah berpengalaman dan memiliki cabang di berbagai
kota baik di negara mereka masing-masing maupun di mancanegara.
Perancis misalnya, mengirim pemimpin pasar wisata di negaranya,
Transunivers, perusahaan yang didirikan 15 tahun silam. Jepang
mengirim empat biro perjalanan wisata terkemuka. Belanda menghadirkan
organisasi penyelenggara MICE, yang anggotanya tersebar di 70 negara.

Dari Filipina, hadir biro perjalanan wisata Columbia Travel and Tours
yang memiliki empat cabang di Manila, Makati, Chinatown, dan Cebu.
Semuanya pembeli potensial produk wisata yang dijual sellers
Indonesia.

Sayangnya, jumlah sellers (penjual) yang mengikuti mart Pasar
Wisata Indonesia 1996 ini malah mengalami penurunan. Para penjual yang
terdiri dari perusahaan biro perjalanan wisata, hotel, resort dan
penerbangan dari berbagai propinsi di Indonesia, yang ikut dalam mart
Pasar Wisata Indonesia tahun 1995 tercatat 359 dari 23 propinsi. Pada
tahun 1996, jumlah penjual “hanya” 339 dari 17 propinsi.

Situasi seperti ini akan membuat pasar pariwisata Indonesia
direbut oleh negara-negara lain yang menjadi peserta pembeli. Devisa
yang diharapkan akan masuk ke negeri kita, malah keluar dengan
banyaknya orang Indonesia melancong ke mancanegara.

“Ini tidak kita harapkan karena tujuan Pasar Wisata Indonesia
nantinya malah tidak tercapai. Pasar wisata kita bisa diambil NTO-NTO.
Kami sayangkan banyak seller yang belum menyadari pentingnya kegiatan
itu sebagai ajang promosi wisata. Kalau kendalanya sewa stan, ongkos
sewa stan sudah cukup murah. Pasar Wisata Indonesia ini satu-satunya
mart yang berada pada satu atap,” jelas Chatarina Widyasrini, Presdir
Kata Communications, konsultan public relation BPPI. Penyelenggara
Pasar Wisata Indonesia adalah PACTO, yang sudah berpengalaman puluhan
tahun.

Yang jelas, membatasi kehadiran NTO dalam Pasar Wisata Indonesia,
sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Orang-orang asing, para buyers
(pembeli) justru yang melihat manfaat besar yang diperoleh dari
kegiatan ini. Orang Indonesia sendiri belum memanfaatkannya secara
maksimal. Kalau begini, Pasar Wisata Indonesia menjual pariwisata
Indonesia, atau malah sebaliknya, menjual pariwisata mancanegara ?
(ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s