KOMPAS
Jumat, 23 Aug 1996
Halaman: 18
Penulis: KSP

Pesta Teluk Jakarta
MENCOBA MENGGAIRAHKAN WISATA BAHARI?

Nenek moyangku orang pelaut,
Gemar mengarung luas samudera,
Menerjang ombak tiada takut,
Menembus badai sudah biasa…

LAGU yang didendangkan pada masa kanak-kanak itu menunjukkan
betapa sebenarnya pada masa lampau bangsa Indonesia berjaya di bidang
bahari dan kelautan. Tapi apakah kejayaan itu akan tinggal kenangan ?

“Bisa terjadi demikian, karena anak-anak muda kita kurang mengenal
laut dan belum cinta bahari. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bisa
jadi hanya nenek moyang saja yang cinta laut. Padahal wilayah
Indonesia 70-80 persen merupakan laut,” kata Djafar Tirtosentono,
Ketua Perwita Pusri (Perhim-punan Wisata Kepulauan Seribu), asosiasi
pengusaha resor dan pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Djafar betul. Kota Jakarta sebetulnya kaya dengan potensi wisata
bahari. Pulau-pulau di gugusan Kepulauan Seribu, Pelabuhan Sunda
Kelapa hingga Taman Impian Jaya Ancol yang penuh sejuta pesona. Namun
kesan utama yang terjadi selama ini, wisata bahari hanya untuk
orang-orang berduit. Olahraga jetski, menyelam, berlibur ke pulau.
Semuanya membutuhkan biaya yang relatif mahal.

Pergi ke pantai ? Di Jakarta, untuk masuk Taman Impian Jaya Ancol,
masyarakat tetap harus membayar tiket masuk. Jadi pergi ke pantai pun
tetap membutuhkan biaya. Sehingga wajar saja kalau akhirnya
pengembangan wisata bahari di Jakarta be-lum mampu menyentuh semua
lapis-an masyarakat.

“Itu realitasnya, sasaran wisata bahari selama ini masih pada
masyarakat menengah ke atas. Saya sendiri ikut prihatin. Tapi akan
kita cari solusi bagaimana semua orang suka pada wisata bahari,” kata
Djafar.
***

SOAL mahalnya berwisata bahari, memang sulit dipungkiri. Tapi
bagaimana dengan upaya menjaring wisatawan nusantara dan wisatawan
mancanegara agar berkunjung ke Teluk Jakarta dan menikmati liburan
dengan memanfaatkan fasilitas di sana ? Sejak tahun 1995, Kantor
Wilayah Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Kakanwil
Depparpostel) DKI Ja-karta menyelenggarakan event pariwisata yang
dinamakan Pesta Teluk Jakarta.

Mampukah Pesta Teluk Jakarta menggairahkan wisata bahari di
Jakarta ? “Kami sadar betul, itu tak mungkin dilakukan dalam waktu
yang singkat, apalagi dengan dua kali penyelenggaraan Pesta Teluk.
Namun setidaknya kami sudah memperkenalkan dan memberi informasi
kepada khalayak tentang beragam jenis wisata bahari yang dapat
dinikmati,” kata Kakanwil Depparpostel DKI Jakarta, Pudjo Basuki
MBA.

Pudjo memang tidak menargetkan yang muluk-muluk dari pelaksanaan
Pesta Teluk Jakarta. “Setidaknya, penyelenggaraan ini ingin menun-
jukkan bagaimana kita bisa membangun image, citra kepada wisatawan,
bahwa Jakarta juga memiliki pesona wisata bahari,” katanya.
Lokasi yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan utama Pesta
Teluk Jakarta adalah Pantai Marina Jaya Ancol. Selain itu beberapa
kegiatan dilakukan di sejumlah pulau di kawasan wisata Kepulauan
Seribu dan Pelabuhan Sunda Kalapa.

“Terus terang, kami sebenarnya menumpang pengunjung Ancol. Kami
berharap pengunjung Ancol yang sudah membayar karcis masuk, dapat pula
melihat-lihat pameran di pantai marina, sekaligus menyaksikan berbagai
atraksi yang diadakan, termasuk aneka lomba,” ungkap Pudjo.

Seorang staf pemasaran TIJA juga menargetkan jumlah pengunjung
Ancol naik sekitar 30 persen setelah penyelenggaraan Pesta Teluk
Jakarta diadakan 18 Agustus hingga 25 Agustus 1996 mendatang.
“Wisata bahari memang harus terus dikembangkan agar mampu menjadi
daya tarik wisata unggulan Kota Jakarta,” kata Wakil Gubernur DKI
Jakarta bidang Ekonomi dan Pembangunan, Ir Tubagus Muhammad Rais
ketika membuka Pesta Te-luk Jakarta hari Minggu (18/8) yang lalu.

Promosi wisata bahari tampaknya masih kurang gencar. Banyak
ma-syarakat yang belum mengetahui potensi wisata bahari di Jakarta.
Ambil contoh, informasi berlibur ke pulau-pulau wisata di gugusan
Kepulauan Seribu, masih belum memasyarakat. Tidak sedikit warga Kota
Jakarta dan juga wisatawan yang belum tahu apa saja yang dapat
dinikmati dalam paket wisata bahari.

“Liburan ke pulau ? Ah, mahal,” ucap seorang rekan. Apalagi kalau
tujuannya hanya ke satu pulau. “Karena itulah kami membuat paket
wisata bahari,” kata Djafar Tirto-sentono. “Orang tak hanya pergi ke
satu pulau, tapi bisa ke pulau-pulau lainnya. Ke Pulau Bira Besar
bermain golf, sorenya bisa ke Pulau Pu-tri atau pulau lainnya
beristirahat atau ke diskotek. Biayanya tak lebih dari seratus dollar
AS per orang,” kata Djafar. Kalau dibilang mahal, memang relatif. Bagi
penggemar olahraga air yang berduit, tentu saja liburan ke pulau
dengan harga itu dianggap cukup.

Namun menurut Pudjo Basuki, masyarakat menengah ke bawah pun
sebenarnya bisa menikmati li-buran ke pulau. Caranya ? “Yah, tidak
perlu naik kapal yang ongkosnya mahal. Jangan pilih yang mahal, dong.
Dengan uang sekitar Rp 25.000 atau Rp 30.000 per orang, warga bisa
menikmati wisata bahari, dengan catatan makanan dibawa sendiri. ‘Kan
bisa saja mereka naik kapal yang murah sampai ke Pulau Kelapa. Setelah
itu, dengan menggunakan kapal nelayan, mereka bisa mengunjungi
pulau-pulau terdekat lainnya ,” jelas Pudjo yang membantah wisata
bahari hanya untuk orang-orang berduit.

Mungkin Pudjo benar. Tapi apa yang telah dilakukan oleh Perwita
Pusri, para pengusaha resor dan pulau di Kepulauan Seribu selama ini
terbukti hanya mencari sasaran kalangan kelas menengah ke atas. Dari
lapangan golf, olahraga jetski, menyelam, sampai memancing. Semuanya
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Solusinya, pemerintahlah yang seharusnya mengambil inisiatif,
bagaimana agar wisata bahari digarap untuk semua lapisan masyarakat
sehingga dapat dinikmati semua orang dari semua golongan ekonomi
manapun juga.

Caranya ? “Mungkin bisa diadakan paket tabungan. Adakah bank yang
bisa diajak kerja sama ? Dengan menabung Rp 100/hari misalnya, uang
yang terkumpul dalam satu tahun bisa Rp 36.500, atau dengan menabung
Rp 1.000/hari, uang yang terkumpul Rp 365.000. Dengan tabungan
sejumlah itu, anak-anak atau pelajar dan mahasiswa ataupun pekerja
bisa memilih paket mana yang dituju untuk berliburan dan berwisata.

Tentu saja harus ada biro perjalanan yang menangani,” kata Pudjo
Basuki melontarkan usul bagaimana agar masyarakat khususnya anak-anak
sekolah- dapat berwisata secara terencana.

Itu soal mengajak anak-anak sekolah agar makin mencintai dunia
bahari dengan menawarkan berwisata bahari. Bagaimana pula dengan
mengajak wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara agar mau
menikmati wisata bahari di teluk Jakarta ? Para pengusaha resor,
restoran, pulau yang berkaitan dengan wisata bahari kini mulai
berlomba-lomba menarik wisman agar datang ke tempat mereka.

Kapal pesiar Awani Dream dari Grup Modern diluncurkan setahun
terakhir ini, mengajak wisatawan nusantara dan mancanegara untuk
menikmati paket wisata bahari antara lain ke Kepulauan Seribu.

Pengusaha lainnya menawarkan mereka agar mau berlibur di pulau-pulau
dengan pesona wisata. “Upaya menggaet wisatawan mulai dilakukan
secara serius,” kata Djafar.
***

DALAM bidang pengembangan wisata bahari, Jakarta sebenarnya masih
di atas daerah-daerah lainnya di Indonesia karena Jakarta memiliki
banyak pilihan. Bunaken di Sulawesi Utara memang indah. Tapi keindahan
lautnya masih hanya satu-satunya wisata unggulan di sana.

Sedangkan di Jakarta, orang bosan liburan di pulau, bisa berbelanja
di Mangga Dua atau mal-mal lainnya yang kini mulai bertebaran di
Jakarta dan sekitarnya. Wisatawan juga bisa menikmati pesona Taman
Impian Jaya Ancol dengan Dunia Fantasi dan Seaworld-nya. Juga bisa
datang ke Taman Mini Indonesia Indah. Mereka yang suka sejarah, dapat
mendatangi sejumlah museum. Jadi sekali datang ke Jakarta, wisatawan
bisa mendatangi berbagai lokasi wisata dan menikmatinya.

Pertumbuhan kepariwisataan di DKI Jakarta sekarang ini menunjukkan
peningkatan yang pesat baik kunjungan wisatawan mancanegara maupun
pertumbuhan sarana-prasarana pariwisata. Sebagai gambaran, kunjungan
wisatawan mancanegara pada tahun 1993 berjumlah 1.107.956 orang, pada
tahun 1994 naik menjadi 1.276.660 orang dan pada tahun 1995 naik lagi
menjadi 1.388.980 orang.

Ini berarti rata-rata pertumbuhan wisatawan mancanegara dalam tiga
tahun terakhir ini meningkat sekitar 10 persen. Dalam tahun 2000,
diperkirakan jumlah wisman yang datang ke Jakarta mencapai dua juta
orang bahkan lebih.

Dari jumlah itu, berapakah kontribusi sektor wisata bahari menggaet
wisatawan mancanegara ? “Tak bisa dihitung secara khusus. Namun kami
bertekad pada tahun-tahun mendatang, wisata bahari mampu menjadi salah
satu wisata unggulan bagi Kota Jakarta,” kata Pudjo Basuki. Kita harap
begitu dan mari kita lihat nanti. (adhi ksp)

Teks Foto:
Kompas/ksp
BERPESTA — Ikut menyemarakkan suasana Pesta Teluk Jakarta 1996, anak-
anak menampilkan kesenian daerah. Selain aktraksi seni, pesta juga
menggelar berbagai lomba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s