KOMPAS
Minggu, 04 Aug 1996
Halaman: 4
Penulis: KSP

JALAN JAKSA, BERTAHAN DI TENGAH
INCARAN PEMILIK MODAL

NAMA Jalan Jaksa di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat sudah
dikenal hampir 30 tahun sebagai tempat penginapan yang murah bagi
wisatawan mancanegara (wisman). Bahkan Jalan Jaksa lebih dikenal
daripada beberapa obyek wisata di Jakarta. Jalan sepanjang 400 meter
yang lokasinya sangat strategis di jantung Ibu Kota, tercantum dalam
buku-buku panduan tentang Jakarta untuk wisatawan mencanegara
(wisman).

Tentu saja wisman yang ingin “menghemat” biaya, lebih suka menginap
di pemondokan di kawasan Jalan Jaksa. Tarifnya relatif murah. Untuk
menginap satu malam, tarifnya antara Rp 15.000 dan Rp 50.000. “Dengan
kipas angin pun, wisman-wisman itu suka tidur di tempat kami,” kata
Boy Lawalata, pemilik Wisma Delima. Wisma yang menjadi perintis
pemondokan di Jalan Jaksa ini, berkapasitas 14 kamar, memasang harga
Rp 15.000/kamar (untuk dua orang), dengan kamar mandi di luar. Untuk
sekali makan, wisman mengeluarkan biaya rata-rata Rp 3.000/orang.

Kondisi Wisma Delima jika dilihat sepintas seperti rumah biasa.
Tempat resepsionisnya berada di dekat tumpukan kayu di halaman. Tak
ada perubahan berarti, sama seperti ketika tahun lalu Kompas datang ke
sana. Tapi, toh wisman sangat suka menginap di sana. Tingkat hunian
Wisma Delima rata-rata di atas 80 persen. Tak pernah sepi. “Selalu ada
saja yang datang ke mari,” kata Yanu Ronggo, karyawan Wisma Delima.

Dibandingkan dengan lokasinya yang strategis di tengah kota, harga
penginapan itu tentu saja relatif murah. Untuk menuju Bandara
Soekarno-Hatta, mereka cukup datang ke Stasiun KA Gambir yang jaraknya
tak lebih dari satu kilometer. Di Gambir, ada bus shuttle yang bisa
membawa mereka ke bandara dengan tarif terjangkau, tanpa perlu naik
taksi (yang suka memainkan argometer). Selain itu lokasi Monumen
Nasional pun dekat. Bila Taman Medan Merdeka sudah selesai dibangun,
kawasan ini pun akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman.

Tak heran jika banyak pemilik modal yang mengincar kawasan Jalan
Jaksa sebagai tempat bisnis menguntungkan, entah untuk mendirikan
hotel bertingkat atau gedung perkantoran. “Pernah ada orang menawar
apakah kami mau menjual tanah dan pondokan kami. Orang itu datang
sampai tiga kali, menawarkan harga lumayan besar. Tapi setelah saya
diskusikan dengan ayah dan keluarga, kami tetap bertekad melestarikan
pondokan kami seperti ini, apa adanya. Justru dengan seperti inilah,
Jalan Jaksa memiliki daya tarik,” kata Boy. Harga tanah di kawasan
Jalan Jaksa kini sudah Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per meter persegi.

Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja yang sangat prihatin pada
pelestarian seni budaya Betawi mendukung para pemilik pondokan Jalan
Jaksa. Ia tidak ingin Jalan Jaksa punah oleh keserakahan pemilik
modal. Ketika membuka Pesta Jalan Jaksa (Jaksa Fair) hari Rabu (31/7)
sore lalu, Gubernur Surjadi Soedirdja menegaskan, Jalan Jaksa harus
tetap dipertahankan sebagai salah satu pusat wisata yang khas. Ia
sudah meminta Dinas Pariwisata dan Dinas Tata Kota menyusun rencana
panduan kota, yang menjamin Jalan Jaksa tetap sebagai daerah wisata
yang khas.

Sejak tiga tahun terakhir, Ikatan Usaha Kepariwisataan Jalan Jaksa
dan Sekitarnya (IKJS) bekerja sama dengan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi)
dan Suku Dinas Pariwisata Kotamadya Jakarta Pusat menyelenggarakan
Pesta Jalan Jaksa, sebuah pesta rakyat.

Budaya Betawi
Pesta Jalan Jaksa memang lebih menonjolkan seni budaya Betawi.
Setiap malam, pengunjung dapat menyaksikan ragam seni budaya Betawi,
dari ondel-ondel, gambang kromong asli, lenong, gambang kromong wanita,
marawis, musik gambus, rebana biang, rebana ketimpring, keroncong
Betawi, samrah, pantomim, aneka tari Betawi, tanjidor, pencak silat,
lawak, topeng Betawi, lenong dines sampai pada baca cerita Betawi.
Pengunjung juga dapat menikmati makanan tradisional Betawi, kerak
telor yang makin populer.

“Saya suka dengan kesenian Betawi,” kata Benjamin, wisman asal
Australia yang mengaku baru pertama kali ke Jakarta. Benjamin termasuk
mereka yang ikut menyaksikan tari Kembang Ampreng yang digelar pada
acara pembukaan Pesta Jalan Jaksa. Ia duduk di pelataran halaman
parkir Hotel Karya di antara anak-anak kampung yang berwajah ceria.

Tidak seperti acara-acara resmi lainnya, Pesta Jalan Jaksa betul-betul
sebuah pesta rakyat. Tak ada jarak antara pejabat dan masyarakat
penonton -sebagian besar wisman dan penduduk sekitar. Suasana alamiah
yang menyatu dengan masyarakat setempat itulah yang membuat Jalan
Jaksa memberikan ciri khas tersendiri bagi pariwisata Jakarta. “Jalan
Jaksa memang sudah menjadi trade-mark pariwisata Jakarta. Kalau bisa,
kawasan ini jangan digusur. Jadikan apa adanya, seperti sekarang ini,”
harap Boy Lawalata yang meneruskan usaha ayahnya Nathanael Lawalata
(84), perintis usaha penginapan Jalan Jaksa.

Beberapa pemilik modal ada yang membangun hotel berlantai empat,
kamar-kamarnya cukup mewah dan tentu saja dilengkapi alat pendingin
(AC). Namun tampaknya wisman yang berkunjung ke penginapan Jalan Jaksa
lebih suka suasana pondokan meski kamar hanya dilengkapi kipas angin.

Pengelola sebuah hotel berbintang tiga di kawasan Jalan Jaksa
misalnya, kini mulai mengeluhkan sedikitnya tamu yang menginap di
hotelnya. Hotel itu memasang tarif Rp 100.000 – Rp 120.000/kamar/malam.
Namun setelah lebih setahun beroperasi, hotel itu malah jarang mendapat
tamu.

“Tentu saja wisman enggan menginap di sana, karena mereka menilai
tarifnya mahal. Jalan Jaksa kan sejak dulu dikenal sebagai penginapan
bagi wisman low budget. Kalau di sini dibangun hotel-hotel bertingkat,
ciri khas Jalan Jaksa otomatis hilang,” kata Boy Lawalata. Ia sendiri
mengaku tidak berniat mengubah Wisma Delima menjadi hotel yang lebih
mewah yang bisa menarik keuntungan lebih banyak daripada sekarang.

Tidak sedikit wisman yang memilih menginap di rumah-rumah penduduk
di Gang Kebon Sirih Barat Dalam dan Gang Kebon Sirih Timur Dalam. Mereka
cukup membayar Rp 15.000 – Rp 20.000/kamar/malam kepada pemilik rumah.
Kehadiran rumah penduduk yang diubah menjadi penginapan wisman pun
akibat kebutuhan. Kalau kamar-kamar di Jalan Jaksa penuh, wisman
mencari kamar di rumah penduduk sekitar itu.

Lagi pula wisman-wisman yang datang ke Jalan Jaksa, sudah terbiasa
menginap di rumah penduduk di kawasan Sosrowijayan di Yogyakarta atau
di kawasan Kuta, Bali. “Ya, kami lebih senang menginap di rumah di
gang sempit, karena bisa berbaur dengan penduduk setempat,” kata
Jeanne d’Arc (29), wisman asal Perancis yang suka berwisata seraya
membawa ransel perlengkapannya.

Adanya festival tahunan seperti Pesta Jalan Jaksa, memang memberikan
atraksi dan daya tarik bagi wisman-wisman yang menginap ke Jalan
Jaksa. Apakah ada pengaruh Pesta Jalan Jaksa bagi pengusaha pondokan
Jalan Jaksa? “Sebenarnya pada bulan Juli, Agustus dan September, musim
liburan di Eropa. Banyak wisman ke Indonesia. Jumlah mereka naik 20
persen dan lama tinggalnya pun bertambah. Jika sebelumnya rata-rata
satu-dua hari, dengan adanya Pesta Jalan Jaksa, bertambah dua hari
lagi,” kata Yuniwatty S Titaley dari PT Jaksa Express Holiday, agen
perjalanan wisata di Jalan Jaksa.

Menurut Yuni, wisman menyukai makanan khas Betawi yang dijaja di
Pesta Jalan Jaksa. Minat mereka membeli suvenir khas Indonesia cukup
besar. Hal ini diakui Imron dan Toto yang menjual kaos-kaos produk
Bandung dengan harga rata-rata Rp 10.000. “Bule-bule suka dengan kaos
produk kami. Ada yang datang sampai tiga kali, membeli kaos rancangan
kami,” kata Tito (27) tersenyum. Selain harganya relatif murah (tak lebih
5 dollar AS), produknya pun cukup baik. Bagaimana dengan penginapan atau
pondokan lainnya di Jalan Jaksa. Hotel Tator sebelumnya berupa pondok
direnovasi pada tahun 1989, dan kini memiliki 22 kamar, masih memasang
tarif terjangkau, antara Rp 27.500 dan Rp 55.000. “Setiap bulan Juli
sampai September, kamar hotel kami banyak pengunjungnya. Tahun ini
banyak turis dari Paris,” kata Nurman, petugas Hotel Tator.

Djody Hostel yang memiliki 27 kamar, sering dikunjungi wisman asal
Eropa. Penginapan ini memasang harga antara Rp 15.000 dan Rp 35.000,
tergantung jumlah tempat tidur. “Okupansi memang naik selama
high-season ini,” kata Muldiana dari Djody Hostel.
Perjuangan para pemilik pondokan di Jalan Jaksa menjadikan kawasan
itu daerah wisata tidaklah mudah. “Dulu kami menunggu turis di Bandara
Kemayoran, menawarkan agar wisman menginap di Jalan Jaksa,” kisah Boy
Lawalata.

Ia menambahkan banyak orang yang melihat kondisi Jalan Jaksa hanya
pada masa kini, di mana nama Jalan Jaksa sudah populer di mancanegara
karena ciri khasnya, penginapan yang murah. “Orang tidak melihat, pada
awalnya, kami para pemilik youth hostel (pondok pemuda) harus bekerja
keras memperkenalkan daerah Jalan Jaksa,” lanjutnya.

Jadi? Jalan Jaksa harus tetap dipertahankan apa adanya seperti
sekarang ini, meski pemilik modal terus melirik dan mengincarnya.
Kalau hotel-hotel bertingkat menjamur di sini, apa bedanya dari
kawasan lain seperti Jl Wahid Hasyim atau tempat lainnya? Lagi pula
satu-satunya perkampungan Betawi yang masih bertahan di tengah kota
adalah di kawasan ini. Mudah-mudahan ciri khas Jalan Jaksa sebagai
daerah wisata dengan penginapan yang murah, tak akan pernah punah.
(adhi ksp)

Teks Foto:
Kompas/ksp
GUBERNUR DAN PENARI BETAWI-Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja
berdialog dengan para penari tarian Kembang Ampreng seusai acara pembukaan
Pesta Jalan Jaksa, hari Rabu (31/7) sore lalu.
PESTA JALAN JAKSA menitikberatkan kesenian Betawi. Pengunjung dapat
menyaksikan ragam seni budaya Betawi, dari ondel-ondel, gambang kromong
asli, lenong, gambang kromong wanita, marawis, musik gambus, rebana biang,
rebana ketimpring, keroncong Betawi, Samrah, pantomim, aneka tari Betawi,
tanjidor, pencak silat, lawak, topeng Betawi, lenong dines sampai pada
baca cerita Betawi. Pengunjung juga dapat menikmati kerak telor, makanan
tradisional Betawi.
PESTA JALAN JAKSA yang berlangsung tanggal 31 Juli-4 Agustus ini merupakan
penyelenggaraan ketiga. Penyelenggaraan pertama berlangsung pada 5-7
Agustus 1994. Tahun kedua diselenggarakan pada 3-6 Agustus 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s