KOMPAS
Minggu, 14 Jul 1996
Halaman: 4
Penulis: ADHI KSP

SEMBILAN DARI SEPULUH ORANG SINGAPURA,
MILIKI FLAT SENDIRI

NYONYA Maryati binti Husein (41) merasa senang tinggal di rumah
susun (flat) di kawasan Clementi. Bersama suaminya, Syamsuddin bin
Achmad (50) yang bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran, Maryati
membesarkan ketiga anak-anaknya di flat seluas 78 meter persegi itu.

“Kami tidak mau pindah lagi. Kami sudah senang tinggal di sini,”
kata Maryati yang ditemui di flatnya hari Selasa (9/7) lalu. Dengan
gaji suaminya sebesar 1.000 dollar Singapura (Rp 1,7 juta) sebulan,
Maryati kini merasa hidup cukup sejahtera.

Pertama kali tinggal di flat di kawasan Clementi, harga flat di
sana sekitar 15.000 dollar Singapura (sekitar Rp 25,5 juta). Keluarga
Syamsuddin dan Maryati tentu saja tidak membayar tunai, karena mereka
tak mungkin mampu membayar sekaligus. Tanpa mencicil, harga flat
sebesar itu pasti tak akan terjangkau oleh penghasilan suaminya, yang
bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Setiap bulan gaji suaminya
dipotong 20 persen, yang secara otomatis untuk cicilan pembayaran
flat.

“Sekarang cicilan itu sudah lunas, dan flat ini sudah menjadi
milik sendiri. Kalau mau dijual lagi, harganya mencapai 180.000 dollar
Singapura (Rp 306 juta),” kata Maryati. Hak guna bangunan itu berlaku
99 tahun, cukup untuk diwariskan pada anak dan cucunya kelak.

Flat seluas 78 meter persegi itu meliputi dua kamar tidur, satu
kamar tamu, dapur, dan kamar mandi. Dengan penataan interior yang
rapi, flat itu pun menjadi sangat nyaman untuk ditempati. Di ruang
tamu, ada sofa dan televisi ukuran 28 inci yang dilengkapi dengan
laser disc, serta satu set peralatan komputer. Di dinding, ada hiasan
kaligrafi dan lukisan.

Ketiga putrinya tidur di satu kamar seluas 4 m x 5 m. Pada siang
hari, tempat tidurnya berubah menjadi sofa sehingga ruangan kelihatan
lebih luas. “Kami memang menggunakan tempat tidur seperti itu agar
kamar ini mudah diatur,” kata Dewi (18).

Dapur dan ruangan makan cukup luas, dengan lantai keramik yang
mengkilap. “Kami menambah ruangan ini secara bertahap sesuai dengan
kemampuan. Waktu masuk flat ini tahun 1978, lantai memang belum
keramik dan mebel belum lengkap,” kata Ny Maryati.
Keluarga itu sekarang menggunakan kompor gas, listrik dan air.

Setiap bulan, mereka harus mengeluarkan biaya sekitar 80 dollar
Singapura (sekitar Rp 136.000) untuk membayar tiga rekening penggunaan
utilitas itu. Sedangkan untuk penggunaan telepon, rata-rata harus
membayar 40 dollar Singapura (Rp 68.000).

Untuk berbelanja, Ny Maryati tak perlu pergi jauh-jauh karena di
dekat flatnya sudah dibangun supermarket dan rumah makan. Kalau mau
berolahraga, di sana ada taman kota untuk jogging. Juga dibangun
sekolah-sekolah untuk penghuni flat.

Bahkan di kawasan flat lainnya seperti di kawasan Tampines,
disediakan stadion olahraga untuk sepak bola, juga ada kolam renang
dan lapangan tenis. Penghuni flat di Singapura tak perlu jauh-jauh ke
pusat kota untuk melakukan aktivitas lain selain bekerja karena di
dekat flatnya sudah disediakan berbagai fasilitas umum dan fasilitas
sosial.

Penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum pada setiap
kompleks perumahan di Singapura memang sudah menjadi suatu keharusan,
untuk mengurangi mobilitas warga Singapura. “Kebijakan seperti ini
memang membuat kami lebih nyaman,” kata Teo Eng Lian (43) yang bekerja
di surat kabar berbahasa Mandarin Lianhe Zaobao yang terbit di
Singapura.

Teo Eng Lian tinggal di flat eksekutif di kawasan Tampines,
bersama istri, dua orang anak dan ibunya yang sudah lanjut usia.
Dengan penghasilan sebesar 3.000 dollar Singapura (Rp 5,1 juta) per
bulan ditambah dengan penghasilan istrinya yang juga bekerja sebesar
2.000 dollar Singapura (Rp 3,4 juta), Teo Eng Lian mampu membeli flat
yang lebih mahal, seluas 151 meter persegi. Flat itu memiliki tiga
kamar tidur, dapur, kamar tamu, kamar mandi, serta gudang. “Didandani”
dengan interior yang cantik yang mengesankan, jadilah tempat tinggal
mereka nyaman untuk dihuni. Kesan mewah cukup terasa ketika memasuki
flat mereka.

Sama dengan keluarga Maryati dan Syamsuddin yang tinggal di flat
di kawasan Clementi, keluarga Teo Eng Lian membeli flat itu dengan
cara mencicil selama 25 tahun, dipotong dari penghasilannya setiap
bulan. Harga flat eksekutif di kawasan Tampines itu 221.000 dollar
Singapura (sekitar Rp 375 juta). Setelah membayar uang muka 10 persen
dari harga jual, keluarga Teo bisa tinggal di flat yang cukup mewah
itu. “Kami tinggal di sini sejak dua tahun yang lalu,” kata Teo yang
dijumpai di flatnya hari Kamis (11/7) lalu.
***

PEMBANGUNAN flat di Singapura dilaksanakan sepenuhnya oleh
pemerintah karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah menyediakan
permukiman bagi rakyatnya. Dengan lahan kota-negara yang terbatas
(data tahun 1995 mencatat, luas Singapura tercatat 648 kilometer
persegi), Pemerintah Singapura -dalam hal ini Dewan Pegembangan dan
Perumahan (the Housing and Development Board, HDB)- membangun
perumahan bagi rakyat dalam bentuk flat.

Menurut Tay Boon Sun, humas HDB di kantornya di kawasan Jalan
Bukit Merah, sekitar 86 persen orang Singapura tinggal di flat yang
dibangun pemerintah. Jumlah penduduk Singapura sampai akhir tahun 1995
tercatat 2.987.000 jiwa. Sembilan dari 10 orang Singapura memiliki
flat sendiri, sebagian besar dimiliki dengan cara mencicil.

Sampai awal tahun 1996 ini, sudah 633.399 unit flat yang dibangun
untuk memenuhi kebutuhan perumahan warga Singapura. Tipe flat yang
dibangun untuk dimiliki dengan sistem potong gaji itu, bervariasi
antara satu kamar hingga lima kamar dan eksekutif. Rinciannya, flat
satu kamar sebanyak 1.156 unit, dua kamar (5.608 unit), tiga kamar
(230.302 unit), empat kamar (235.344 unit), lima kamar (111.618 unit)
dan kamar eksekutif (49.371 unit).

Sedangkan tipe flat yang dibangun untuk disewakan tercatat 66.614
unit, dengan rincian tipe satu kamar (24.774 unit), dua kamar (29.557
unit), tiga kamar (10.783 unit), empat kamar (1.454 unit) dan lima
kamar (56 unit).

Pemerintah Singapura menetapkan 20 persen gaji pekerja warga
Singapura otomatis dipotong untuk membayar cicilan flat. “Pemerintah
memberi subsidi perumahan bagi pekerja yang penghasilannya tidak lebih
dari 8.000 dollar Singapura (Rp 13,6 juta) per bulan. Mereka yang
mempunyai gaji lebih dari 8.000 dollar Singapura, tidak memperoleh
subsidi pemerintah untuk memiliki flat,” kata Tay Boon Sun. Subsidi
pemerintah kepada pembeli flat besarnya antara lima sampai sepuluh
persen dari harga flat.

Menurut Bonn Sun, yang bisa membeli flat dari HDB hanyalah warga
negara Singapura, usianya di atas 21 tahun dan sudah berkeluarga,
mengisi formulir, penghasilan per bulan tidak lebih dari 8.000 dollar
Singapura, dan belum memiliki rumah atau flat. Di Singapura, orang tak
boleh memiliki lebih dari satu rumah/flat.

Sedangkan mereka yang menetap permanen di Singapura maupun warga
Singapura sendiri diperbolehkan membeli flat melalui penjualan di
pasar terbuka, dengan syarat-syarat yang sama. Kini HDB tidak lagi
membangun flat tipe satu kamar dan dua kamar. Yang dijual kini
flat-flat dengan tipe tiga kamar (69 meter persegi), tipe empat kamar
(100 m2), tipe lima kamar (120 m2) dan tipe eksekutif (140 m2).

Untuk membeli flat di Singapura, orang harus menunggu, setidaknya
harus antre sampai dua-tiga tahun dulu, tidak bisa langsung
menempatinya. Setelah flat dibangun oleh HDB, pengelolaannya
diserahkan kepada town council (dewan kota) yang anggotanya terdiri
dari orang-orang terpilih. Semua permasalahan dan keluhan yang ada,
ditangani oleh dewan kota. Pemeliharaan fasilitas umum dan fasilitas
sosial menjadi tanggung jawab setiap penghuni flat.

Setiap tahun HDB membangun sekitar 30.000 unit flat dengan
berbagai tipe, kecuali tipe satu kamar dan dua kamar. “Kami tidak
membangun banyak flat karena lebih mengutamakan kualitas. Kami
membangun flat yang representatif dan berkualitas,” kata Tay Boon Sun.

Karena itulah sekarang HDB tidak lagi membangun flat tipe-tipe kecil,
karena untuk memanusiawikan penghuni yang tinggal di flat itu.
Pembangunan lebih diprioritaskan pada flat dengan tipe besar.

Flat-flat tipe satu kamar hingga tiga kamar, memang banyak
dibangun sampai tahun 1993 lalu. Namun sejak tahun 1995, HDB hanya
membangun flat tipe empat kamar, lima kamar dan tipe eksekutif. Dalam
satu tahun terakhir ini saja, sudah 26.185 unit flat tipe besar yang
dibangun HDB. Untuk flat tipe empat kamar misalnya, dibangun sebanyak
12.441 unit, tipe lima kamar 10.489 unit dan tipe eksekutif 3.255
unit. Hal ini wajar saja karena kebutuhan masyarakat Singapura makin
besar. Jumlah anggota keluarga pun kini makin banyak. Penghuni flat
yang sebelumnya keluarga muda, kini sudah dilengkapi dengan anak-anak
yang tumbuh jadi remaja.

Bagaimana dengan Jakarta? Sulit memang untuk membandingkannnya
dengan Singapura. Di Jakarta, pembangunan rumah susun yang dilakukan
pemerintah, lebih banyak diperuntukkan bagi masyarakat golongan
menengah ke bawah, sebagian korban penggusuran. Tipe yang dibangun pun
masih ukuran kecil, tipe 18 dan 21. Tak jarang, dalam satu unit rumah
susun tipe 21 di kawasan Tanah Tinggi Jakarta Pusat, jumlah
penghuninya sampai 10 orang sehingga mengesankan tidak manusiawi.

Rumah susun untuk kelompok menengah dan menengah ke atas (yang
sering disebut apartemen dan kondominium), lebih banyak dibangun untuk
pihak swasta, harganya pun relatif lebih mahal. Luas lahan di Kota
Jakarta (650 kilometer persegi) kurang lebih sama dengan Singapura,
namun jumlah penduduk Jakarta tiga kali lipat dari jumlah penduduk
Singapura. Pemerintah DKI Jakarta setiap saat selalu berpesan cepat
atau lambat warga Jakarta harus mau tinggal di rumah susun.

Kalau saja rumah susun di Jakarta, sama nyamannya dengan rumah
susun di Singapura, tanpa disuruh-suruh pun, orang akan dengan senang
hati tinggal di sana. Nyaman dan manusiawi. Sayangnya, rumah susun
yang nyaman (baca kondominium) di Jakarta hanya mampu dibeli oleh
masyarakat golongan menengah ke atas.

Memang sulit untuk membanding-bandingkan Singapura dengan Jakarta.
Sebab pendapatan per kapita penduduk Singapura (awal 1996) tercatat
28.820 dollar Singapura (Rp 48.994.000), sedangkan pendapatan per
kapita penduduk Jakarta baru 3.900 dollar AS (Rp 8,5 juta). Sebuah
perbedaan yang mencolok, hampir enam kali lipat. Penghasilan rata-rata
penduduk Singapura kini tercatat 2.086 dollar Singapura (Rp
3.546.200).

Agaknya, dibutuhkan waktu yang panjang dan juga kemauan politik
yang kuat, untuk bisa membangun rumah-rumah susun yang nyaman dan
manusiawi di Jakarta, yang bisa dihuni semua golongan dan lapisan
masyarakat. (adhi ksp, dari Singapura)

Foto:
RUMAH SUSUN DI PASIR RIS – Inilah salah satu bentuk rumah susun (flat) yang
dibangun HDB (the Housing and Development Board) di kawasan Pasir Rid.
Pemerintah Singapura tidak hanya membangun flat yang layak, tapi juga menata
bantaran sungai didekatnya sehingga sedap dipandang mata, dan menjadi
lingkungan yang nyaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s