Arsip Tag: Rumah Panjang

Rumah Betang, Jantung Kehidupan Masyarakat Dayak

KOMPAS
Rabu, 04 Feb 1998
Halaman: 19
Penulis: Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa

RUMAH BETANG, JANTUNG KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK

DI mana kita mencari dan menemukan rumah panjang atau Rumah Betang
masyarakat Dayak? Datanglah ke Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.

Di sana, masih terdapat sedikitnya 80 rumah panjang yang dihuni
masyarakat Dayak yang tinggal di pedalaman. Empat di antaranya malah
dijadikan cagar budaya, mengingat usianya mencapai lebih dari 100 tahun.
Salah satunya, rumah panjang (268 x 18 x 8 m) di Sungai Ulu, Kecamatan
Embaloh Hilir, sekitar 720 km dari kota Pontianak. Beberapa bagian rumah
panjang itu, seperti tiang dan tangga utama, sudah berusia lebih dari 500
tahun!

Bukan hanya rumah panjang yang usianya lebih satu abad, tapi di
Kabupaten Kapuas Hulu juga ditemukan rumah panjang yang baru dibangun di Desa Kakurak Pangaudulang di Kecamatan Badau, di perbatasan Kalbar-Sarawak (Malaysia Timur).

Sedangkan di wilayah lainnya di Kalbar, banyak rumah panjang tinggal
kenangan, dan tergantikan dengan rumah tunggal. Di Kabupaten Pontianak
misalnya, rumah panjang yang masih tersisa satu-satunya terdapat di Desa
Saham, Kecamatan Sengah Temila, sekitar 200 km dari kota Pontianak. Rumah panjang yang usianya lebih dari 300 tahun dan ditetapkan sebagai cagar budaya ini sudah dihuni masyarakat Dayak Kanayatn enam generasi.

Dewasa ini masyarakat Dayak yang masih tetap mempertahankan rumah
panjang adalah masyarakat Dayak Iban yang lebih banyak tinggal di
Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di kawasan perbatasan Kalbar-Sarawak.
Menurut Ketua Umum Majelis Adat Dayak Kalbar Jacobus Frans Layang
BA SH, rumah panjang masih dianggap sebagai pusat kegiatan kebudayaan
masyarakat Dayak. Di rumah panjang, masyarakat melakukan berbagai aktivitas seperti menenun, memahat, mengukir, menari, dan yang paling utama melaksanakan upacara adat.

Bagi masyarakat Dayak Iban, upacara adat harus tetap dilaksanakan
di rumah panjang. Misalnya, upacara Gawai Kenyalang, pesta syukuran
atas panen padi yang merupakan gawai terbesar dalam masyarakat Dayak
Iban. Gawai ini diadakan tiga hari-tiga malam, bahkan tujuh hari-tujuh
malam di rumah panjang, yang melibatkan semua warga rumah panjang.

Upacara adat lainnya yang harus dilaksanakan di rumah panjang adalah
Pupu Kenyalang, upacara pemberian sumbangan atau derma sebagai bentuk
persembahan kepada dewa-dewa melalui kenyalang. Patung burung enggang
acapkali menjadi perantara dewa-dewa. “Ini salah satu contoh mengapa rumah panjang tetap dipertahankan, terutama oleh masyarakat Dayak Iban,” kata
Jacobus yang juga Bupati Kabupaten Kapuas Hulu.

Pentingnya mempertahankan rumah panjang, karena di sanalah masyarakat
Dayak dapat melestarikan keterampilan kerajinan anyaman, tenunan, pahatan
dan sebagainya. “Selain itu, tinggal di rumah panjang bermanfaat untuk
memelihara rasa kekeluargaan,” ungkap Jacobus, putra kelahiran Kapuas Hulu.
Ia menilai krisis budaya yang dihadapi masyarakat Dayak yang tidak
lagi tinggal di rumah panjang, sangat terasa. Banyak yang hilang, termasuk
pelestarian seni tari dan seni suara. Rumah panjang diyakini efektif
menjadi sarana pertemuan latihan kesenian.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, rumah panjang masih banyak ditemukan,
setidaknya di delapan kecamatan. Yaitu di Kedamin, Putussibau, Embaloh
Hilir, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, Empanang dan Puring Kencana.

Empat rumah panjang di Kabupaten Kapuas Hulu yang dijadikan cagar
budaya, yaitu di Desa Melapi Satu di Kecamatan Kedamin (terakhir dipugar
50 tahun silam), di Desa Sungai Ulu, Kecamatan Embaloh Hulu (usianya
mencapai 100 tahun), di Desa Apalin, Kecamatan Embaloh Hilir, dan Desa
Bukung di Embaloh Hulu.

Kritik yang dilontarkan seringkali karena masyarakat rumah panjang
kurang memperhatikan kesehatan lingkungan dan keselamatan bahaya kebakaran.
Diakui Jacobus, penyakit menular cepat sekali berjangkit di rumah panjang. Namun kini masyarakat sudah mulai memahami pentingnya sanitasi lingkungan.

Memang, sebelum tahun 1945, hewan dan manusia menyatu tinggal di rumah
panjang. Namun di rumah-rumah panjang yang baru dibangun seperti di Kecamatan Empanang dan Kecamatan Puring Kencana, masyarakat tidak lagi membiarkan binatang peliharaan seperti ayam dan anjing berkeliaran masuk ke dalam bilik, tetapi di kandangkan di luar. Di dua kecamatan itu, malah rumah panjang dibangun dengan batako dan keramik. Air bersih pun dialirkan melalui pipa. Ini dinilai suatu kemajuan dalam pembangunan rumah panjang.
***

PERUBAHAN mencolok yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Dayak
yang tinggal di rumah panjang antara lain dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Bakupak Lateang (67), salah seorang pemuka adat atau dalam bahasa
setempat disebut temenggung yang tinggal di rumah panjang di Sungai Ulu,
sekitar 42 km dari kota Putussibau, “Sebelum tahun 1960-an, kalau salah
seorang penghuni rumah panjang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya,
perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. Namun kini warga makin memahami nilai ekonomi, sehingga hasil buruan dijual ke sesama penghuni rumah panjang.”

Perubahan lainnya, sesuai perkembangan zaman tentunya, adalah
penggunaan pakaian. “Dulu penghuni rumah panjang hanya menggunakan cawat, sekarang sudah mengenakan celana,” ujarnya. Selain itu pada masa lalu, wanita-wanita melubangi telinganya dan memiliki telinga panjang. Kini
pemandangan seperti itu jarang ditemukan lagi pada wanita muda, kecuali
menyaksikan sisa-sisa, wanita tua dengan telinga panjang yang menggendong
sang cucu.

Yang memprihatikan Ketua Umum Majelis Adat Dayak Kalbar Jacobus
Frans Layang adalah banyaknya anak muda dari suku Dayak yang tidak
lagi memahami budaya Dayak. “Karena mereka tidak lagi tinggal di rumah
panjang, dan merantau tinggal di kota, pemahaman mereka terhadap budaya
Dayak makin hilang. Terus terang, banyak anak muda Dayak yang tidak bisa
menampilkan kesenian dan kebudayaan Dayak,” ungkapnya.

Perempuan-perempuan Dayak misalnya, tidak lagi mengerti cara menenun
dan menganyam. Para pemudanya tidak lagi mengerti seni pahat maupun cara enempa besi dan membuat mandau.

Kerisauan tentang hal yang satu ini, diatasi Jacobus selaku Bupati
Kapuas Hulu dengan cara mengikutsertakan anak-anak muda dalam kompetisi membuat ornamen gerbang kota. Pembuatan ornamen dengan berbagai motif ini mas
ih dilakukan individu-individu yang dikoordinir Dekranasda (Dewan
Kerajinan Nasional Daerah). Sedangkan untuk menghidupkan seni budaya
Dayak, Jacobus selaku tokoh adat Dayak mengajak Dewan Adat dan berbagai
sanggar seni-budaya menggalakkan berbagai acara seni-budaya.

Harapan rumah panjang tetap menjadi pusat kebudayaan masyarakat Dayak
memang terus digaungkan. Di rumah panjang di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Pontianak misalnya, seni pahat masih dilakukan oleh salah seorang penghuninya yang membuat perisai dengan ornamen khas Dayak.
Dibandingkan dengan jumlah 34 KK (sekitar 500 jiwa) yang menghuni rumah panjang itu, jumlahnya memang sangat kecil.

Di rumah panjang di Sungai Ulu, Embaloh Hilir, Kapuas Hulu, kegiatan
seni-budaya juga masih ada, namun frekuensinya tidak sering seperti dulu.
Bekupak Lateang, pemuka adat di sana masih menyimpan seperangkat gong, yang hanya dikeluarkan pada saat atraksi upacara adat. Namun ia mengakui anak-anak muda yang tinggal di rumah panjang kurang mendalami seni-budaya Dayak. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Kebanyakan anak muda merantau ke kota. Ketika kembali ke rumah panjang,
mereka tak lagi mengenal seni-budaya Dayak. Pergeseran nilai ini merisaukan
kami,” kata Bekupak Lateang.

Dalam sebuah tulisannya di majalah Kalimantan Review, seorang
intelektual Dayak, Stephanus Djuweng yang sempat menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah panjang di Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten
Ketapang menuturkan, dalam kehidupan sehari-hari, bagian terbuka rumah
panjang merupakan tempat para pemuda Dayak belajar kepada tetua mereka.


Di situlah sejarah lisan, tradisi dan filsafat hidup dengan berbagai
kebijaksanaan tradisional dan pengetahuan asli manusia Dayak yang terkandung sejumlah cerita rakyat dan kisah-kisah kepiawaian nenek-moyang diturunkan kepada generasi berikutnya.

Di sana pula para putri Dayak belajar menganyam dan menenun bersama-
sama di rumah panjang. Di rumah panjang pula, acara-acara ritual
dilaksanakan, pengadilan adat yang demokratis digelar, persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dirundingkan, dan keputusan bersama ditaati setiap
orang. “Singkatnya, rumah panjang adalah pusat segala aktivitas sosial,
budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Dayak. Ia adalah jantung kehidupan
suku Dayak,” demikian Djuweng.

Karenanya, gerakan pembongkaran rumah panjang sekitar dua dekade silam,
menurut Djuweng, telah menghancurkan jantung kebudayaan itu. Satu-dua
dekade setelah kemerdekaan, pendapat umum dengan negatif mengecam kehidupan di rumah panjang. Pola hidup di rumah panjang disebut kolot, tidak sehat dan rawan kebakaran.

Mgr Drs Hieronymus Bumbun OFM Cap, putra Dayak Muawalang yang juga
Uskup Agung Pontianak berpendapat, sebenarnya untuk mencapai modernisasi dan pola hidup sehat/higienis, yang dilakukan bukannya dengan penyuluhan
agar masyarakat membongkar rumah panjang. Tetapi dengan menciptakan pola hidup higienis yang sesuai dengan tatanan sosial budaya masyarakat rumah panjang.


“Pembongkaran rumah-rumah panjang berdampak negatif terhadap pola
hidup masyarakat di pedalaman. Sebab perumahan pola tempat tinggal suku
Dayak dari rumah panjang ke rumah tunggal, mendorong berkembangnya sikap individualistis,” kata Bumbun.

Rumah panjang terbukti memudahkan setiap warga masyarakatnya mengenal
satu sama lain secara lebih terbuka dan dekat. Adanya kesamaan bentuk
tempat tinggal dari setiap keluarga pada rumah panjang, selain akan
menumbuhkan sikap pergaulan yang harmonis dan kehidupan kolektif sesama
warga, juga untuk mengurangi dan mengatasi kecemburuan sosial yang merugikan kehidupan kolektif.

Ini berarti peran dan fungsi rumah panjang dalam membina dan mepertahankan kelangsungan hidup nilai-nilai budaya tradisional, merupakan
modal dasar pembangunan bangsa yang patut diperhitungkan. Jacobus F Layang berpendapat, kurang mendasar jika perencana pembangunan menilai permukiman ru
mah panjang kurang relevan dengan pelaksanaan pembangunan dewasa ini.

Perumus kebijakan pembangunan hendaknya sungguh-sungguh memahami pola pikir dan adat-istiadat masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan.
Pelestarian rumah-rumah panjang, bahkan pembangunan baru rumah panjang, merupakan upaya mempertahankan rumah panjang dari kepunahan. Tidak sekadar menjadi obyek wisata turis, tapi juga betul-betul menjadi pusat dan jantung kehidupan masyarakat Dayak.

(Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa)

ilustrasi foto di blog ini diambil dari
http://www.bp-reiseberichte.de/reiseberichte/malaysia/01malax34.htm