Arsip Tag: R Abdullah Suryobroto

Akhir Pelukis Flamboyan Basoeki Abdullah

KOMPAS

Sabtu, 06 Nov 1993

Halaman: 16

Penulis: ARY/TJO/POM/KSP/HRD


AKHIR PELUKIS FLAMBOYAN BASOEKI ABDULLAH

PAMERAN terakhir R Basoeki Abdullah RA (27 Januari 1915 – 5
November 1993) di Niaga Tower Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, 18
Oktober-24 Oktober 1993 lalu, sesungguhnya tetap menarik. Meskipun
di beberapa obyek lukisan, kemerosotan kualitas anatomi pada lukisan
manusia, dan obyek alam mulai terbayang.

Goresan lengan pada sebuah lukisan nude, atau cekalan tangan
petani yang tengah membajak dan melecutkan cambuk, dan debur
gelombang samudra, seperti tidak tuntas diterjuninya. Lebih tepat,
seolah tak terjangkau, meski secara keseluruhan ke-70 lukisan yang
dipamerkan memiliki kesamaan suasana, yakni kemolekan. Kemolekan dan
pulasan yang mengubah obyek-obyek lukisannya menjadi selalu enak
dipandang itulah yang selama puluhan tahun diterjuninya.

Tetapi, akhir hidupnya ternyata seperti kebalikan dari yang
selama ini menjadi obsesinya. Seniman yang mengawini Nataya
Nareerat (48), kontestan Miss Thailand itu, tewas secara mengenaskan
dengan luka pukulan di kepala bagian belakang dan wajahnya.

Jumat siang kemarin, ketika sejumlah pelayat telah meninggalkan
tempat, dan peti jenazah almarhum sempat dibuka beberapa waktu untuk
memasangkan baret hitam, ciri khas almarhum, Nayata seperti
merasakan kembali kehilangan yang mendalam itu. Nataya tampak
histeris dan terbata-bata berkata, “I wanna kiss him, I wanna kiss
him,”
jeritnya. “Daddy, I love you so much, I love you so much.
You’ve done so much, Daddy
,” kata Nataya.

Satu hal yang kemudian terkuak pula, justru dalam pameran
terakhirnya yang diresmikan Ibu Tien Soeharto itu, Basoeki mengalami
kekecewaan. Ia merasa amat masygul oleh sedikitnya publikasi media
massa dan kunjungan penonton.

“Pameran saya kok jauh dari rakyat ya,” kata Basoeki Abdullah
sebagaimana ditirukan Mochtar Wijaya, pelukis yang akhir-akhir ini
rapat bergaul dengan Basoeki. Pak Bas, juga bertanya-tanya kenapa
tidak ada wartawan yang menulis pamerannya.

Selama pameran, beberapa kali pelukis flamboyan itu dipergoki
termangu-mangu sendirian, di sebuah ruangan di belakang ruang
pameran. “Bapak memang agak kecewa,” tutur Watie, sekretarisnya
sambil terisak.

Di tengah-tengah pamerannya yang bertema Alam Semesta yang
Indah almarhum sampai meminta wawancara khusus dengan sebuah koran
pusat. Agaknya – sebagaimana diungkapkan Mochtar Wijaya yang selalu
mendampingi Basoeki selama pameran – ada semacam perasaan
kesendirian dan keinginan untuk selalu berada di tengah
masyarakatnya.
***

BASOEKI Abdullah, adalah tokoh besar terakhir dari tiga raksasa
senilukis Indonesia yang meninggal dunia, setelah sebelumnya rekan
sekaligus “musuhnya” pelukis realisme sosial S Soedjojono meninggal
tahun 1986, kemudian disusul Affandi tahun 1991.

Kalau boleh dibuat garis persamaan, setidaknya ada dua
persamaan yang berlaku pada ketiga pelukis. Pak Djon beristri dua
kali, sedang Affandi dan Basoeki Abdullah sama-sama memiliki dua
istri. Yang mencolok pula, ketiganya bukan hanya pakar dalam melukis
nude. Taraf mereka barangkali telah sampai pada pasca nude, karena
di balik sebagian lukisan mereka yang panas itu, mereka sesungguhnya
mampu menguak secara mendasar berbagai perangai manusia dan
persoalan-persoalan bangsa.

Dilahirkan dengan nama Raden Basoeki Abdullah, 78 tahun lalu di
Solo, Jateng seniman yang akrab dengan berbagai kepala negara/raja
dari berbagai bangsa itu pernah belajar seni di Royal Academy of
Fine Art, The Hagues, Gravenshage, dan Free Academy of Fine Arts,
Roma, Paris. Selama 15 tahun menetap di Thailand dan menjadi pelukis
istana, ia mempersunting Nataya Nareerat. Ketika itu Nataya adalah
gadis peserta kontes Miss Thailand, sedang Basoeki menjadi juri
kontes kecantikan itu.

Greta Luntungan (58), mantan sekretaris pribadi Basoeki yang
dihubungi pembantu Kompas di Thailand semalam mengungkapkan, Basoeki
adalah seorang penganut agama Katholik yang taat, dan selalu melihat
benda dan manusia dari segi keindahan dan kecantikannya. “Pak Bas
adalah pelukis yang amat dekat dengan Raja Thailand Bhumibol dan
Ratu Sirikit. Pak Bas malah memiliki kantor sendiri di istana, dan
bahkan sering mengajar Raja melukis,” kata Gretta Luntungan.

Kesan glamour yang tampak dari penampilan dan kehidupan sehari-
hari pelukis yang suka makan di luar dan sering menjamu tamu-tamunya
dengan selera makanan yang tinggi-tinggi, barangkali bisa
membelokkan penilaian umum.

Malahan, sampai saat terakhir pamerannya pun, ia tetap tampil
perlente. Ia mengenakan kalung emas berbentuk bintang berjuntai-
juntai, setelan ikat pinggang dengan timang berukir yang bagus. Ia
juga memasang emblim ukiran Hanoman – tokoh pewayangan yang selalu
dimainkannya di masa muda sebagai penari Jawa -, di baret hitamnya
yang tak pernah lepas. Kegemaran, sekaligus keanehan lain seniman
yang amat mudah berubah perangainya itu adalah kesukaannya membawa
mainan tikus-tikusan dari plastik.

Tikus yang dikantunginya itu, sering digunakannya untuk
mengejutkan dan menakut-nakuti tamu, atau rekannya.
Barangkali karena penampilannya yang menawan sejak muda itulah
yang sering membuat wanita jatuh cinta pada Basoeki. Mochtar Wijaya,
rekannya menyebut Pak Bas bahkan memiliki sekitar 50 wanita yang
siap menjadi model lukisannya. “Saya sendiri masih memakai mereka
sebagai model, tetapi mereka itu hanya untuk memancing inspirasi
saja, karena lukisan-lukisan saya tidak selalu menggambarkan wajah
mereka secara langsung,” kata Basoeki Abdullah di sela-sela
pamerannya Oktober 1993 lalu.

Meskipun hidupnya sebagai pelukis harus dikatakan sangat
berhasil dari segi finansial dibanding banyak seniman lain -
demikian pula jika dibandingkan dengan Affandi dan S Soedjojono -
sebagai pelukis, ia sesungguhnya bersahabat dengan berbagai kalangan
dan kelas sosial. Kalau toh ia melukis petani dengan bajak, atau
dengan gendongan jerami, ia tidak berpura-pura miskin dengan
memindahkan kemiskinan di atas kanvas.

Yang dia lihat barangkali tetap unsur manusia yang memiliki
keindahannya sendiri. Kepeduliannya pada masalah orang lain, sering
dia wujudkan dalam sumbangan uang ke berbagai pihak seperti potongan
20 persen dari total pendapatannya sekitar Rp 800 juta, hasil
penjualan 13 lukisannya di Niaga Tower sebulan lalu.

Sebagian besar keinginannya, mungkin telah dicapainya. Namun
beberapa sebetulnya juga belum terlaksana. Misalnya keinginannya
membuat monumen berupa patung bagi almarhum kakeknya, pahlawan
pergerakan nasional, Dr Wahidin Sudiro Husodo, di Mlati, Sleman
Yogyakarta. Juga keinginannya mendirikan Museum Dinasti Abdullah di
Bogor. Sebab sebelumnya telah terpikir oleh Basoeki untuk mengadakan
pameran dinasti Abdullah, mulai dari karya-karya Abdullah Surio
Subroto (ayah), Basoeki Abdullah, dan Sujono Abdullah, dan Trijoto
Abdullah, dua saudara kandungnya.

Anak kedua dari pelukis R Abdullah Suryosubroto, dan cucu
pahlawan Kebangkitan Nasional Dr Wahidin Sudiro Husodo ini, memiliki
4 istri.
***

ITULAH dia Basoeki Abdullah. Dia adalah seniman yang
sebenarnya. Pentas ekspresinya bukan hanya kanvas, tetapi juga
penampilan kesehariannya yang glamour itu.

Di balik “panggung hidup”-nya, dia adalah manusia yang lembut,
bisa bersahabat, bahkan dengan tokoh yang selalu diasosiasikan pers
sebagai “musuhnya”, yakni almarhum Soedjojono. Dari kalangan yang
sangat dekat dengan kedua keluarga itu, ternyatalah bahwa keduanya
sebenarnya bersahabat. Salah seorang cucu Soedjojono, kadang
menginap di kediaman Basoeki.
Kini, panggung seni rupa kian sepi. Tokoh-tokoh dengan karakter
kuat seperti itu telah berlalu satu persatu. (ary/tjo/pom/ksp/hrd)

FOTO: 1
NYAI RORO KIDUL – Basoeki Abdullah dan salah satu karyanya yang
sering ditiru pelukis lain, Nyai Roro Kidul.

FOTO di blog ini lukisan cat kanvas karya Basoeki Abdullah “Balinese Beauty”, terjual di Christie Singapura 6 Oktober 1996, dikutip dari http://www.artnet.com/Artists/LotDetailPage.aspx?lot_id=98BF557291C4B9A3