Tag Archives: Kalimantan Barat

Kerusuhan di Sambas: 51 Orang Tewas, 1.000 Rumah Dibakar

Pengantar
Meliput konflik etnis di Sambas menjadi pengalaman jurnalistik saya yang tak pernah dapat saya lupakan. Di sini, saya menyaksikan langsung tragedi kemanusiaan, yang tidak boleh terulang lagi. Di mana-mana, kepala manusia. Di mana-mana rumah musnah dibakar. Tiba-tiba saya merasa bukan hidup di abad ke-21. Pada hari itu, saya dihubungi CNN dan BBC -entah dari mana mereka tahu nomor ponsel saya, dan diminta melukiskan situasi di Sambas waktu. Kini tahun 2007, kalau saya disuruh menceritakan rincian liputan delapan tahun silam ini, saya masih ingat dan ingat. Sungguh, tak bisa saya lupakan begitu saja. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 19 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP

KERUSUHAN DI SAMBAS
51 Orang Tewas, 1.000 Rumah Dibakar
Sambas, Kompas
Kerusuhan di Kabupaten Sambas (Kalbar), Kamis (18/3), makin
meluas, dan kini mengimbas wilayah Kecamatan Samalantan dan
Sanggauledo. Sebelumnya kerusuhan menimpa kecamatan di kawasan
pesisir, seperti Pemangkat, Selakau, Tebas, Sambas, dan Jawai.
Sedikitnya 1.000 rumah dibakar massa, sedangkan jumlah korban tewas
mencapai 51 orang dalam kerusuhan empat hari terakhir ini.

Dari korban sebanyak itu, 33 orang tewas hari Kamis. Korban
tersebar di Kecamatan Samalantan, Sanggauledo, Sambas, Selakau, Jawai,
Tebas, dan Pemangkat. Dengan demikian, sejak kerusuhan meledak 22
Februari lalu jumlah korban tewas seluruhnya tercatat 68 orang.

Menurut polisi, korban tewas dalam kerusuhan di Sambas, Senin,
lima orang (masing-masing dua orang di Pemangkat dan di Tebas serta
satu orang di Jawai), kemudian hari berikutnya empat di Pemangkat,
hari Rabu sembilan orang (enam di Pemangkat dan tiga di Samalantan),
serta hari Kamis kemarin 33 orang.

Sebanyak 10 satuan setingkat peleton (SSP) TNI AD dan sembilan SSP
Polri dikerahkan untuk mengantisipasi meluasnya kerusuhan di Sambas.
Petugas memblokir batas kota Pemangkat dan Tebas agar kerusuhan tidak
meluas.

Tak digubris
Komandan Korem 121/ABW Kolonel (Inf) Encip Kadarusman dan Kapolda
Kalbar Kolonel (Pol) Chaerul Rasjid berada di Markas Polsek Pemangkat,
memantau situasi keamanan di wilayah pesisir Kalbar tersebut. Pangdam
VI Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hasyim dan Gubernur Kalbar Aspar
Aswin Kamis malam pukul 20.30 mengunjungi posko aparat keamanan di
Markas Polsek Pemangkat.

Perintah aparat keamanan agar massa tidak membawa senjata tajam
dan senjata api tidak digubris. Demikian pula ancaman tembak di tempat
tidak dihiraukan. Pada Rabu malam, massa memecahkan kaca kendaraan
dinas polisi yang hendak melakukan razia senjata tajam.

Menurut Kapolda Kalbar Kolonel (Pol) Chaerul Rasjid, pihaknya
berhasil merazia 95 senjata tajam dan lima senjata api. Baik Kapolda
Kolonel Chaerul Rasjid maupun Komandan Korem 121/ABW Kolonel E
Kadarusman mengimbau agar masyarakat tidak terbawa emosi. Sebab
tindakan anarkis tidak akan menyelesaikan masalah.

Masih lumpuh
Pengamatan Kompas antara Singkawang, Selakau, Sebangkau,
Pemangkat, hingga Tebas menunjukkan kegiatan ekonomi dan aktivitas di
kota-kota kecil itu masih lumpuh. Toko-toko masih banyak yang tutup.
Lalu lintas antara Pemangkat dan Tebas terganggu karena diblokade
polisi dan tentara. Kendaraan umum masih ada yang berani lewat, tetapi
penumpangnya diperiksa satu per satu. Kendaraan lain disuruh kembali
memutar lewat Singkawang.

Massa mengenakan ikat kepala kuning dengan membawa senjata tajam
serta senjata api terlihat berkumpul di jalan. Sebagian di antaranya
masih terus melakukan pembakaran rumah-rumah. Kepulan asap dan kobaran
api terlihat jelas di Pemangkat dan Tebas.

Sebanyak 2.351 warga pendatang dari daerah tertentu yang bermukim
di Kecamatan Pemangkat, Tebas, dan Jawai sudah diungsikan dengan kapal
patroli polisi perairan Polda Kalbar, dengan rincian 360 orang di
kantor Pemda Sambas di Singkawang, 800 orang di Desa Pasirpanjang di
Kecamatan Tujuhbelas (17 km dari kota Singkawang), dan 1.191 orang di
markas Batalyon Infantri 641 Beruang Hitam Singkawang.

Sekitar 1.000 orang lagi dari Kecamatan Jawai diungsikan ke
Pontianak dengan kapal perintis dan kapal patroli polisi perairan
Polda Kalbar. Sebagian juga diungsikan dengan truk-truk tentara dan
polisi, serta dengan mobil ambulans. Rumah mereka rata-rata sudah
hangus dibakar.

Persoalan sepele
Kerusuhan di Kabupaten Sambas meledak sejak hampir sebulan yang
lalu, tepatnya 22 Februari. Persoalannya sepele, waktu itu penumpang
seorang penumpang bus tak mau membayar ongkos. Karena, dipelototi
kernet bus, penumpang itu marah dan kemudian membacok kernet tersebut.
Sejak itu, kerusuhan di Sambas meluas hingga empat kecamatan (Tebas,
Pemangkat, Jawai, dan Sambas), dan kini menjadi enam kecamatan
(ditambah Samalantan dan Sanggauledo).

Meluasnya kerusuhan dan aksi pembakaran hingga ke Samalantan dan
Sanggauledo, karena pada hari Selasa lalu, 31 warga Kecamatan
Samalantan yang sedang pulang kerja dan naik mobil bak terbuka,
dicegat massa di Desa Perapakan, Pemangkat. Satu orang di antaranya
dibantai, dan selebihnya berhasil lolos. Sejak itulah, kerusuhan di
Sambas makin meluas ke daerah pedalaman.

Di sejumlah lokasi ditemukan jenazah yang tidak utuh. Misalnya di
depan pasar Desa Semparuk, Kecamatan Pemangkat ditemukan tiga jenazah.
Demikian pula di Desa Pusaka, seorang pria berusia 70 tahun ditemukan
tewas. Massa menyebut mereka sebagai “orang-orang kriminal yang
meresahkan warga setempat”.

Di Kecamatan Tebas, polisi menerima laporan penemuan lima jenazah
yang semuanya dalam kondisi tak utuh. Camat Tebas Samingan
menyebutkan, korban tewas di wilayahnya sebagian sudah dimakamkan
dalam satu lubang di kuburan dekat kantor kecamatan.
Sedangkan jumlah rumah yang dibakar massa mencapai lebih 1.000
unit. (ksp)

Sambas Rusuh Lagi, Empat Tewas, Empat Luka Berat

Pengantar
Sambas makin membara. Empat warga Desa Penjajap di Kecamatan Pemangkat dibunuh kelompok massa. (KSP)

KOMPAS
Selasa, 16 Mar 1999
Halaman: 9
Penulis: KSP

SAMBAS RUSUH LAGI, EMPAT TEWAS, EMPAT LUKA BERAT
Pemangkat, Kompas

Kabupaten Sambas di daerah pesisir Kalimantan Barat, rusuh
lagi. Ratusan orang menyerang sekelompok warga di Gang Nelayan, Desa
Penjajap, Kecamatan Pemangkat. Akibatnya, empat orang tewas dan empat
lainnya luka berat serta dua rumah dibakar.

Sumber Kompas di Kepolisian Resor (Polres) Sambas hari Senin
(15/3) menyebutkan, kerusuhan terjadi Minggu malam. Empat warga yang
diserang tewas seketika, yakni Sabdullah (32), Sapari (22), Muthalib
(30) dan Munilam (22), semuanya warga Pemangkat.

Walau diserang, mereka sempat melawan, sehingga tiga penyerang
terluka, yaitu Didi Wahyudi, Sarimat, dan Hamka. Namun seorang lagi
korban luka berat adalah warga yang diserang, Mahrani (70).

Sejauh ini belum ada yang ditahan. Sedang keempat jenazah
sudah dibawa keluarganya untuk dikebumikan. Sementara itu, situasi di
Kecamatan Tebas, Jawai dan Sambas, hingga Senin masih aman terkendali.

Korban tewas 16 orang
Dengan tewasnya empat orang itu, jumlah korban tewas dalam
kerusuhan di Kabupaten Sambas sejak hari 21 Februari sore, menjadi
16 orang dengan 81 rumah dibakar.

Kerusuhan meletus akibat masalah sepele. Seorang penumpang
bus, Rodi bin Muharap (22) tidak mau membayar ongkos bus. Kernet bus,
Bujang Lebik bin Idris memelototinya. Rodi tak terima, pulang
mengambil senjata tajam dan membacok Bujang. Sejak itulah, kerusuhan
menjalar sampai keempat kecamatan di Kabupaten Sambas. Tidak hanya
Kecamatan Tebas dan Pemangkat, tetapi juga Sambas dan Jawai, sehingga
ratusan orang terpaksa mengungsi. (ksp)

Dua Lagi Dibunuh di Sambas

Pengantar
Suasana normal di pesisir Kalbar tidak bertahan lama. Warga suku tertentu dibunuh lagi oleh kelompok massa. Pada awal Maret 1999, jumlah korban tewas menjadi 12 orang, dan rumah yang dibakar tercatat 65. Sambas makin membara. (KSP)

KOMPAS
Selasa, 02 Mar 1999
Halaman: 15
Penulis: KSP

DUA LAGI DIBUNUH DI SAMBAS
Pemangkat, Kompas

Situasi di pesisir Kalbar hari Senin (1/3) bergejolak lagi,
setelah dua hari mulai normal. Pukul 03.00 dini hari kemarin, dua
warga Desa Seburing, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, dibunuh
massa. Di desa yang sama, sebuah rumah dibakar.

Identitas dua jenazah itu, masing-masing Ny Punari binti Selayan
(55) mengalami luka tembak di kepala dan jari kanannya putus. Seorang
lagi, Badrun bin Tugiman (29) juga ditembak, kena di dadanya. Polisi
memperkirakan, senjata yang digunakan untuk menembak kedua korban
adalah senjata jenis lantak (rakitan sendiri).

Pihak Polres Sambas dan Brimob Polda Kalbar menuju lokasi,
mengambil dua jenazah tersebut. Badrun dan Ny Punari tak ada hubungan
keluarga. Sementara itu, sebuah rumah milik Ny Muryo binti Sarji di
Desa Seburing, Pemangkat, dibakar massa tetapi penghuninya selamat.

Dengan ditemukannya dua jenazah tersebut, jumlah korban tewas
dalam kerusuhan di Kabupaten Sambas menjadi 12 orang. rumah yang
dibakar massa menjadi 65 rumah, satu gudang, empat mobil dan tiga
motor. Lima rumah lainnya dirusak. Lebih dari 300 orang terpaksa
mengungsi.

Kerusuhan yang meletus sejak Senin pekan lalu itu, dipicu masalah
sepele sehari sebelumnya, ketika seorang penumpang angkutan umum tak
mau membayar ongkos, membacok kernetnya, Bujang Lebik bin Idris (30).
(Kompas, 23/2).


Sejak itu, massa melampiaskan kemarahannya dengan membakar rumah dan membunuh warga tertentu. Kerusuhan meluas hingga ke empat kecamatan, selain Tebas dan Pemangkat, juga Kecamatan Sambas dan Jawai. (ksp)

Pesisir Kalbar Mulai Normal

Pengantar
Pembakaran rumah secara sporadis masih terjadi, namun pesisir Kalbar mulai normal. Suasana masih mencekam.
(KSP)

KOMPAS
Senin, 01 Mar 1999
Halaman: 23
Penulis: KSP

PESISIR KALBAR MULAI NORMAL
Tebas, Kompas

Situasi di berbagai kota kecil di pesisir utara Kalimantan Barat,
seperti Pemangkat dan Tebas hari Minggu (28/2) mulai normal. Namun
sejumlah aksi pembakaran rumah masih saja terjadi secara sporadis.
Sabtu dini hari, dua rumah dan satu gudang padi di Desa Semparuk,
Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas dibakar massa.

Kota Singkawang pada Sabtu malam sempat tegang karena dikejutkan suara tembakan. Semua toko langsung tutup, karena mengira ada kerusuhan. Ternyata sekelompok preman yang mabuk berusaha berbuat onar di kota kecil itu. Namun polisi berhasil mengatasinya. Seorang pria yang diduga mabuk
dibawa ke markas Polres Sambas.

Hingga hari Minggu, kehidupan malam di Pemangkat berangsur normal.
Warung makanan sudah berani buka hingga tengah malam. Di pantai Sinam,
Tanjungbatu, Pemangkat, sejumlah warung tepi pantai sudah buka, meski
belum semuanya. Namun di beberapa tempat di sepanjang jalan
Singkawang-Selakau-Pemangkat-Tebas, massa masih berkumpul, melakukan
siskamling sambil membawa senjata.

Dua rumah yang dibakar massa berlokasi di Desa Semparuk Kuala,
Pemangkat pada pukul 02.50 Sabtu dini hari, masing-masing milik
Asmaun dan Selawi. Sedangkan Sabtu subuh pukul 05.30, sebuah gudang
padi milik Mat Asri di desa yang sama terbakar, namun dapat dipadamkan
petugas.

Kades diperiksa
Kepala Desa Pelimpaan, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas (Kalbar),
Muhammad Maksin, Sabtu pagi diperiksa Polres Sambas di Singkawang.
Selain itu, dua orang guru (pegawai negeri sipil), Jamhari dan Syahrial
juga diperiksa. Status ketiganya masih sebagai saksi kasus penghasutan.

Bupati Sambas Tarya Aryanto membenarkan aparatnya dipanggil polisi
sebagai saksi. “Memang benar mereka menyuruh tiga orang membawa massa
dari daerah lain, tetapi untuk mengamankan daerah mereka dari serangan
luar, bukan untuk melakukan penyerangan,” jelas Tarya. Ketiga orang
suruhan itu, Rachmat, Rabuan dan Harindi, warga Desa Pelimpaan.

Bupati Tarya juga mengoreksi keterangan polisi yang menyebutkan
Kepala Desa Sentebang sebagai provokator. “Yang dipanggil itu Kepala
Desa Pelimpaan, bukan Kades Sentebang. Itu pun belum tentu sebagai
provokator,” kata Tarya yang minta agar kesalahan itu dikoreksi.
Akibat salah sebut yang disiarkan media massa itu, keluarga Kades
Sentebang terpaksa diungsikan ke tempat yang aman.

Kadispen Polda Kalbar Kapten (Pol) Suhadi SW telah minta maaf
atas kesalahan tersebut. “Pada pemeriksaan awal terhadap dua jurumudi
kapal motor di Selakau, mereka mengaku disuruh Kades Sentebang,” jelas
Kadispen. Dari Rabuan dan Harindi, polisi menyita handy-talky dengan
frekuensi polisi, dua parang, panah dan senter.

Enggan kembali
Sementara itu sejumlah pengungsi yang sudah tiga hari di Mapolres
Sambas di Singkawang mengaku enggan kembali lagi ke kampung asal.
Ny Siti (32) warga Desa Mat Tangguk, Tebas mengaku semua isi rumahnya
ludes dibakar massa. “Saya tak mau lagi kembali ke sana,” kata Siti
yang mengaku sudah jadi orang Kalbar.

Demikian pula Ny Kusdah (38) warga Desa Tebas Lorong, Tebas. Ibu
hamil empat bulan yang sehari-hari menebas rumput untuk ternak sapinya
ini masih trauma dan tak mau memikirkan kejadian akhir-akhir ini.
Sebagian besar pengungsi mengaku hanya memiliki satu-satunya pakaian
yang melekat di badan.

Jumlah pengungsi di Mapolres Sambas di Singkawang kemarin
bertambah 10 orang, namun 41 lainnya pindah ke rumah sanak-keluarganya
di Singkawang, sehingga jumlah pengungsi di Mapolres 161 orang. Dari
jumlah itu, 51 di antaranya anak-anak dan balita.

Bupati Sambas Tarya Aryanto mengatakan sudah menyiapkan tempat
pengungsian khusus di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Tujuhbelas. “Kami
siap memindahkan pengungsi-pengungsi itu ke sana agar tidak merepotkan
pihak kepolisian di Mapolres Sambas di Singkawang,” kata Tarya. (ksp)

Kerusuhan di Sambas: Tiga Pekerja Dibunuh

Pengantar
Kerusuhan di Sambas makin meluas. Tiga pekerja kontraktor yang sedang mengerjakan pembangunan jalan desa, dibunuh kelompok massa bersenjata, sedangkan empat lainnya lari ke hutan dan bertahan hidup dengan makan apa saja di belantara itu. (KSP)

KOMPAS
Sabtu, 27 Feb 1999
Halaman: 15
Penulis: KSP

Kerusuhan di Sambas
TIGA PEKERJA DIBUNUH
Sambas, Kompas
Tiga dari tujuh pekerja lepas CV Mutiara yang awal pekan ini
dilaporkan hilang ketika terjadi kerusuhan di Sambas (Kalbar),
ditemukan selamat, sedangkan tiga lainnya tewas terbunuh dan satu lagi
masih dalam pencarian.

Nama-nama yang selamat adalah Suryandi (20) dan Matsuri alias
Alex (20), keduanya warga Desa Pasiran (Singkawang); serta Marhodi
(15) warga Desa Sungai Ruk, Kecamatan Sungairaya, Sambas. Mereka lolos
dari kepungan massa dan bersembunyi di hutan selama lima hari empat
malam. Sedangkan nama korban tewas berturut-turut, Mali, Mardi, dan
Marsuli. Satu lagi, Marnain masih dicari. Mali tewas terkena tembakan,
sedangkan Mardi dan Marsuli ditusuk tombak.

Jumat (26/2) petang mereka dibawa ke Markas Kepolisian Sektor
Tebas, dan diwawancarai Wakil Kepala Kepolisian Resor Sambas, Mayor
(Pol) Ermi Widyatno, dan Kepala Kepolisian Sektor Tebas Letda (Pol)
Aang Sudarman. Wajah mereka kuyu dan lelah. Pakaian mereka kotor dan
bau.

Mereka menuturkan, sejak tiga bulan lalu bersama teman-teman lain
sebanyak delapan orang mengerjakan jalan desa sepanjang 2,8 km di Desa
Sebebal, Kecamatan Tebas. Pada hari Minggu lalu, mereka bekerja
setengah hari sampai pukul 11.00. Sore harinya, mereka mendengar dari
orang kampung di Desa Sebebal, terjadi keributan di Tebas. Minggu
malam itu juga mereka sempat bertemu dengan Babinsa setempat dan ke
rumah Ketua RT di dekat camp.

Lari ke hutan
Hari Senin subuh, delapan orang ini disuruh lari ke hutan. “Kami
berjalan kaki masuk hutan. Di kampung Tamau, kami bertemu dengan
seorang lelaki tua yang sedang memancing. Kami bilang kami sedang
camping dan tersesat di hutan,” kisah Suryandi. Namun mereka sempat
bertemu dengan serombongan orang di kampung Tamau yang kemudian
mengejar mereka. “Kami lari lagi masuk hutan,” ungkap mereka. Salah
seorang dari mereka, bernama Zuhri, bisa meloloskan diri.

Hari Selasa, mereka berdelapan tiba di Kampung Fajar di atas
bukit. Namun di belakang mereka sudah muncul ratusan orang membawa
senjata tajam dan senjata api. “Mereka memaksa kami berdelapan untuk
membuka pakaian,” kisah Suryandi.

Ia melihat rekannya, Mali ditembak dan kena dada kiri. Madi
ditusuk dengan tombak, mengenai pinggang kiri. “Mali dan Madi langsung
tumbang. Kami terus lari dan dikejar ratusan orang,” katanya. Setengah
jam kemudian, Marsuli dibunuh dengan sadis oleh massa bersenjata.
Seorang lagi, Marnain belum diketahui nasibnya. Selama di hutan,
mereka makan apa saja yang ada dalam hutan untuk mempertahankan hidup.

Menjalar
Kerusuhan di Kabupaten Sambas yang sudah menjalar sampai ke empat
kecamatan, hingga kemarin sudah menewaskan 10 orang. Tiga di antaranya
adalah pekerja lepas kontraktor CV Manila, yang mengerjakan jalan di
Desa Sebebal, Tebas tersebut. Selain itu, 62 rumah dibakar massa, lima
rumah lainnya dirusak, empat mobil dan tiga motor dibakar. Jumat dini
hari, rumah Matali (35) di Dusun Ujungtimor, Desa Paritsetia,
Kecamatan Jawai, ludes dibakar massa.

Kerusuhan itu berawal dari masalah sepele (penumpang yang tak mau
membayar, membacok kernet angkutan umum Bujang Idris (Kompas, 23/2).
Hari Jumat di sepanjang jalan Singkawang-Pemangkat-Tebas-Sambas, pada
siang hari situasinya kelihatan secara umum sudah mulai normal. Namun
pada malam hari, misalnya di Kecamatan Sambas, penduduk yang tinggal
di rumah yang jauh dari jalan raya, selepas magrib beramai-ramai
berkumpul di rumah yang dekat jalan raya.

Paginya mereka pulang ke rumah masing-masing. Di Kota Tebas dan
Pemangkat, toko mulai buka setengah hari. Malam hari, massa masih
berkumpul untuk ronda malam. (ksp)

Situasi di Sambas Makin Mencemaskan

Pengantar
Suasana di Sambas makin mencemaskan. Aparat desa terlibat dalam konflik etnis di Tebas. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 26 Feb 1999
Halaman: 11
Penulis: KSP

SITUASI DI SAMBAS MAKIN MENCEMASKAN
Tebas, Kompas
JS, Kepala Desa Sentebang, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas
(Kalimantan Barat) Kamis (25/2) dini hari ditahan polisi. Ia disangka
ikut menggerakkan warganya untuk mengajak massa dari desa lain,
kemudian menghadapi kelompok tertentu. Ini berkaitan dengan kerusuhan
di Tebas hari Minggu (21/2) lalu (Kompas, 22/2).

Polisi sudah menahan enam tersangka provokator. Sampai sore
kemarin, pembakaran rumah meluas ke empat kecamatan. Tercatat 58 rumah
dan tujuh kendaraan bermotor dibakar massa, sedangkan jumlah korban
tewas menjadi tujuh orang. Situasi keamanan tampak makin mencemaskan.

Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Kolonel (Pol) Chaerul Rasjid di
Markas Kepolisian Sektor Tebas, Kamis dini hari menjelaskan,
keterlibatan oknum kades itu diketahui setelah petugas Polsek Selakau
(Pemangkat) mencurigai dua lelaki yang menunggu di perahu motor di
dermaga nelayan Selakau, Rabu malam.

Setelah diperiksa, ternyata dua pria itu disuruh JS membawa massa
dengan perahu motornya ke Sentebang di Kecamatan Jawai dari dermaga
Selakau. Namun sebelum massa yang sedang ditunggu itu tiba, polisi
sudah lebih dulu mencegahnya. Polisi pun menyita handy-talky (HT)
milik JS dan perahu motor.

Bupati Sambas, Tarya Aryanto, yang dikonfirmasi menegaskan, jika
ada aparatnya terlibat, kemungkinan akan dipecat.

Tujuh orang hilang
Wartawan Kompas yang mengikuti Kapolda Kalbar mengamati situasi
kota-kota kecil di pesisir utara Kalbar dari Selakau, Pemangkat dan
Tebas, Kamis dini hari masih menyaksikan adanya tiga rumah kosong di
tepi jalan di Desa Pusaka, Kecamatan Tebas dibakar. Api berkobar
menghanguskan rumah kayu milik Marjaman, Samsudi dan Rusdi.

Kemarin siang, dua rumah milik Samhedi dan Samuin di Desa Tebas
Kuala dibakar massa. Dua pikup KB-3870-CG dan KB-8070-AA juga ikut
dibakar. Pembakaran rumah kosong sejak kerusuhan meletus Senin lalu,
kini meluas hingga ke Kecamatan Jawai dan Kecamatan Sambas, tidak
hanya Kecamatan Tebas dan Pemangkat. Massa membakar rumah-rumah milik warga tertentu di kampung pedalaman, yang sebagian sudah ditinggalkan pemiliknya.

Hingga sore kemarin, jumlah korban tewas tujuh orang. Lima orang
diketahui identitasnya, yaitu Misno, Sarijo, Mukri, ketiganya dibunuh
Senin lalu. Muliman bin Muhali (28) ditemukan di Desa Senyawan (Tebas)
dalam kondisi tak utuh pada Rabu siang. Miskan ditemukan di Desa
Sebawi, Kecamatan Sambas dalam kondisi tak utuh Rabu malam. Dua
lainnya belum jelas identitasnya, juga tak utuh lagi.

Sementara itu, tujuh orang yang sedang mengerjakan pembuatan jalan
di Desa Sebebal, Kecamatan Tebas, hingga Kamis siang, dilaporkan
hilang oleh keluarganya. Zuhdi, rekan ketujuh orang itu dan berhasil
lolos mengatakan, kawan-kawannya ditodong sekelompok orang ketika
hendak menyelamatkan diri setelah rumah kontrakannya dibakar massa
Senin lalu. Tujuh orang yang hilang itu, Marsuli, Yandi, Marhudi,
Marnain, Madi, Mali dan Alex, warga Desa Pasiran Singkawang dan warga
Desa Sungai Ruk.

Untuk menampung para pengungsi yang terus mengalir ke kantor
Polres Sambas di Singkawang, Pemda Kabupaten Sambas mulai Kamis
membuat tempat penampungan sementara di Desa Pasirpanjang, dengan
kawalan ketat petugas keamanan. Sekitar 200 pengungsi warga Desa Tebas
Kuala masih mengungsi di Mapolres Singkawang. Sementara itu, 12 warga
mengungsi ke Mapolsek Tebas, minta perlindungan karena merasa tak
aman. (ksp)

Pengungsi Dipindahkan ke Sambas

Pengantar
Ratusan pengungsi yang sebelumnya berada di Mapolsek Tebas, dipindahkan ke Mapolres Sambas di Singkawang. Sementara jumlah rumah yang dibakar terus bertambah. (KSP)

KOMPAS
Kamis, 25 Feb 1999
Halaman: 11
Penulis: KSP

PENGUNGSI DIPINDAHKAN KE SAMBAS
Tebas, Kompas
Ratusan warga yang mengungsi di Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek)
Tebas, Kabupaten Sambas, hari Rabu (24/2) dipindahkan ke Markas
Kepolisian Resor (Mapolres) Sambas di Singkawang, Kalbar. Mereka
diangkut dengan dua truk polisi dan dikawal anggota Brimob. Kepindahan
itu untuk mencegah terulangnya penyerangan Mapolsek oleh massa pada
hari sebelumnya.

Sementara itu situasi kota Kecamatan Pemangkat dan Tebas,
berangsur-angsur normal. Angkutan umum mulai beroperasi dan jalan raya
yang menghubungkan Singkawang-Pemangkat-Tebas-Sambas mulai ramai.
Toko-toko di Selakau, Pemangkat dan Tebas juga mulai buka, meski belum
semuanya.

“Kalau tidak dipindahkan segera, massa tetap terpancing menyerang
Mapolsek ini. Saya sudah perintahkan semua anggota untuk tembak di
tempat kepada perusuh,” tandas Kapolda Kalbar Kolonel (Pol) Chaerul
Rasjid di Tebas, Rabu siang.

Jumlah pengungsi yang dipindahkan ke Sambas sebanyak 174 orang
terdiri dari 85 laki-laki dan 89 wanita. Rabu pukul 02.30 dini hari
kemarin, dua lagi rumah dibakar massa. Dua rumah kosong itu
ditinggalkan pemiliknya, yaitu di Desa Mekar Sekuntum dan Desa Pusaka.

Dua rumah lainnya dibakar massa di Desa Putingbeliung dan Desa
Senturang pada Selasa pukul 22.00. Semuanya di Kecamatan Tebas. Dengan
demikian jumlah rumah yang dibakar menjadi 42 rumah.

Sedangkan jumlah korban tewas lima orang, dua di antaranya tidak
utuh lagi. Dua yang disebut terakhir diserahkan warga ke Pos Polisi di
Desa Pangkalan Kongsi, dan belum jelas identitasnya. Hasil pemeriksaan
dokter, dua korban itu diperkirakan dibunuh pada hari pertama
kerusuhan.

Pengamatan Kompas dari Singkawang hingga ke Tebas pada Selasa
malam hingga Rabu dini hari, tampak warga berjaga-jaga dengan senjata,
melakukan ronda malam. Mereka mengaku mengantisipasi, kemungkinan
adanya serangan balasan sewaktu-waktu. (ksp)