Tag Archives: Kalimantan Barat

Juang Mandor, Kuburan Massal Korban Jepang

KOMPAS

Minggu, 15 Mar 1998

Halaman: 14

Penulis: KSP

JUANG MANDOR, KUBURAN MASSAL KORBAN JEPANG

TAK banyak yang mengetahui, di Desa Mandor -sekitar 88 km dari kota
Pontianak- terdapat kuburan massal ribuan korban keganasan penjajah
Jepang tahun 1942-1945. Kuburan massal yang dijadikan monumen Makam
Juang Mandor itu, terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan
Pontianak dengan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau.

Meski hanya kota kecamatan, Mandor memiliki arti penting dalam
sejarah Kalimantan Barat. Di sinilah Jepang membantai 21.037 rakyat
Kalbar, termasuk 48 pemuka masyarakat Kalbar. Setiap 28 Juni, Pemda
Kalbar mengadakan upacara di Makam Juang Mandor, mengenang peristiwa
getir ini.

Kekejaman penjajah Jepang waktu itu dapat disaksikan melalui
relief-relief pada monumen yang diresmikan pada 28 Juni 1977 silam
oleh Gubernur Kalbar (waktu itu) Kadarusno. Relief-relief yang dibuat
oleh mahasiswa ASRI Yogyakarta itu memberikan gambaran sekilas kekejaman serdadu Jepang.

Di Makam Juang Mandor terdapat 10 kuburan massal. Selain itu,
terdapat pula lapangan terbuka yang dulunya dijadikan lokasi pembunuhan
massal.Makam ini berada di kawasan hutan lindung yang suasananya cukup
menyeramkan.

Makam nomor 10 yang letaknya paling ujung, dihiasi gapura khusus.
Konon di sinilah dikuburkan Sultan Pontianak bersama 60 anggota keluarganya. Juga 11 panembahan, raja-raja kecil, serta tokoh masyarakat di Kalimantan Barat.

Antara lain bisa disebutkan di sini, Syarif Muhammad Alkadrie
(Sultan Pontianak, gugur pada usia 74 tahun), Pangeran Adipati (putra
Sultan Pontianak, 31), Gusti Saunan (Panembahan Ketapang, 44), Muhammad
Ibrahim (Sultan Sambas, 40), Tengku Idris (Panembahan Sukadana, 50),
Gusti Mesir (Penembangan Simpang, 43), Syarif Saleh (Penembahan Kubu,
63), Gusti Abdul Hamid (Penembahan Ngabang, 42), Ade Muhammad Arief
(Penembahan Sanggau, 40), Gusti Muhammad Kelip (Penembahan Sekadau, 41), Muhammad Taufiek (Penembahan Mempawah, 63), Raden Abdul Bahry Daru Perdana (Penembahan Sintang), dr Roebini (mertua Wiyogo Atmodarminto, 39, yang saat itu menjabat sebagai direktur rumah sakit Pontianak) dan istrinya Amelia, Tji Bun Kie (wartawan) dan banyak nama lainnya.

Pembantaian ribuan warga Kalbar terjadi karena pemerintah
pendudukan Jepang curiga pada gerak-gerik tokoh masyarakat Kalbar.
Mereka dinilai dapat mengganggu legitimasi pemerintah pendudukan Jepang.

Dalam relief-relief digambarkan prosesi penangkapan dan pembunuhan
korban. Setelah tentara Dai Nippon mengetahui rahasia yang disampaikan
utusan dari Banjarmasin ke Pontianak, dimulailah penangkapan besar-
besaran terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang dicurigai. Mereka dimasukkan
ke dalam truk, dan dibawa ke lokasi pembantaian (yang berada di kawasan
Mandor).

Relief itu juga menggambarkan bagaimana tentara Dai Nippon
menghabisi korban. Saat-saat pembantaian dilukiskan cukup detail. Para
korban antre berjajar menghadap lubang, lalu secara beruntun dipancung
dengan pedang samurai.

Pembantaian ini dikisahkan pula oleh Tsuno Iseki, orang Jepang yang
pernah tinggal di Kalbar pada 1928-1946 dan fasih berbahasa Indonesia,
dalam buku berjudul Peristiwa Pembantaian Penduduk Borneo Barat:

Pembuktian Peristiwa Pontianak yang terbit Juli 1987 di Jepang.
Taizo Watanabe ketika menjabat Duta Besar Jepang untuk Indonesia
pernah berkunjung ke Makam Juang Mandor ini. Sejarah gelap pendudukan
Jepang di Kalbar memang tak mungkin terlupakan.
***

RIBUAN mayat korban keganasan Jepang ini dibiarkan berserakan di
lokasi. Sampai Jepang bertekuk lutut, pasukan Australia mewakili Sekutu
masuk ke Mandor yang selama Jepang Berkuasa, merupakan daerah militer
terlarang.

Tentara Australia membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengumpulkan
tulang-belulang yang berserakan di sana, dan kemudian bersama penduduk
setempat, menguburnya dalam 10 lubang kuburan massal.

Pasukan Sekutu membangun kuburan massal Mandor selama tiga tahun
(1946-1949). Di setiap kuburan massal, dibuat bangunan kayu tak berdinding.
Setelah Sekutu meninggalkan Indonesia, kuburan massal di Mandor selama
18 tahun tak terawat. Mereka yang hendak berziarah, harus bersusah payah
melewati semak-belukar.

Tahun 1973, atas prakarsa Gubernur Kalbar (waktu itu) Kadarusno,
makam juang Mandor mulai diperhatikan lagi. Kadarusno memprakarsai
ziarah massal ke Mandor pada 28 Juni 1973. Semak belukar pun dibersihkan.

Tahun 1976, Pemda Kalbar memugar kawasan Mandor, dengan memugar
bangunan yang menaungi kuburan massal dan melebarkan jalan menuju lokasi
10 makam agar bisa dilalui kendaraan. Tahun 1977 Monumen Sejarah Makam
Juang Mandor diresmikan. Monumen berbentuk dinding beton berlapis marmer, dengan relief di kanan-kirinya itu dikerjakan para mahasiswa ASRI
Yogyakarta.

Menurut cerita Abdus Somad (62), penjaga makam, sebelumnya ia
diminta Kadarusno untuk menggali tanah di Mandor. “Ternyata setelah
digali, kami menemukan tulang-belulang manusia bertumpuk di dalam
tanah, termasuk yang berserakan di sekitar hutan,” kata Somad yang
hingga sekarang bekerja sebagai perawat makam.

Uniknya, kata pria kelahiran Ketapang (Kalbar) ini, ketika
melakukan penggalian di tengah hutan belantara dengan pepohonan yang
rimbun (yang kini dikenal dengan Makam No 10), ia menemukan dua
jenazah manusia yang masih utuh.

Yang satu, perempuan dalam keadaan tangan terikat ke depan,
rambut masih utuh, mata tertutup kain, mengenakan kebaya dan selendang.
Jenazah pria, mengenakan pakaian putih dan sepatu. Kaos kaki masih
tersimpan di dalam saku kiri celananya. “Namun begitu kena matahari,
jenazah itu langsung tinggal kerangka,” ungkapnya. Kedua kerangka itu
dipindahkan dan dimakamkan di dekat Monumen Makam Juang Mandor.
***

SAYANGNYA, Makam Juang Mandor belum menjadi obyek wisata sejarah
yang dikunjungi banyak wisatawan yang datang ke Kalbar.
Menurut penjaga makam Juang Mandor, Abdus Somad, pada hari biasa,
hanya ada satu-dua orang yang datang. Pada hari Minggu dan hari-hari
tertentu, makam ini dikunjungi masyarakat, termasuk kerabat dan
sanak-saudara korban keganasan Jepang yang berziarah.

Di sana, dibangun pendopo yang menggantungkan sejumlah foto korban
keganasan Jepang. Sayang, tidak dilengkapi dengan sejarah dan peranan
tokoh masyarakat bersangkutan sehingga pengunjung masih menyimpan
sejumlah pertanyaan yang tak terjawab.

Tampaknya pemda setempat sudah berupaya menjadikan Makam Juang Mandor sebagai obyek wisata sejarah. Hanya mungkin kurang dilengkapi dengan daya tarik lain. Misalnya kios yang menjual buku sejarah kekejaman Jepang di Mandor, suvenir-suvenir khas daerah setempat. Juga mungkin karena tak ada prasarana pendukung seperti rumah makan, atau pemandu yang dapat menjelaskan sejarah Mandor kepada turis-turis asing dan lokal.

Entah kurang promosi, entah kurang gencarnya biro perjalanan Kalbar menjual Makam Juang Mandor, sehingga kondisinya kini memprihatinkan dan terkesan kurang perawatan. (adhi ksp)

FOTO di blog ini diambil dari http://students.ukdw.ac.id/~22022860/makam%20juang%20mandor.htm

Petani Karet Ikut Menyumbang Devisa


KOMPAS

Senin, 02 Mar 1998

Halaman: 9

Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

PETANI KARET IKUT MENYUMBANG DEVISA

HAMPIR setiap pagi, Cicilia Dit (21) harus berjalan kaki sekitar
setengah jam, menempuh jarak dua kilometer dari rumah ke kebun karet
di Kampung Sanjan, Kecamatan Sanggau Kapuas, Kabupaten Sanggau,
Kalimantan Barat. Di sana, lulusan SMA itu membantu ayah dan ibunya
menoreh karet di kebun seluas satu hektar, selama kurang lebih lima
jam. Setelah itu ia menggembalakan empat ekor sapi.

KARET hingga kini masih menjadi salah satu primadona Kalimantan
Barat, selain kayu, dan nantinya kelapa sawit. Komoditas hasil hutan
dan pertanian ini menjadi komoditas ekspor utama Kalbar, yang tidak
memiliki ladang minyak sebagai penghasil devisa.

Dari 695,3 juta dollar AS nilai ekspor Kalbar pada tahun 1996, di
antaranya 33 persen diperoleh dari ekspor karet remah (crumb rubber)
atau sekitar 172,3 juta dollar AS. Untuk tahun 1997, kontribusi
ekspor karet Kalbar kurang lebih sama.

Tiga puluh persen penduduk Kalbar (yang berjumlah 3,6 juta jiwa)
mengandalkan hidup mereka dari tanaman karet, yang masih
dibudidayakan secara tradisional. Fakta ini menunjukkan, perkebunan
karet di Kalbar memberi dampak besar bagi perekonomian dan kehidupan
sosial masyarakat, juga bagi pembangunan pedesaan. Dari seluruh
perkebunanitu 97 persen merupakan perkebunan karet rakyat yang
dimiliki 218.081 KK dan menghidupi sekitar satu jiwa.

Luas perkebunan karet di Kalbar pada 1996 tercatat 449.526
hektar, mengalami pertambahan rata-rata 2,4 persen/ tahun. Komposisi
kebun karet tersebut, 124.028 hektar tanaman muda, 267.614 hektar
tanaman menghasilkan, dan 57.858 hektar tanaman tua atau rusak.
Perkebunan rakyat merupakan bagian terbesar seluas 431.858 hektar
(sekitar 97 persen) dari perkebunan karet Kalbar. Sedangkan milik PT
Perkebunan Nusantara (PTPN) 5.086 hektar (1,14 persen) dan milik
Perkebunan Besar Swasta (PBS) 7.482 hektar (1,68 persen).

Persoalannya, sebagian besar petani karet di Kalbar masih berada
di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal di pelosok desa di tengah
belantara. Pemda Kalbar, dalam hal ini Dinas Perkebunan, berupaya
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani karet melalui
berbagai upaya. Misalnya, meningkatkan produksi dan produktivitas,
efisiensi usaha, meningkatkan kemampuan manajerial dan kelembagaan,
serta memperbaiki pengolahan dan tata niaga.

Kenaikan harga karet saat ini, akibat depresiasi nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS, seharusnya dinikmati petani karet Kalbar.
Menurut Ketua Gapkindo (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) Kalbar
Leo Abam, harga karet pada awal Februari lalu mencapai 84 sen
dollar AS, dan diharapkan mencapai satu dollar AS per kg.

“Harga karet kini mencapai Rp 3.500-Rp 4.000/kg. Harga ini
dinilai tertinggi dalam sejarah karet Kalbar. Enam bulan lalu,
petani karet Kalbar masih memperoleh harga Rp 2.000 – Rp 2.400/kg,”
kata Leo Abam. Hasil karet ini dibeli enam eksportir-produsen
dengan harga dollar AS yang dipatok Rp 4.000 per satu dollar AS,
dan nilai kursnya disesuaikan.

Namun apakah petani karet ikut menikmati kenaikan harga tersebut?
Ternyata tidak semudah menghitung angka-angka seperti pada
matematika. Sebab petani karet masih berhubungan dengan pembeli
perantara (bisa tengkulak, bisa pula perusahaan seperti PTPN). Mereka
ini membeli karet dari petani dengan harga yang lebih rendah, dan
menikmati keuntungan yang relatif besar. Ini berarti, kenaikan harga
karet yang dibanggakan Gapkindo, tidak terlalu berpengaruh pada
petani karet.

Sejumlah petani karet di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten
Pontianak yang ditanya Kompaspertengahan Februari mengungkapkan,
memang ada kenaikan harga karet, namun hasil karet mereka masih
dibeli dengan harga Rp 2.500 hingga Rp 2.800/kg.

Menurut Leo Abam, hasil karet petani tidak seluruhnya jenis sit
angin 100 persen, yang harga per kilogramnya mencapai Rp 4.000.
“Kebanyakan hasil karet petani jenis sit angin 70 persen, yang
harganya Rp 3.100/kg,” jelas Leo. Ia tetap yakin petani karet
Kalbar menikmati tingginya harga karet sebagai akibat depresiasi
nilai rupiah.
***

BAHWA karet sejak lama menghidupi sebagian besar masyarakat
Kalbar, memang fakta yang tak terbantah. Karet bahkan pernah membuat
Kalbar salah satu daerah terkaya di Indonesia. “Jasa” karet bagi
masyarakat, dinilai cukup besar. Tak sedikit petani karet yang
berhasil menyekolahkan putra-putri mereka dari hasil karet.

Matius Aman (53) misalnya. Petani karet di Dusun Sanjan, Desa
Sungai Mawang, Kecamatan Sanggau Kapuas, Kabupaten Sanggau mengaku
mampu menyekolahkan dua putra-putrinya dari hasil menoreh karet.
Bersama istri dan tujuh anaknya, mereka menggantungkan hidup
dari karet.

Aman memiliki tiga hektar lahan karet, yang menghasilkan rata-
rata 21 kg/hari. Jika dalam satu bulan (yang dihitung 18 hari kerja)
dan harga karet Rp 2.500/kg, maka penghasilan keluarga Aman rata-rata
Rp 1 juta. Sebagian pendapatannya ditabung di KSP (koperasi simpan
pinjam) “Lantang Tipo” Pusatdamai, Parindu, Sanggau.

Kehadiran koperasi ini dinilai sangat membantu petani karet
seperti Aman. Uang muka biaya kuliah salah seorang putranya
dipinjamnya dari koperasi ini dengan menggadaikan sapinya. Kredit
dicicil dari hasil karetnya dan sapi yang digadaikan akhirnya
tetap menjadi miliknya.

Sementara masyarakat Kampung Nyandang yang mengandalkan hidup
dari karet, mengaku berhasil meningkatkan taraf hidup secara
bertahap. Rumah-rumah penduduk dari kayu dan papan, mulai diganti
dengan rumah semen. Warga mulai melengkapi rumah dengan parabola dan
pesawat televisi berwarna ukuran besar.

Namun, harus diakui, tak selamanya karet menyimpan kisah indah.
Masyarakat di Kampung Kelempu Taba, Tayan Hilir, Sanggau, yang
sebelumnya memiliki hektaran kebun karet, kini terpaksa menjadi
buruh lepas dan karyawan perkebunan karet PTPN XIII. Ini memang
salah satu kisah gelap karet Kalbar.

Ceritanya, “Pada tahun 1981, Pak Camat datang meminta kami
menyerahkan kebun karet, katanya sihuntuk negara. Tanah tidak diberi
ganti rugi. Hanya tanaman hidup yang tumbuh di atasnya seperti
tengkawang, cempedak, durian, dan karet yang diberi ganti rugi.
Kami memperoleh Rp 880.000 untuk semua tanaman hidup di atas
lahan 30 hektar tanah adat/ warisan,” ungkap Asung (58).

Harapan pemerintah agar masyarakat Kalbar yang mengandalkan
hidup dari karet mampu meningkatkan taraf hidupnya, sebagian memang
tercapai. Namun sebagian lagi masih harus dipertanyakan, akibat
penyimpangan kebijakan yang dilakukan oknum aparat. Masyarakat
yang seharusnya menikmati hasil karet, malah tetap miskin, malah
lebih miskin karena lahan karet miliknya lenyap. Ironisnya, mereka
harus menjadi buruh karet di atas lahan yang sebelumnya milik mereka.
***

HINGGA tahun 1988, Kalbar masih mengekspor komoditas karet dalam
bentuk konvensional yaitu sheetdan crumb rubber. Namun sejak 1989,
seluruh produk dilaporkan berbentuk crumb rubber sesuai Standard
Indonesian Rubber (SIR). Perubahan ini, menurut Kepala Dinas
Perkebunan Kalbar Ir Karsan Sukardi, telah meningkatkan penerimaan
nilai tambah yang diterima di daerah produksi. Juga sebagai dampak
positif dari hasil olah karet yang baik yang dihasilkan para petani.

Dari tahun 1992 sampai 1994, petani Kalbar dinyatakan sebagai
penghasil olah karet dengan mutu terbaik seluruh Indonesia. Hingga
tahun 1997, jumlah pabrik karet remah di Kalbar tercatat enam buah
dengan kapasitas lisensi 183.000 ton, sedangkan kapasitas terpasang
204.400 ton. Produksi enam pabrik karet ini 145.677 ton. Saat ini
sedang dalam proses pembangunan pabrik karet remah di Kabupaten
Sintang, yaitu milik PTPN XIII (kapasitas lisensi 12.000 ton)
dan PT Kirana Windu (kapasitas lisensi 30.000 ton).

Menurut Ir Karsan Sukardi, sesuai dengan komposisi umur tanaman
dan tingkat produktivitas setiap jenis/proyek, produksi karet Kalbar
akan meningkat terus hingga tahun 2003. Peningkatan produksi ini
terutama disebabkan oleh kebun-kebun yang dibangun pada kurun waktu
Pelita III, IV, dan V yang secara kultur teknik relatif lebih baik
dari kebun-kebun yang dibangun sebelumnya.

Untuk kebun-kebun yang dibangun melalui proyek, proyeksi
produksinya dihitung berdasarkan vintage model. Sedangkan
produksi kebun rakyat swadaya, produksinya dihitung berdasarkan
kecenderungan/pola produksi yang berlaku selama 25 tahun terakhir.
Dengan mengaplikasikan time series program, maka produksi kebun
rakyat swadaya dapat diproyeksikan.

Pada tahun 2003, produksi karet Kalbar diproyeksikan 189.522 ton
(dengan harga 900 dollar AS/ton) dengan nilai ekspor diperkirakan
170.569.438 dollar AS. Angka ini diperkirakan melampaui angka
proyeksi sebab pada tahun 1996 saja, nilai ekspor karet mencapai
172,3 juta dollar AS. Tahun 1997 nilai ekspor berkurang menjadi
144 juta dollar AS karena anjloknya harga karet di pasaran dunia.

Namun sejak awal tahun ini, seiring dengan meningkatnya harga
karet di pasaran dunia, diperkirakan nilai ekspor karet Kalbar
juga akan meningkat.

Ir Karsan melihat, di samping ekspor karet (SIR-20), Kalbar
sudah dan akan terus mengekspor barang jadi yang berasal dari kayu
karet. Perkiraan kandungan dan nilai kayu karet diharapkan akan
memberi sumbangan devisa yang cukup berarti. Diproyeksikan, pada
tahun 1998 nilai ekspor kayu karet Kalbar sejumlah 8.268.750
dollar AS, sedang pada tahun 2003 diperkirakan 11.151.000 dollar AS.

Meningkatnya penggunaan dan harga kayu karet diharapkan
menghasilkan banyak manfaat, seperti meningkatkan penghasilan dan
kesejahteraan petani, juga meningkatnya sumber dana peremajaan
karet dari sumbangan pengusaha pengolah kayu karet. Petani juga
diharapkan memelihara kebun dan menggunakan sistem sadap yang
lebih baik agar meningkatkan produksi kayu karet yang lebih baik.
***

DISADARI perkebunan karet rakyat (karet lokal) merupakan
tulang punggung perkaretan Kalbar. Keberhasilan karet terletak
pada kemampuan, daya nalar dan motivasi petani itu sendiri.

Sebagaimana yang direkam Kompasdari petani karet, salah satu
persoalan yang sering dihadapi petani dalam upaya peremajaan karet
yang menggunakan jenis unggul seperti disarankan Pemda adalah,
sekalipun getahnya bisa ditoreh setiap hari, namun ternyata mudah
terserang hama penyakit akar putih, yang menyebabkan banyak tanaman
karet layu, bahkan mati.

Sementara tanaman karet lokal yang selama ini berkembang secara
sporadis, meski dinilai kurang sesuai dengan tuntutan zaman, ternyata
jauh lebih tahan terhadap berbagai serangan hama penyakit. Bahkan
getahnya lebih kental bila dibanding karet jenis unggul.

Dalam pengembangan karet sebagai komoditas andalan Kalbar masa
mendatang, sebaiknya karet lokal pun jangan sampai dimatikan. Sistem
intensifikasi perlu diatur sebaik mungkin, disesuaikan dengan jarak
tanaman, perawatan dan pemupukan. Pengamatan Kompas, selama ini
sistem seperti itu jarang digunakan. Tanaman karet lokal terkesan
dibiarkan begitu saja tanpa ada pengaturan yang baik.

Dinas Perkebunan Kalbar sendiri berjanji meningkatkan kemampuan
petani melalui peningkatan pendapatan dari kebun karet serta
pemanfaatan lahan secara efisien, antara lain melalui penerapan
pertanian terpadu (mixed farming).

Pemda juga berjanji meningkatkan kemampuan dan keterampilan umum,
teknik pertanian, dan manajemen usaha tani secara seimbang. Dengan
berbagai upaya ini, diharapkan petani karet Kalbar yang selama ini
hidup di pelosok dan di tengah rimba, tetap dapat menyumbang devisa
negara, sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka. (Jannes EW/Adhi
Ksp)

FOTO di blog ini diambil dari http://www.kalbarnetwork.com/potensi/index.php

Memanjat "Kelong" di Tengah Laut

KOMPAS

Minggu, 15 Feb 1998

Halaman: 18

Penulis: ADHI KSP

MEMANJAT KELONG DI TENGAH LAUT

DESIRAN angin laut pada hari Minggu (28/12) malam lalu terasa
menusuk tulang. Jam menunjukkan pukul 20.30. Perahu motor nelayan
milik Isak (48) diparkir sekitar 15 meter dari bibir pantai di Teluk
Paku, Pulau Temajo, perairan Kabupaten Pontianak. Air laut memang
mulai menyurut sehingga batu-batu karang terlihat jelas.

Untuk mencapai perahu motor itu, calon penumpang harus
berbasah-basah dulu. Setidaknya, celana yang dikenakan sampai batas
paha, ikut basah kena deburan ombak. Aman S (60) pemilik vila membawa
senter besar, mengingatkan agar kaki tidak terantuk batu karang.
Suasana laut memang gelap gulita. Isak dan rekannya Usman menyalakan
mesin, kemudian mengemudikan perahu perlahan-lahan.

Di kejauhan tampak terang lampu dari bagan ikan (atau dalam bahasa
setempat disebut kelong). “Kita menuju kelong di sana. Kita akan
melihat bagaimana nelayan menangkap ikan dan sotong dengan jaring,”
kata Aman yang sejak kecil sudah terbiasa akrab dengan suasana laut.

Jumlah penumpang di perahu motor nelayan itu 10 orang.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, perahu motor mendekati kelong
yang terbuat dari batangan bambu yang diikat. “Semua penumpang diminta
naik, memanjat ke atas kelong,” kata Aman memberi instruksi. Dari
permukaan laut, tingginya sekitar lima meter. Satu per satu, penumpang
perahu motor memanjat. Kaki pun lincah naik hingga ke atas. Setibanya
di atas kelong, ada gubuk kecil beratap daun yang letaknya persis di
tengah.

“Dari tempat ini, kita bisa menyaksikan ikan dan sotong yang
diperoleh,” jelas Aman sambil menyorot senternya kesana-kemari. Lampu
di atas permukaan air laut berfungsi agar sotong atau cumi-cumi
mendekat. Sementara jaring berada di bawah permukaan laut.

Setelah menunggu beberapa saat, jaring pun mulai diangkat dengan
tali yang diputar-putar. Kelihatan ikan dan sotong menggelepar-gelepar
di atas jaring. Begitu jaring agak mendekat, Asdi, putra Pak Aman,
yang membawa jaring tangan, dengan sigap memindahkan hasil tangkapan
ke dalam keranjang.

Kegiatan itu dilakukan di atas kelong yang
tingginya sekitar lima meter di atas permukaan laut. “Lumayanlah,
dapat dua kilogram. Kalau mau menunggu sampai subuh, hasil yang
diperoleh bisa belasan bahkan puluhan kilogram,” jelas Geleng (40),
nelayan yang menjaga kelong.

Mereka yang menyaksikan penangkapan ikan dan sotong dari atas
kelong pun senang. Apalagi bagi yang baru pertama kali menyaksikan
nelayan menjaring ikan langsung dari kelong. Bukan hanya melihat
penangkapan, tapi juga ikut memanjat bambu yang dipasang di tengah
laut, di ketinggian lebih lima meter, tentunya pengalaman yang
mendebarkan. Bayangkan kalau tiba-tiba terjatuh dan tercebur di laut.

“Jangan khawatir. Kalau pun tercebur, di sini banyak orang yang siap
menolong,” kata Isak tersenyum, seolah menertawakan kami yang was-was
terjatuh.

Setelah berkeliling ke tiga kelong milik Pak Aman, perahu motor
pun kembali ke Teluk Paku. Karena air masih surut, perahu motor tak
bisa menepi dekat pantai. Penumpang pun harus berbasah-basah lagi.

Setelah itu, ikan dan sotong hasil tangkapan dicuci bersih,
langsung digoreng dan tentu saja disantap dengan nikmat. Ikan segar
digoreng, dicampur dengan bumbu kecap dan cabe rawit. Angin malam
berhembus sepoi-sepoi. Suasana malam pun makin ceria.
Mungkin menarik juga jika perjalanan ikut nelayan menangkap ikan
pada malam hari menjadi salah satu paket wisata Pulau Temajo. (adhi ksp)

Foto:
Kompas/ksp
DI ATAS “KELONG” – Dari atas kelong seperti inilah orang bisa
menyaksikan ikan dan sotong yang berhasil dijaring. Kelong atau gubuk
kecil ini, tingginya sekitar lima meter di atas permukaan laut,
terbuat dari batangan bambu yang diikat, atapnya dari daun.

FOTO di blog ini foto ilustrasi nelayan di tengah laut, namun lokasinya bukan di Pulau Temajo, Kalimantan Barat, tetapi di Cipanon, Tanjung Lesung, Banten. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS


Pulau Temajo, Keindahan yang Menunggu Sentuhan

KOMPAS

Minggu, 15 Feb 1998

Halaman: 18

Penulis: ADHI KSP


PULAU TEMAJO, KEINDAHAN YANG MENUNGGU SENTUHAN

KALIMANTAN Barat beruntung memiliki Pulau Temajo yang terletak di
perairan wilayah Kabupaten Pontianak. Dari muara Sungai Kunyit,
sekitar 86 km dari kota Pontianak, Pulau Temajo dapat ditempuh dengan
perahu motor dalam waktu sekitar 45 menit.

Pulau seluas 700 hektar ini sebagian besar masih berupa hutan
belantara. Namun sejak tahun 1989, sebagian kecil Pulau Temajo yang
merupakan tanah warisan, mulai digarap menjadi tempat peristirahatan
pribadi dengan dibangunnya sejumlah vila.

Aman S (60) penduduk kelahiran Sungai Kunyit yang memiliki tanah
warisan seluas delapan hektar dari kakeknya, Ali, merupakan pionir
yang mengupayakan Pulau Temajo sebagai tempat wisata alam. Secara
bertahap, Aman membangun vila atau rumah peristirahatan di tepi pantai
di kawasan Teluk Paku.

“Mula-mula kami membangun vila ini sebagai tempat peristirahatan
pribadi. Namun sejak tiga tahun terakhir, animo masyarakat Kalbar
cukup besar mendatangi pulau ini. Pada hari-hari libur, vila di sini
selalu penuh disewa,” ungkap Aman.

Padahal vila miliknya cuma tiga unit. Satu rumah memiliki dua
kamar, lengkap dengan dapur dan kamar mandi. Kapasitasnya enam orang.
Harga sewa per rumah Rp 100.000. Biaya ini sekadar untuk biaya listrik
dan kebersihan. “Mereka yang mau datang ke Pulau Temajo cukup membawa
beras dan sayur-sayuran. Mereka bisa masak di sini. Bahkan bisa
membeli ikan dan sotong (cumi-cumi) yang masih segar, dan langsung
memasaknya,” jelas Aman.

Antusiasme masyarakat menyewa vila di pulau itu begitu besar.
Seringkali terjadi mereka yang datang ke pulau, jumlahnya puluhan,
bahkan pernah lebih dari seratus orang. Alhasil, sebagian mereka yang
datang, khususnya laki-laki, terpaksa tidur beralas tikar di luar,
sambil mendengar deburan ombak dan merasakan desiran angin laut.
Perempuan dan anak-anak tidur di dalam rumah, tentunya harus
berdesak-desakan.

Pulau ini betul-betul masih perawan. Air laut di sekeliling pulau
ini masih jernih, belum terkena polusi. Udaranya pun segar. Pada
saat-saat tertentu, di sekitar perairan pulau ini terlihat lumba-lumba
berenang. Bahkan paus pun pernah terlihat di kawasan itu. Pada tahun
1991 lalu, seekor paus terdampar mati di tepi pantai. Bekas tengkorak
dan rahangnya kini dijadikan “monumen” di depan vila Aman.

Pulau ini memiliki lima teluk, salah satunya Teluk Paku. Meski
pantai di kawasan Teluk Paku tidak begitu panjang, namun pilihan
membangun vila di kawasan ini dengan berbagai pertimbangan. Di
antaranya karena Teluk Paku memiliki sumber mata air gunung yang tak
habis-habisnya. Pada musim kemarau pun, air gunung terus mengalir.

“Memang ada lokasi pantai yang panjangnya sekitar satu kilometer,
yaitu pantai Pasirpanjang. Namun di sana, tak ada sumber mata air
gunung sehingga belum ada yang mau membangun vila di kawasan pantai
Pasirpanjang,” ungkap Aman yang terlahir dari keluarga nelayan.
***

BESARNYA minat masyarakat mencari tempat peristirahatan bernuansa
pantai dan laut, memang dirasakan pemilik vila di Pulau Temajo. Bukan
hanya warga Indonesia yang menyewa vila, tapi banyak wisatawan
mancanegara yang sengaja mencari kesegaran laut. “Pernah ada
seorang WN Australia yang berniat membeli vila-vila kami berikut
tanahnya, namun kami tolak,” kisah Aman. Pemandangan alam yang indah
di Pulau Temajo, memang membuat wisatawan terkagum-kagum.

Sayangnya, Pulau Temajo masih digarap secara tradisional. Mereka
yang hendak ke pulau ini, harus berhenti di daerah Sungai Kunyit,
sekitar 86 km dari kota Pontianak. Setelah itu baru menyewa perahu
motor nelayan yang diparkir di dekat bawah jembatan di tepi jalan raya
Pontianak-Sambas. Perahu motor kemudian menyusuri anak sungai,
melintas di perkampungan nelayan kira-kira 700 meter, untuk menuju
muara.

Jika air surut di muara, perahu motor agak kesulitan melaju karena
terlalu banyak lumpur. Dengan bambu panjang, nelayan yang menyewakan
perahu berusaha sekuat tenaga mengayuh. Bahkan mereka terpaksa
menceburkan diri untuk mendorong perahu menuju laut.

Melihat potensi wisata yang besar, Pemda Tingkat II Kabupaten
Pontianak mulai berpikir mengembangkan Pulau Temajo lebih serius.
Bupati Pontianak Drs Henri Usman beberapa waktu lalu membawa sejumlah
pejabat dari instansinya.

“Memang ada rencana membangun jalan lingkar di pulau ini. Jalan
sepanjang 10 km dengan lebar tiga meter, nantinya dapat dilintasi
sepeda motor,” jelas Kahumas Pemda Kabupaten Pontianak Drs Jailani.
Selain itu, pemda setempat juga berencana membangun dermaga di
sekitar perkampungan nelayan Sungai Kunyit agar perahu motor tak usah
masuk ke anak sungai dan terpengaruh pasang-surutnya air.

Di samping itu, untuk mengantisipasi perkembangan wisata di masa
depan, dermaga dapat dijadikan tempat parkir speed-boat. Jika
menggunakan speed-boat, waktu tempuh dari Sungai Kunyit ke Pulau
Temajo sekitar 5-10 menit.

Kehadiran Pulau Temajo, memang menguntungkan nelayan Sungai
Kunyit. Kini mereka memperoleh penghasilan tambahan dari hasil sewa
perahu motor, terutama pada akhir pekan. Menurut nelayan Isak (48)
dalam satu bulan ia bisa memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp
400.000 dari hasil antar-jemput mereka yang datang ke Pulau Temajo.
“Jika ditambah dengan hasil melaut, penghasilan saya bisa sampai Rp 1
juta sebulan,” ungkap Isak bangga.

Seandainya pemda jadi membangun jalan lingkar, wisatawan lebih
mudah untuk mengelilingi pulau ini. Hutan belantara dengan tanjakan
gunung yang curam, sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata
alam seperti mendaki. Pemda dapat membangun jalan setapak di hutan
agar wisatawan dapat menikmati suasana hutan dengan aman dan nyaman.

Di puncak gunung, Pemda juga dapat membangun pondokan agar mereka yang mendaki (hiking) dapat beristirahat sejenak, untuk kemudian turun
menyusuri hutan lagi.

Kolam-kolam ikan di sana pun sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai
obyek wisata mancing. Mereka yang datang ke Pulau Temajo dapat
memancing ikan dan langsung menimbangnya, untuk kemudian membawa
pulang ikan-ikan hasil pancingan. Pemda juga dapat menambah jumlah
vila atau cottage di Pulau Temajo, karena sebagian besar tanah di sana
tanah negara.

Ini memang baru gagasan. Yang terpenting adalah perhatian serius
pemerintah untuk mewujudkan gagasan menjadi kenyataan. Jika pemda
membangun jalan lingkar di Pulau Temajo dan juga membangun dermaga di
kawasan Sungai Kunyit, setidaknya hal ini akan memancing investor
swasta menanamkan modalnya dalam sektor pariwisata di sana.

Pulau Temajo memang ibarat perawan cantik yang membutuhkan
sentuhan pemerintah dan swasta segera. Kasihan, kalau terlalu lama
ditelantarkan… (adhi ksp)

Foto:
Kompas/ksp
BUTUH SENTUHAN – Pulau Temajo yang cantik menunggu sentuhan, baik
sarana maupun prasarana. Alangkah nyamannya bila pengunjung tak
bersusah payah mencapai tempat ini dan bisa menikmati menginap di
sini dengan penginapan yang nyaman serta aman.

LINK TERKAIT http://www.kalbar.go.id/


Keramik Singkawang: Yang Tersisa dari Dinasti Ming

KOMPAS
Minggu, 22 Feb 1998
Halaman: 14
Penulis: JJ/KSP

Keramik Singkawang
YANG TERSISA DARI DINASTI MING

DALAM dunia keramik di Indonesia, keramik singkawang dari
Singkawang di Kalimantan Barat boleh dibilang unik dan langka.
Keunggulannya tampak pada motif-nya, antara lain kepala naga,
gulungan surat, burung hong dan kepala dewa. Bahkan pembakarannya
menggunakan tungku naga.

Keramik singkawang begitu diminati dan tersebar bukan hanya di
Kalbar, tapi juga beberapa kota besar lain di Indonesia, bahkan
hingga ke Kuching, Singapura, Taiwan, serta beberapa kota lain di
luar negeri.

Pembuatan keramik singkawang tidak lepas dari kehadiran masyarakat
keturunan Cina yang mulai memasuki Kalimantan Barat sejak 1750.
Awalnya, mereka hanya sebagai pekerja tambang emas yang tersebar
pada beberapa lokasi di Kabupaten Sambas.

Namun aktivitas yang digeluti masyarakat Cina itu dibubarkan
menyusul kedatangan Belanda. Akibatnya, sebagian mereka menjadi petani
dan beberapa di antaranya mengembangkan usaha kerajinan keramik
bernama Bong Fo On Dinamis yang dikoordinir Bong Fo On mulai 1932.
Usaha ini terletak di Shakok yang kebanyakan masyarakatnya keturunan
Cina suku Ke, sekitar dua kilometer arah selatan kota Singkawang, ibu
kota Kabupaten Sambas. Motif yang digunakan, bercorak Dinasti Ming.

Kondisi tanah di Shakok dan Saliung dinilai memiliki kandungan
kaolin yang sama dengan tanah di Chengku (Sichuan), Guiyang (Guizoung)
dan Hangzou (Zhejiang) yang merupakan beberapa tempat pembuatan
keramik di Cina. Selain mudah dibentuk menjadi berbagai macam barang
keramik, jenis tanah itu juga tahan bila dibakar.

“Kondisi tanah kaolin di sini dinilai cocok untuk pengembangan
usaha keramik. Selain itu, kebutuhan guci, tempayan, piring, mangkok
serta perabot rumah tangga lainnya cukup tinggi,” kata Lie Fung Khau
(34), cucu Bong Fo On, yang kini meneruskan usaha itu.

Setelah perusahaan keramik Dinamis, kini di Shakok berkembang
perusahaan serupa yaitu Tajau Mas, Trimurni, Semangat Baru, dan
Sinar Terang yang mulai dikembangkan tahun 1982.

BILA keramik di daerah lain di Indonesia merupakan warisan
kebudayaan lokal, dan mungkin lahir sebagai akibat interaksi antara
masyarakat dengan kebudayaan, keramik singkawang sebenarnya lebih
pantas disebut proses alih teknologi dari tradisi yang berkembang
di Cina sejak berabad-abad lalu.

Kenyataan ini paling mencolok terutama di perusahaan keramik
Dinamis. Ini tampak pada motif maupun tempat pembakarannya. Jika
tungku keramik lain berbentuk persegi empat atau bulat, maka tungku
bakar keramik Dinamis letaknya memanjang dengan penampang berbentuk
setengah lingkaran. Bagian depan lebih kecil berbentuk kepala naga,
kemudian terus membesar hingga bagian belakang.

Berada di dalam tungku itu seperti di sebuah terowongan atau gua,
karena memiliki panjang 25 meter dan tinggi 1,5 meter. Letak tungku
yang terbuat dari batu bata itu seperti sebuah punggung bukit, sebab
posisinya agak menanjak.

Posisi seperti itu dimaksudkan agar panas api yang berasal dari
kepala tungku bagian bawah dapat membakar dengan sempurna keramik
mentah yang ada dalam rongga badan tungku itu.

Pembakaran dengan kayu karet dimulai dari bagian kepala yang
berbentuk kubah. Kayu bakar dimasukkan melalui lubang api yang ada
pada bagian bawah serta kiri dan kanan tungku yang telah berusia 65
tahun itu. Menurut mereka, kayu karet menghasilkan temperatur yang
stabil, sekitar 1.000 derajat celsius sejak awal pembakaran hingga
selesai, bahkan langsung menjadi abu.

Pada awal pembakaran, pembakar terus memperhatikan perkembangan
bara api melalui cerobong yang ada di bagian kepala tungku. Apakah
masih berwarna kuning atau tidak. Bila warna api berubah jadi putih,
seluruh lubang ditutup dengan tanah liat.

Pembakaran dinilai berhasil, pada stadium terakhir akan keluar api
berwarna kebiru-biruan dari cerobong. Selepas itu dibiarkan selama
12-20 jam untuk pendinginan, karena pembakaran keramik bukan terletak
pada cara pembakarannya tapi ba-gaimana menjaga suhu agar tetap stabil
sehingga tidak terjadi keretakan pada keramik. Lama waktu pembakaran
selama kurang lebih tiga hari.

Kelebihan lain juga terlihat pada pemberian warna keramik yang
lebih menggunakan bahan-bahan alami untuk mewarnai. Misalnya untuk
warna putih kekuning-kuningan, digunakan kulit kerang laut yang
dibakar, lalu ditumbuk, dan dioleskan pada keramik. Untuk warna
kehijauan, digunakan ilalang yang dibakar, abunya dicampur tanah.
Sedangkan untuk warna merah, digunakan tanah liat berwarna merah
dan cokelat.

“Keindahan warna keramik amat tergantung pada seberapa kental
campuran bahan-bahannya,” kata Alan seraya mengelak untuk menjelaskan
bobot kekentalan yang cocok.
***

SEBELUM membakar terlebih dahulu dilakukan upacara ritual. Setelah
semua keramik dan kayu dimasukkan ke dalam tungku, pimpinan perusahaan
melakukan upacara ritual. Lalu menyulut kayu, diikuti pekerja pada
beberapa lubang lainnya.

Prinsip mempertahankan tradisi itu tampak pula pada pembagian
tugas dalam pembuatan keramik. Dari pimpinan hingga mereka yang
bertugas sebagai perancang, pembuat, pembakar, dan pemberi warna pada
keramik, petugasnya tidak pernah diganti. Profesi yang digeluti akan
ditularkan kepada anak atau keluarganya guna melanjutkan pekerjaan
yang sama, bila mereka tak mampu lagi bekerja.

Meski terkesan agak tertutup terhadap masyarakat luar, namun
manajemen demikian dinilai wajar dalam mempertahankan keunggulan.
“Mereka sungguh profesional dan memiliki ikatan kesetiaan yang tinggi
terhadap pekerjaan yang digeluti,” kata Drs Soedarto (62) yang pernah
melakukan penelitian keramik singkawang atas biaya Toyota Foundation.

Sayang, keunggulan dan keunikan keramik singkawang kurang didukung
pemasaran yang optimal. Mereka hanya menunggu pesanan atau pembelian
langsung di lokasi pembuatan. “Kami sebenarnya ingin menjual hingga
ke Jawa atau ekspor, namun membutuhkan modal besar. Selain itu perlu
memiliki jaringan di luar negeri. Kami tidak memiliki semua itu,”
kata Lie Fung Khau.

Harga keramik singkawang umumnya beragam, mulai dari belasan ribu
hingga jutaan rupiah. “Harganya amat tergantung bentuk, dan motif.
Guci yang termahal, pantatnya berbentuk cekung dengan glasur berwarna
hijau seperti seladon dan tinggi sekitar 1,5 meter,” urai pengelola.

Motif serta pembakaran yang menggunakan tungku naga pada keramik
singkawang boleh disebut sebagai satu-satunya yang dimiliki Indonesia
saat ini. Apalagi kebudayaan sendiri tidak selamanya murni berasal
dari satu suku atau bangsa tertentu saja. Bila dieskpor, sangat
mungkin akan mendatangkan devisa yang cukup tinggi bagi negara.
(Jannes Eudes Wawa/Robert Adhi Ksp)


LINK TERKAIT http://www.budpar.go.id/filedata/959_160-ProdukSingkawang1.pdf

Rumah Betang, Jantung Kehidupan Masyarakat Dayak

KOMPAS
Rabu, 04 Feb 1998
Halaman: 19
Penulis: Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa

RUMAH BETANG, JANTUNG KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK

DI mana kita mencari dan menemukan rumah panjang atau Rumah Betang
masyarakat Dayak? Datanglah ke Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.

Di sana, masih terdapat sedikitnya 80 rumah panjang yang dihuni
masyarakat Dayak yang tinggal di pedalaman. Empat di antaranya malah
dijadikan cagar budaya, mengingat usianya mencapai lebih dari 100 tahun.
Salah satunya, rumah panjang (268 x 18 x 8 m) di Sungai Ulu, Kecamatan
Embaloh Hilir, sekitar 720 km dari kota Pontianak. Beberapa bagian rumah
panjang itu, seperti tiang dan tangga utama, sudah berusia lebih dari 500
tahun!

Bukan hanya rumah panjang yang usianya lebih satu abad, tapi di
Kabupaten Kapuas Hulu juga ditemukan rumah panjang yang baru dibangun di Desa Kakurak Pangaudulang di Kecamatan Badau, di perbatasan Kalbar-Sarawak (Malaysia Timur).

Sedangkan di wilayah lainnya di Kalbar, banyak rumah panjang tinggal
kenangan, dan tergantikan dengan rumah tunggal. Di Kabupaten Pontianak
misalnya, rumah panjang yang masih tersisa satu-satunya terdapat di Desa
Saham, Kecamatan Sengah Temila, sekitar 200 km dari kota Pontianak. Rumah panjang yang usianya lebih dari 300 tahun dan ditetapkan sebagai cagar budaya ini sudah dihuni masyarakat Dayak Kanayatn enam generasi.

Dewasa ini masyarakat Dayak yang masih tetap mempertahankan rumah
panjang adalah masyarakat Dayak Iban yang lebih banyak tinggal di
Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di kawasan perbatasan Kalbar-Sarawak.
Menurut Ketua Umum Majelis Adat Dayak Kalbar Jacobus Frans Layang
BA SH, rumah panjang masih dianggap sebagai pusat kegiatan kebudayaan
masyarakat Dayak. Di rumah panjang, masyarakat melakukan berbagai aktivitas seperti menenun, memahat, mengukir, menari, dan yang paling utama melaksanakan upacara adat.

Bagi masyarakat Dayak Iban, upacara adat harus tetap dilaksanakan
di rumah panjang. Misalnya, upacara Gawai Kenyalang, pesta syukuran
atas panen padi yang merupakan gawai terbesar dalam masyarakat Dayak
Iban. Gawai ini diadakan tiga hari-tiga malam, bahkan tujuh hari-tujuh
malam di rumah panjang, yang melibatkan semua warga rumah panjang.

Upacara adat lainnya yang harus dilaksanakan di rumah panjang adalah
Pupu Kenyalang, upacara pemberian sumbangan atau derma sebagai bentuk
persembahan kepada dewa-dewa melalui kenyalang. Patung burung enggang
acapkali menjadi perantara dewa-dewa. “Ini salah satu contoh mengapa rumah panjang tetap dipertahankan, terutama oleh masyarakat Dayak Iban,” kata
Jacobus yang juga Bupati Kabupaten Kapuas Hulu.

Pentingnya mempertahankan rumah panjang, karena di sanalah masyarakat
Dayak dapat melestarikan keterampilan kerajinan anyaman, tenunan, pahatan
dan sebagainya. “Selain itu, tinggal di rumah panjang bermanfaat untuk
memelihara rasa kekeluargaan,” ungkap Jacobus, putra kelahiran Kapuas Hulu.
Ia menilai krisis budaya yang dihadapi masyarakat Dayak yang tidak
lagi tinggal di rumah panjang, sangat terasa. Banyak yang hilang, termasuk
pelestarian seni tari dan seni suara. Rumah panjang diyakini efektif
menjadi sarana pertemuan latihan kesenian.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, rumah panjang masih banyak ditemukan,
setidaknya di delapan kecamatan. Yaitu di Kedamin, Putussibau, Embaloh
Hilir, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, Empanang dan Puring Kencana.

Empat rumah panjang di Kabupaten Kapuas Hulu yang dijadikan cagar
budaya, yaitu di Desa Melapi Satu di Kecamatan Kedamin (terakhir dipugar
50 tahun silam), di Desa Sungai Ulu, Kecamatan Embaloh Hulu (usianya
mencapai 100 tahun), di Desa Apalin, Kecamatan Embaloh Hilir, dan Desa
Bukung di Embaloh Hulu.

Kritik yang dilontarkan seringkali karena masyarakat rumah panjang
kurang memperhatikan kesehatan lingkungan dan keselamatan bahaya kebakaran.
Diakui Jacobus, penyakit menular cepat sekali berjangkit di rumah panjang. Namun kini masyarakat sudah mulai memahami pentingnya sanitasi lingkungan.

Memang, sebelum tahun 1945, hewan dan manusia menyatu tinggal di rumah
panjang. Namun di rumah-rumah panjang yang baru dibangun seperti di Kecamatan Empanang dan Kecamatan Puring Kencana, masyarakat tidak lagi membiarkan binatang peliharaan seperti ayam dan anjing berkeliaran masuk ke dalam bilik, tetapi di kandangkan di luar. Di dua kecamatan itu, malah rumah panjang dibangun dengan batako dan keramik. Air bersih pun dialirkan melalui pipa. Ini dinilai suatu kemajuan dalam pembangunan rumah panjang.
***

PERUBAHAN mencolok yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Dayak
yang tinggal di rumah panjang antara lain dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Bakupak Lateang (67), salah seorang pemuka adat atau dalam bahasa
setempat disebut temenggung yang tinggal di rumah panjang di Sungai Ulu,
sekitar 42 km dari kota Putussibau, “Sebelum tahun 1960-an, kalau salah
seorang penghuni rumah panjang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya,
perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. Namun kini warga makin memahami nilai ekonomi, sehingga hasil buruan dijual ke sesama penghuni rumah panjang.”

Perubahan lainnya, sesuai perkembangan zaman tentunya, adalah
penggunaan pakaian. “Dulu penghuni rumah panjang hanya menggunakan cawat, sekarang sudah mengenakan celana,” ujarnya. Selain itu pada masa lalu, wanita-wanita melubangi telinganya dan memiliki telinga panjang. Kini
pemandangan seperti itu jarang ditemukan lagi pada wanita muda, kecuali
menyaksikan sisa-sisa, wanita tua dengan telinga panjang yang menggendong
sang cucu.

Yang memprihatikan Ketua Umum Majelis Adat Dayak Kalbar Jacobus
Frans Layang adalah banyaknya anak muda dari suku Dayak yang tidak
lagi memahami budaya Dayak. “Karena mereka tidak lagi tinggal di rumah
panjang, dan merantau tinggal di kota, pemahaman mereka terhadap budaya
Dayak makin hilang. Terus terang, banyak anak muda Dayak yang tidak bisa
menampilkan kesenian dan kebudayaan Dayak,” ungkapnya.

Perempuan-perempuan Dayak misalnya, tidak lagi mengerti cara menenun
dan menganyam. Para pemudanya tidak lagi mengerti seni pahat maupun cara enempa besi dan membuat mandau.

Kerisauan tentang hal yang satu ini, diatasi Jacobus selaku Bupati
Kapuas Hulu dengan cara mengikutsertakan anak-anak muda dalam kompetisi membuat ornamen gerbang kota. Pembuatan ornamen dengan berbagai motif ini mas
ih dilakukan individu-individu yang dikoordinir Dekranasda (Dewan
Kerajinan Nasional Daerah). Sedangkan untuk menghidupkan seni budaya
Dayak, Jacobus selaku tokoh adat Dayak mengajak Dewan Adat dan berbagai
sanggar seni-budaya menggalakkan berbagai acara seni-budaya.

Harapan rumah panjang tetap menjadi pusat kebudayaan masyarakat Dayak
memang terus digaungkan. Di rumah panjang di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Pontianak misalnya, seni pahat masih dilakukan oleh salah seorang penghuninya yang membuat perisai dengan ornamen khas Dayak.
Dibandingkan dengan jumlah 34 KK (sekitar 500 jiwa) yang menghuni rumah panjang itu, jumlahnya memang sangat kecil.

Di rumah panjang di Sungai Ulu, Embaloh Hilir, Kapuas Hulu, kegiatan
seni-budaya juga masih ada, namun frekuensinya tidak sering seperti dulu.
Bekupak Lateang, pemuka adat di sana masih menyimpan seperangkat gong, yang hanya dikeluarkan pada saat atraksi upacara adat. Namun ia mengakui anak-anak muda yang tinggal di rumah panjang kurang mendalami seni-budaya Dayak. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Kebanyakan anak muda merantau ke kota. Ketika kembali ke rumah panjang,
mereka tak lagi mengenal seni-budaya Dayak. Pergeseran nilai ini merisaukan
kami,” kata Bekupak Lateang.

Dalam sebuah tulisannya di majalah Kalimantan Review, seorang
intelektual Dayak, Stephanus Djuweng yang sempat menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah panjang di Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten
Ketapang menuturkan, dalam kehidupan sehari-hari, bagian terbuka rumah
panjang merupakan tempat para pemuda Dayak belajar kepada tetua mereka.


Di situlah sejarah lisan, tradisi dan filsafat hidup dengan berbagai
kebijaksanaan tradisional dan pengetahuan asli manusia Dayak yang terkandung sejumlah cerita rakyat dan kisah-kisah kepiawaian nenek-moyang diturunkan kepada generasi berikutnya.

Di sana pula para putri Dayak belajar menganyam dan menenun bersama-
sama di rumah panjang. Di rumah panjang pula, acara-acara ritual
dilaksanakan, pengadilan adat yang demokratis digelar, persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dirundingkan, dan keputusan bersama ditaati setiap
orang. “Singkatnya, rumah panjang adalah pusat segala aktivitas sosial,
budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Dayak. Ia adalah jantung kehidupan
suku Dayak,” demikian Djuweng.

Karenanya, gerakan pembongkaran rumah panjang sekitar dua dekade silam,
menurut Djuweng, telah menghancurkan jantung kebudayaan itu. Satu-dua
dekade setelah kemerdekaan, pendapat umum dengan negatif mengecam kehidupan di rumah panjang. Pola hidup di rumah panjang disebut kolot, tidak sehat dan rawan kebakaran.

Mgr Drs Hieronymus Bumbun OFM Cap, putra Dayak Muawalang yang juga
Uskup Agung Pontianak berpendapat, sebenarnya untuk mencapai modernisasi dan pola hidup sehat/higienis, yang dilakukan bukannya dengan penyuluhan
agar masyarakat membongkar rumah panjang. Tetapi dengan menciptakan pola hidup higienis yang sesuai dengan tatanan sosial budaya masyarakat rumah panjang.


“Pembongkaran rumah-rumah panjang berdampak negatif terhadap pola
hidup masyarakat di pedalaman. Sebab perumahan pola tempat tinggal suku
Dayak dari rumah panjang ke rumah tunggal, mendorong berkembangnya sikap individualistis,” kata Bumbun.

Rumah panjang terbukti memudahkan setiap warga masyarakatnya mengenal
satu sama lain secara lebih terbuka dan dekat. Adanya kesamaan bentuk
tempat tinggal dari setiap keluarga pada rumah panjang, selain akan
menumbuhkan sikap pergaulan yang harmonis dan kehidupan kolektif sesama
warga, juga untuk mengurangi dan mengatasi kecemburuan sosial yang merugikan kehidupan kolektif.

Ini berarti peran dan fungsi rumah panjang dalam membina dan mepertahankan kelangsungan hidup nilai-nilai budaya tradisional, merupakan
modal dasar pembangunan bangsa yang patut diperhitungkan. Jacobus F Layang berpendapat, kurang mendasar jika perencana pembangunan menilai permukiman ru
mah panjang kurang relevan dengan pelaksanaan pembangunan dewasa ini.

Perumus kebijakan pembangunan hendaknya sungguh-sungguh memahami pola pikir dan adat-istiadat masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan.
Pelestarian rumah-rumah panjang, bahkan pembangunan baru rumah panjang, merupakan upaya mempertahankan rumah panjang dari kepunahan. Tidak sekadar menjadi obyek wisata turis, tapi juga betul-betul menjadi pusat dan jantung kehidupan masyarakat Dayak.

(Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa)

ilustrasi foto di blog ini diambil dari
http://www.bp-reiseberichte.de/reiseberichte/malaysia/01malax34.htm

Badau, Pintu Negara yang Belum Terurus

KOMPAS
Selasa, 03 Feb 1998
Halaman: 19
Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

BADAU, PINTU NEGARA YANG BELUM TERURUS

MASYARAKAT Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat di perbatasan
sejak puluhan tahun lampau memiliki ketergantungan ekonomi yang
begitu besar terhadap kota distrik (setingkat kecamatan) Lubok Antu,
Sarawak, Malaysia Timur. Setiap hari kurang lebih 300 orang melintas
di perbatasan Badau-Lubok Antu untuk memasarkan hasil pertanian serta
membeli sejumlah barang kebutuhan pokok.

Pilihan ini disebabkan jarak menuju Lubok Antu lebih dekat,
sekitar sembilan kilometer dengan biaya kendaraan pergi-pulang
Rp 20.000. Sementara untuk ke Putussibau, ibu kota Kabupaten
Kapuas Hulu, diperlukan waktu kurang lebih 4,5 jam, sebab jarak
yang ditempuh sejauh 175 kilometer. Biaya kendaraan pergi-pulang
(pp) pun lebih mahal, sekitar Rp 100.000/ penumpang.

Hampir sebagian besar penduduk Kabupaten Kapuas Hulu di
perbatasan juga memiliki ikatan kekeluargaan dengan masyarakat di
Lubok Antu. Mereka umumnya berasal dari etnis Dayak Iban. Bahasa
dan tradisi adat pun memiliki kesamaan yang hingga kini masih
dipertahankan sehingga di antara mereka selalu terjadi kontak sosial.

Seringnya masyarakat dari lima kecamatan di wilayah perbatasan,
yakni Badau, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Empanang dan Puring Kencana
melintas ke Malaysia ternyata berdampak pada pengetahuan mereka soal
Kalbar atau Indonesia. Mereka ternyata lebih mengenal pejabat ataupun
artis Malaysia daripada yang ada di Kalbar ataupun Indonesia.

Hal itu ditunjang dengan perkembangan jaringan informasi yang
belum optimal. “Daya tangkap TVRI pun masih tidak bagus, sehingga
kami lebih cenderung memutar TV Malaysia,” kata Magdalena (25) warga
Kecamatan Puring Kencana.

Kenyataan yang ada seringkali menimbulkan kekhawatiran. Irama
perubahan dan perkembangan yang terjadi di Malaysia agak berbeda
dengan keadaan di Kapuas Hulu. Kondisi itu seringkali merumitkan
pemikiran para pengambil keputusan di Kalbar, bagaimana menyesuaikan
irama pembangunan dengan kenyataan yang sedang terjadi di Negara
Bagian Sarawak, Malaysia Timur.

Penyebab lainnya, menurut Paulus Gunung (63) tokoh masyarakat
setempat, karena di Nangabadau, kota Kecamatan Badau belum dibangun
pertokoan yang menyediakan barang kebutuhan pokok. “Jika di sini
dibangun pertokoan, selain mengurangi minat masyarakat untuk membeli
di Lubok Antu, juga dapat menarik pembeli dari wilayah itu. Karena
harganya jauh lebih murah dibanding yang dijual di Sarawak,”
ungkapnya.

Ia mencontohkan, pada musim kemarau lalu ketika pendistribusian
sejumlah barang kebutuhan pokok dari Putussibau ke Nangabadau cukup
lancar, sebagian besar masyarakat Sarawak di perbatasan lebih memilih
membeli barang di Badau. Ini berarti barang kebutuhan pokok di Badau
pun sebetulnya diminati warga Lubok Antu, mengingat harganya relatif
lebih murah.
***

POS Lintas Batas (PLB) di Badau-Lubok Antu yang direncanakan
dibuka pertengahan tahun 1998 ini, dinilai sebagai pilihan terbaik
untuk mengatasi ketergantungan ekonomi masyarakat Kapuas Hulu di
perbatasan. Karena pembukaan pos yang sama di Entikong (Kabupaten
Sanggau)-Tebedu (Sarawak) sejak tahun 1989 telah menunjukkan
peningkatan arus lalu lintas darat, sehingga turut pula memberi
manfaat ekonomi bagi masyarakat kedua wilayah perbatasan.

Kendati demikian, berbagai kelengkapan infrastruktur untuk
menunjang Badau sebagai salah satu pintu lintas batas Indonesia
dengan Malaysia belum dipersiapkan secara optimal.

Pengamatan Kompas yang menyusuri jalan dari Putussibau ke Badau
bulan lalu, jalan raya sebagian besar masih berupa jalan perkerasan
pasir-batu (sirtu) dan jalan tanah.

Jika melintas di jalan ini pada musim hujan, bersiap-siaplah
Anda akan terjebak lumpur tanah. Bahkan kalau tak mampu mengatasi
kesulitan, kendaraan terpaksa “menginap” di tengah belantara
Kalimantan. Sedangkan jembatan darurat yang memanfaatkan bahan
apa adanya (seperti ranting dan batang pohon yang disusun) banyak
ditemukan di rute ini. Jembatan darurat dibangun di atas sungai
besar dan kecil karena jembatan permanen belum dibangun.

Belum lagi kalau bicara infrastruktur lainnya, seperti jaringan
telepon, air minum, dan perkantoran yang juga belum dibangun. Bahkan
petugas pun belum ditempatkan di Nangabadau.

Padahal di Lubok Antu, setiap warga asing yang masuk, harus
melapor dulu ke polisi Malaysia dan kantor imigrasi setempat.
Pelintas batas yang tak memiliki surat izin, tidak diperkenankan
melakukan perjalanan dalam kota tersebut.

Menurut Edward Malaka (42), pengemudi angkutan umum jurusan
Badau-Lanjak-Banua Martinus, ia pernah ditangkap polisi Malaysia
ketika mengemudikan kendaraannya di wilayah Lubok Antu, hanya
beberapa ratus meter dari perbatasan Kalbar-Sarawak.

Namun ketika melihat banyak kendaraan Malaysia yang masuk wilayah
Badau, bahkan terus menuju hingga ke Putussibau, tidak diperiksa
petugas, ia pun jengkel. “Masak sih orang Malaysia begitu bebasnya
masuk ke wilayah Kalbar, sedangkan kalau orang Indonesia yang ingin
masuk ke Lubok Antu harus lapor ke polisi,” kata Ed-ward kesal.

Persiapan membangun pos lintas batas negara di Badau terkesan
belum maksimal. “Sejauh ini kami baru pada upaya membebaskan tanah
seluas lima hektar untuk pembangunan Pos Lintas Batas, serta berbagai
sarana pendukung lainnya. Sedangkan petugas yang ditempatkan di sini
hanya satu orang. Itu pun dari kantor imigrasi,” kata Pelaksana Tugas
Camat Badau, Tali S.

Padahal di wilayah Lubok Antu, tampak berbagai sarana dan
prasarana pendukung telah dipersiapkan cukup lengkap. Jalan raya
umumnya beraspal dan mampu dilalui kendaraan angkut barang roda 12
(dua belas). Jaringan telepon yang dipasang mampu menjangkau seluruh
dunia. Dengan kartu Telkom Malaysia, siapa pun bisa berkomunikasi ke
pelosok dunia. Hotel berbintang lima pun sudah dibangun di kota
kecamatan Lubok Antu, yang ditata dengan begitu apik dan bersih.

Persoalan ini bagi Bupati Kapuas Hulu Jacobus Frans Layang
merupakan gambaran ketidaksiapan serta kurang konsistennya semua
aparat terhadap daerah perbatasan. “Buktinya petugas yang ditempatkan
di Pos Perbatasan hanya satu orang. Kalau seperti ini bagaimana bisa
menertibkan setiap pelintas batas,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemda Kabupaten Kapuas Hulu sejak lima tahun lalu
telah mengantisipasi dengan membuka jalan raya dari Putussibau hingga
ke perbatasan, namun karena keterbatasan biaya kualitas jalan yang
ada belum ditingkatkan. Sementara sudsidi dari pusat hampir tak
pernah ada. Padahal jalan jurusan itu merupakan jalur lalu lintas
internasional.

Meski demikian, Jacobus bertekad Pemda Kapuas Hulu akan
“melepaskan” sebagian dana APBD untuk peningkatan kualitas jalan
jurusan tersebut.

Persoalannya, kelemahan paling mendasar dalam pembangunan jalan
di Indonesia umumnya karena biaya pembangunan jauh lebih murah
dibanding ongkos perawatan. “Sedangkan di Malaysia biaya pembangunan
selalu lebih mahal sehingga kualitasnya betul-betul diutamakan,” kata
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar Ir Said Djaffar yang juga terlibat
dalam pembangunan PLB Entikong-Tebedu tahun 1989.

“Saya kira sistem kerja Malaysia ini perlu ditiru, sebab
bagaimanapun jalur jalan Badau-Putussibau-Pontianak merupakan pusat
lalu lintas darat internasional. Dengan demikian kualitasnya harus
diutamakan,” kata Said Djaffar. Ia pun berharap pemerintah pusat
perlu memberikan perhatian secara serius terhadap rencana
pembangunan infrastruktur tersebut.
***

SAMBIL membenahi infastruktur, Wagub Kalbar Syarifuddin Lubis
mengajak swasta menanamkan investasi membangun pertokoan di Badau.
Peluang usaha itu selama ini hanya dimanfaatkan pengusaha Malaysia,
yang membangun sejumlah pertokoan yang menyediakan barang kebutuhan
pokok pada kota-kota yang ada di sekitar kawasan perbatasan.

Selama ini terjadi ketergantungan ekonomi yang begitu besar dari
masyarakat Kalbar terhadap kota-kota di wilayah Sarawak. “Bila ada
pengusaha yang betul-betul serius ingin menggarap, kami siap
membebaskan lahan, termasuk membantu kelancaran perizinan,” kata
Lubis.

Bupati Kapuas Hulu Jacobus F Layang pun melihat pembangunan
hotel di perbatasan akan menguntungkan mengingat Kapuas Hulu kaya
dengan potensi pariwisata. Taman Nasional Bentuang Karimun dengan
keanekaragaman hayati dan fauna langka di dunia, Danau Sentarum,
rumah-rumah panjang Dayak berusia ratusan tahun, merupakan daya
tarik bagi wisatawan mancanegara.

Kehadiran PLB Badau-Lubok Antu dinilai akan membuka peluang
investasi sektor pariwisata di Kapuas Hulu, sebab 68 persen dari
29.842 km persegi luas wilayah kabupaten ini merupakan kawasan
taman nasional dan hutan lindung. “Namun karena terbatasnya sarana
dan prasarana penunjang, kedua obyek wisata ini jarang dikunjungi
wisatawan mancanegara,” tambahnya. Pemda setempat juga telah
menyiapkan lahan di Badau untuk pembangunan landas pacu pesawat
jenis Fokker 28 atas biaya Departemen Kehutanan.

Selain peluang-peluang di atas, kehadiran PLB Badau-Lubok Antu
yang pasti akan meningkatkan kegiatan perdagangan antarnegara,
khususnya dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. Kalbar termasuk
wilayah pengembangan regional bersama dua negara tetangga tersebut.

Karena itu pembangunan fisik daerah perlu diikuti dengan
peningkatan sumber daya manusia masyarakat setempat, yang secara
sungguh-sungguh dirancang dan diarahkan sejak dini. Dengan demikian,
masyarakat setempat tidak hanya menjadi pekerja atau penonton di
tengah kemegahan pembangunan, tapi juga ikut menikmatinya. Itu bisa
diwujudkan jika Badau yang bakalan jadi “pintu negara” diurus dengan
sebaik-baiknya. (Jannes EW/Adhi Ksp)
Peta: 1
Foto:
Kompas/ksp

KONDISI JALAN PUTUSSIBAU – BADAU – Beginilah kondisi sebagian ruas
jalan antara kota Putussibau (Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar)
dan Badau (wilayah perbatasan Kalbar – Sarawak). Masih berupa jalan
tanah, yang pada musim penghujan, berubah jadi lumpur tanah.

LINK TERKAIT http://www.pu.go.id/balitbang/puslitbangsebranmas/perbatasan.htm