Tag Archives: Kalimantan Barat

Situasi Sambas Berangsur Normal

Pengantar
Meliput konflik sosial di Sambas sangat melelahkan. Apalagi waktu itu saya nekad sendirian menyetir mobil ke pelosok Sambas, kembali ke Singkawang mengetik di laptop kuno dengan program WS4, berebutan dengan wartawan asing, meminjam koneksi telepon di hotel agar berita bisa dikirim ke kantor Palmerah. Pokoknya pengalaman yang tak terlupakan! (KSP)

KOMPAS
Rabu, 24 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/GG/PIN/JAN

SITUASI SAMBAS BERANGSUR NORMAL
Sambas, Kompas
Situasi kota-kota kecil di pesisir utara Kalimantan Barat
seperti Pemangkat, Tebas dan Sambas, hari Selasa (23/3)
berangsur-angsur normal. Tetapi menjelang malam, terlihat
kelompok-kelompok massa yang berkumpul di pinggir jalan.
Laporan terakhir menyebutkan, situasi yang berangsur normal
tersebut diwarnai bentrokan antara pasukan keamanan yang hendak
menyelamatkan warga Madura yang sembunyi di dalam hutan di Samalantan
dengan penduduk asli setempat.

Massa bersenjata api rakitan dan senjata tajam mencoba
menyerang petugas yang datang dengan belasan truk. Pasukan keamanan
melepaskan tembakan ke arah massa, dan diperkirakan sedikitnya empat
pelaku penyerangan tewas.

Dalam penyapuan (sweeping) yang dilakukan pasukan keamanan di
Samalantan, ditemukan potongan-potongan jenazah yang tak utuh lagi.
Kondisi mereka sudah membusuk.

Sesuai laporan Pemda Kalbar, kerusuhan yang meledak sejak awal
pekan lalu di tujuh kecamatan di Kabupaten Sambas, sekurang-kurangnya
menyebabkan 165 korban tewas. Angka ini belum termasuk empat korban
tewas di Samalantan.

Penindak kerusuhan
Di Jakarta hari Selasa, Kepala Staf Umum ABRI Letjen TNI
Sugiono melepas pemberangkatan Pasukan Penindak Kerusuhan Massal
berkekuatan enam Satuan Setingkat Kompi.

Pasukan yang terdiri dari unsur TNI AD dan Brigade Mobil Polri
itu diterbangkan lima pesawat Hercules TNI AU ke Kalbar, untuk
memperkuat aparat keamanan dalam upaya melerai pertikaian dan
kerusuhan yang terjadi di sana. Sekitar pukul 18.50 pasukan itu tiba
di depan Markas Kepolisian Resor Sambas di Singkawang.

Sugiono menyatakan, dalam menangani kerusuhan, ada tiga aspek
yang harus ditangani secara bersamaan dan teliti. Pertama,
menghentikan kerusuhan; kedua, menegakkan hukum dengan menindak para
pelaku pelanggaran hukum di lapangan. Ketiga, menindak aktor
intelektual yang mendalangi kerusuhan.

Pengungsi
Ribuan pengungsi warga Madura masih menunggu dievakuasi di
Desa Sabaran, Kecamatan Tebas. Sejak Rabu pekan lalu hingga Selasa,
sudah diangkut sekitar 7.000 warga Madura, yang kemudian
diberangkatkan ke Pontianak dengan KM Anugerah Makmur, KM Kaap Bol, KM Mekar Niaga, KM Ikaguri, dan KRI Teluksabang.

Pelabuhan Sintete di Pe-mangkat (Kalbar) sejak seminggu
terakhir ini ikut terganggu. Menurut Administrator Pelabuhan (Adpel)
Sintete, Yusuf Poniran, sejak Rabu pekan lalu, tak ada satu pun kapal
yang masuk ke pelabuhan itu karena takut keamanan tak terjamin. Dalam
satu bulan, rata-rata 40 kapal masuk ke Sintete.

Dari Pontianak dilaporkan, Pemda Kalbar menambah lagi dua
lokasi untuk menampung pengungsi dari Kabupaten Sambas, yakni Stadion
Sultan Syarif Abdurachman dan sebuah gudang di Kawasan Wajok Hulu,
tujuh km utara Pontianak. Dengan penambahan itu, berarti sudah
sembilan lokasi yang menjadi tempat penampungan.

Meski demikian jumlah itu dinilai belum mencukupi, sebab masih
sekitar 9.000 pengungsi diamankan di Kabupaten Sambas. “Pemda Kalbar
masih membutuhkan sebanyak empat gudang lagi dengan daya tampung
minimal 2.000 jiwa per buah,” kata Asisten Setwilda Kalbar HAM Djapari
di Pontianak.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Posko I Pemda Kalbar,
hingga kemarin sebanyak 12.276 jiwa pengungsi yang diamankan di
sembilan lokasi di Pontianak. Pada Rabu dinihari sekitar pukul 01.00
tiba lagi dari Sambas sekitar 500 jiwa. Mereka diangkut dengan Kapal
Mo-tor (KM) Anugerah Makmur dari pelabuhan Sintete, Pemangkat.

Untuk pengangkutan pengungsi yang masih bertahan di Sambas,
Kanwil Departemen Perhubungan Kalbar telah mengerahkan KM Kaap Bool,
KM Anugerah Makmur, KM Ikaguri, dan KM Mekar Niaga guna mengangkut
pengungsi dari Sambas melalui Pelabuhan Sintete. Di samping itu KRI
Teluk Sabang yang dikawal KRI Imam Bonjol juga membantu pengangkutan
pengungsi.

Sementara itu sekitar 400 pengungsi masuk ke Sarawak, Malaysia
Timur, melalui Paloh. Sebagian besar menggunakan perahu, tetapi ada
pula yang berjalan kaki, menembus hutan belantara. Paloh merupakan
daerah paling ujung di Kabu-paten Sambas yang berbatasan langsung
dengan wilayah Malaysia.

Kedatangan pengungsi tanpa bekal apa pun, cukup merisau-kan
Pemerintah Malaysia, sehingga para pengungsi secepatnya akan
dideportasi. “Pemerin-tah Malaysia rupanya kurang berkenan..,” tutur
seorang petugas keamanan Indonesia yang berdinas di Konsul Jenderal RI
di Kuching, Sarawak.

Berlangsung lama
Pengamat politik dari Univer-sitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr
Riswandha Imawan, di Universitas Padjadjaran, Bandung, mengomentari
kasus Sambas mengatakan, pimpinan ABRI, kejaksaan serta unsur lain
yang terkait seharusnya segera mengambil tindakan represif dalam arti
terbatas.

Kendati langkah ini diakui sebagai tindakan tidak populer,
namun akan membantu agar kerusuhan itu tidak berlangsung lama seperti
kerusuhan di Ambon, serta tidak menyebar lebih luas lagi ke daerah
lain.

Ia mengakui, pada keadaan seperti ini, posisi ABRI sangat
dilematis, sebab jika melakukan tindakan represif jelas akan melanggar
hak asasi manusia. Menyelesaikan persoalan Sambas, pikiran pertama
adalah tutup kota tersebut. Kedua, berlaku-kan jam malam. Langkah
selanjutnya adalah menggeledah rumah-rumah. (ksp/gg/pin/jan)

Nelayan Pemangkat Pun Menganggur

Pengantar
Setiap konflik sosial hanya menghasilkan kerugian. Tak ada satu pun yang diuntungkan. Nelayan Pemangkat misalnya, selalu diliputi rasa cemas ketika konflik itu berlarut-larut. (KSP)

KOMPAS
Selasa, 23 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP

NELAYAN PEMANGKAT PUN MENGANGGUR…

SUDAH seminggu ini, Yukroma (47), nelayan asal Desa Penjajap,
Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), tidak
melaut.

“Sepanjang hari, saya dan teman-teman nelayan di desa ini
menjaga keluarga di rumah. Hampir tiap malam saya tidak tidur,” kata
Yukroma kepada Kompas di Pelabuhan Perikanan Pemangkat, Senin (22/3).
Yukroma hanya salah seorang dari sekitar 1.000 nelayan Pemangkat
yang tidak beroperasi sejak kerusuhan meletus satu pekan lalu.

Sebetulnya sejak sebulan lalu, para nelayan sudah cemas dengan kondisi
seperti ini, tetapi mereka masih bisa melaut. Namun setelah kerusuhan
di Kabupaten Sambas makin membara, nelayan-nelayan Pemangkat yang
umumnya warga etnis Melayu ini tidak berani melaut.

Dalam kondisi normal, buruh nelayan seperti Yukroma bisa membawa
pulang uang Rp 15.000 ke rumah, untuk menghidupi empat anak dan seorang
istrinya. Tuturnya, “Seminggu terakhir ini, saya terpaksa meminjam uang
dari majikan. Satu hari sekitar Rp 15.000-Rp 20.000. Apa boleh buat,
daripada keluarga di rumah tidak makan.”

Menurut Kepala Dinas Perikanan Kecamatan Pemangkat, Ibrahim
Zaini, setiap hari nelayan Pemangkat menghasilkan 20 ton hingga 30
ton ikan laut yang segar, sebagian besar dipasok ke Pontianak. Namun
sudah seminggu terakhir ini, pedagang ikan di Pontianak tidak menerima
pasokan ikan dari nelayan Pemangkat. Ratusan pedagang ikan bersepeda
kayuh yang menjajakan ke rumah-rumah penduduk desa sekitar Pela-buhan
Perikanan Pemangkat, kini menganggur.

Nelayan Pemangkat memberi kontribusi terbesar dalam produksi
perikanan laut di Kabupaten Sambas. Produksi setiap tahun rata-rata
9.568 ton atau sekitar 48 persen dari seluruh produksi perikanan laut
Kabupaten Sambas yang pada tahun 1997 mencapai 20.170 ton.
***

RODA perekonomian di kabupaten ini macet. Jumlah angkutan umum
berkurang karena penumpang tak berani berpergian, sehingga nafkah
sopir seret. Toko-toko tutup di kota-kota kecamatan seperti Pemangkat,
Selakau, Tebas, hingga Sambas. Warung-warung kecil di tepi pantai
Sinam, Tanjungbatu, Pemangkat mendadak sepi.

“Biasanya banyak orang pacaran datang kemari, makan bubur
pedas khas Sambas dan minum air kelapa muda,” kata Nurhayati (35),
pemilik satu-satunya warung yang berani buka di sana.

Bupati Sambas Tarya Aryanto kepada Kompas, Minggu, menyebutkan,
eksodus ribuan warga Madura mengganggu pembangunan prasarana fisik
seperti jalan, bangunan, serta penyediaan bahan pasir dan batu.
Dikatakan, pemda berusaha mencari pengganti tenaga-tenaga kasar itu,
meski hal itu tidak mudah dilakukan.

Pasokan daging sapi akan menurun drastis, maklum warga Madura
di Sambas “menguasai” pemeliharaan, pemasaran, dan pasokan daging
sapi. Pada tahun 1997, populasi sapi di kabupaten ini 26.700 ekor,
sebagian dipasok ke Pontianak dan daerah lainnya di Kalbar.

Ladang padi milik warga Madura yang siap dipanen mencapai
1.000 hektar, hanya 5,8 persen dari 17.000 hektar sawah di Kabupaten
Sambas. Tarya Aryanto mengemukakan, padi siap panen yang ditinggalkan
pemiliknya itu akan ditangani secara khusus dan tidak akan
menghilangkan hak pemilik yang mengungsi. “Pemda akan mengupayakan
lahan padi itu tidak dipanen sembarangan. Kepala desa mempunyai
catatan nama-nama petani tersebut,” tambahnya

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sambas Ir Burhanuddin,
para petani warga Melayu belum berani turun ke sawah. Jika kerusuhan
terus berlanjut, padi tak bisa dipanen.

“Kami waswas kalau terjadi kerusuhan, dan ada tembakan ke arah
sawah ketika kami memanen,” kata Idris (40) warga Desa Perapakan yang
sawahnya di tepi jalan antara Singkawang-Pemangkat-Tebas. Itu pula
kata rekan-rekannya di sejumlah desa di Kecamatan Pemangkat.

Produksi padi Kabupaten Sambas periode Januari-April 1999
mencapai 201.000 ton, menyamai produksi satu tahun, Januari-Desember
1997. Kata Ir Burhanuddin, “Peningkatan pada tahun ini setelah
dilakukan Gerakan Satu Juta Ton Gabah Kering Giling.”

Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Sambas (39 persen) yang pada tahun 1997/1998
mencapai 5,04 persen. Krisis ekonomi umumnya tidak dirasakan masyarakat
Sambas yang umumnya petani (77 persen). Masyarakat pedalaman di
Kabupaten Sambas, terutama yang berbatasan dengan Sarawak (Malaysia
Timur), seperti Kecamatan Seluas, malahan menikmati keuntungan dari
kursrupiah-dollar AS. Harga lada yang ditanam melambung menjadi
Rp 80.000-Rp 100.000.
***

TERLETAK di sebelah utara Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas
berpenduduk sekitar 900.000 jiwa, dengan luas wilayah 12.296 km2 atau
hampir 19 kali luas Kota Jakarta. Sebagian besar penduduk Kabupaten
Sambas adalah etnis Melayu (49,1 persen), disusul etnis Dayak (19,86
persen), etnis Tionghoa (17,73 persen), dan berbagai etnis lainnya
13,3 persen. Jumlah etnis Madura sekitar 10 persen atau sekitar
80.000-90.000 jiwa, dan tersebar di 17 kecamatan.

Masa jeruk Kalbar jaya, Kabupaten Sambas, khususnya daerah
Tebas dan Pemangkat, menjadi produsen jeruk. Puncaknya tahun 1993,
dengan produksi 257.000 ton, menghasilkan pajak sekitar Rp 1,4
milyar sebagai pendapatan asli daerah Pemda Kabupaten Sambas. Karena
salah urus, semua itu kini lenyap, meski mulai ada upaya untuk
mengembalikan kejayaan itu.

Sambas juga menjadi “langganan” daerah kerusuhan antar-etnis,
baik antara Dayak-Madura maupun Melayu-Madura. Kerusuhan seperti ini
sudah merupakan yang ke-13 kali, dengan korban jiwa dan harta yang
besar.

Kapan kerusuhan ini berakhir? Warga Sambas mulai lelah dengan
situasi dan kondisi “perang” itu. (adhi ksp)

Pengungsi Melahirkan di Kapal

Pengantar

Tak bisa dibayangkan pengungsi perempuan melahirkan di kapal perang. Sungguh, sejarah hitam di Kalimantan Barat ini jangan sampai terulang lagi. (KSP)

KOMPAS

Selasa, 23 Mar 1999

Halaman: 1

Penulis: KSP/JAN/FUL/GG/MBA


PENGUNGSI MELAHIRKAN DI KAPAL
* Korban Tewas Jadi 165 Orang

Sambas, Kompas
Sebanyak 10 wanita pengungsi asal Sambas, yang tengah menuju
Pontianak (Kalbar), melahirkan di atas kapal pengangkut KRI Teluk
Sabang, hari Senin (22/3). Hal tersebut diungkapkan Komandan
Pangkalan TNI AL Pontianak Kolonel Laut (P) Uray Asnol Kabri kepada
Kompas, semalam.

Dikatakan, KRI Teluk Sabang mengangkut 1.425 pengungsi dari
Desa Sabaran, yang berlokasi di pesisir Sungai Sambas Besar.
Pengungsi ini dilaporkan tiba di Pontianak sekitar pukul 21.00.
Sedangkan kapal TNI AL lainnya, KRI Imam Bonjol bertindak selaku
pengawal Teluk Sabang. Dalam perjalanan itulah, 10 bayi lahir.

Menurut Kabri, bayi maupun ibunya yang melahirkan di kapal
dalam keadaan selamat, dan mendapat perawatan tim kesehatan KRI
Teluk Sabang.

Warga Madura yang berada di Desa Sabaran tersebut diungsikan
dari desa-desa terdekat di Kecamatan Jawai dan Tebas. Empat wanita
dilaporkan melahirkan -satu di antaranya melahirkan bayi kembar-di
Desa Sabaran, saat bersiap-siap mengungsi.

Laporan terakhir menyebutkan, ribuan orang dari beberapa kecamatan
di Sambas, Senin malam sekitar pukul 21.00 berkumpul di Jl Yos Sudarso,
Singkawang. Mereka meminta pertanggungjawaban aparat keamanan,
menyusul tertembaknya lima warga lokal. Kerumunan massa menjelang
pukul 23.00 bisa dibubarkan, setelah tokoh agama dan masyarakat turun
tangan.

Dari korban luka sebanyak itu, satu di antaranya anak berusia
11 tahun asal Setapuk Besar, Selakau, yang tertembak di bagian perut
dan kini dirawat di Rumah Sakit Abdul Azis Singkawang, bersama empat
korban tembakan di tempat sama.

Antarkelompok
Di Jakarta, Menhankam/ Pangab Jenderal TNI Wiranto menegaskan,
untuk mencegah meluasnya pertikaian antarkelompok masyarakat di
Sambas dan sekitarnya, serta menghindari terulangnya kembali kerusuhan
berlarut-larut seperti di Ambon, pihaknya hari Selasa ini mengirim
pasukan berkekuatan satu batalyon plus yang tergabung dalam Pasukan
Penindak Kerusuhan Massal.

Pasukan itu bertugas melerai kelompok yang saling bertikai.
Kerusuhan di Sambas ini diharapkan tidak dijadikan alat untuk meraih
kepentingan politik tertentu.

Menurut Wiranto, secara fisik jelas terlihat ada suatu
persengketaan antarkelompok masyarakat. “Tidak usah disebut kelompok
etnik atau kelompok agama apa, tetapi kita melihat memang ada suatu
persengketaan antarkelompok di masyarakat,” tegasnya.

Pangdam VI Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hasyim dalam kesempatan
terpisah menyatakan, sampai saat ini belum ditemukan adanya motif lain
dan terlibatnya provokator dari luar daerah dalam kerusuhan itu.
Ditegaskan, kerusuhan Sambas adalah murni pertikaian antarkelompok
yang dipicu ulah preman.

Tewas 165 orang
Pembakaran rumah kosong yang sudah ditinggalkan pemiliknya,
juga masih terus berlangsung, antara lain di Kecamatan Sambas,
Telukkeramat, dan Jawai.

Aparat keamanan terus melancarkan razia senjata tajam dan
senjata api milik kelompok-kelompok yang bertikai, dan menyita 995
senjata tajam dan 350 senjata api rakitan. Namun, bentrokan antara
massa dan aparat nyaris terjadi ketika massa tidak bersedia
menyerahkan senjata mereka kepada aparat di Pemangkat.

Dari Posko I Pemda Kalbar diperoleh informasi, jumlah korban
tewas dalam kerusuhan sosial di Kabupaten Sambas sejak 21 Januari
1999 lalu hingga Senin kemarin tercatat 165 orang. Korban yang
menderita luka berat 38 orang dan luka ringan sembilan orang.

Sedangkan jumlah rumah yang dibakar 2.142 unit dan rusak 153
unit. Kendaraan roda empat yang dibakar empat unit dan dirusak enam
unit. Sepeda motor yang dibakar empat unit dan dirusak satu unit.

Menurut petugas Posko Pemda Kalbar, jumlah pengungsi yang akan
diangkut ke Pontianak diperkirakan masih terus bertambah, sebab
sekitar 6.000 pengungsi kini masih diamankan pada sejumlah lokasi
di Kabupaten Sambas. Kenyataan itu membuat Pemda Kalbar kewalahan
mencari tempat penampungan. Bantuan makanan bagi pengungsi pun
sangat sedikit.

Pengungsi yang telah tiba di Pontianak diamankan di tujuh
lokasi, termasuk Gedung Olahraga Pangsuma. Jumlahnya mencapai 7.557
jiwa. Sejumlah pengungsi yang diamankan di GOR Pangsuma dan Asrama
Haji Pontianak mengeluh kekurangan fasilitas umum. Data Posko
Kesehatan pada Kanwil Depkes Kalbar, menyebutkan, hingga kemarin,
pengungsi yang dirawat jalan sebanyak 362 orang, dan 19 orang
lainnya dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso Pontianak.

Pasien umumnya menderita diare.
Letkol (Pol) M Nurdin juga mengatakan, kondisi pengungsi
sangat menyedihkan. Mereka membutuhkan bantuan obat-obatan dan
makanan. Di Desa Setimbuk, Kecamatan Selakau, 300 kepala keluarga
(KK) -1.500 orang – masih berada di sana, meski dalam pengepungan
massa. Di Desa Setimbuk, Senin siang, terjadi bentrokan fisik
antarkelompok, dan mengakibatkan empat warga luka-luka.
Warga Madura yang masih menunggu dievakuasi adalah 1.431 jiwa
yang berada di Pangkalan TNI AU Sanggauledo. Mereka adalah warga
Samalantan. Di Samalantan, sudah 400 rumah hangus dibakar.

Pernyataan HMI
Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singkawang
mengeluarkan pernyataan sikap, ditandatangani Ketua Umum Hazizah dan
Sekretaris Umum Muchlis Wahyudi. “Kita harus menerima kenyataan
sebenarnya bahwa kerusuhan di Sambas adalah murni lahir akibat
terakumulasinya berbagai tindakan negatif masyarakat pendatang yang
selama ini didiamkan.

“Masyarakat pendatang hendaknya dapat menghormati dan menghargai
adat-istiadat masyarakat setempat. Pemerintah juga hendaknya benar-
benar menyelesaikan konflik ini sebelum Pemilu 1999.”

Di Samarinda, Ketua Kerukunan Warga Madura Kaltim KH Mohammad
Zaini Naim meminta warga Madura di Kaltim mengurungkan niatnya
beramai-ramai ke Sambas. “Kendati kita ikut prihatin melihat keadaan
ini, namun jangan sampai warga Madura di Kaltim ikut memperkeruh
keadaan,” himbau pengurus MUI Kaltim ini kepada warga Madura.

Di Jakarta, Dosen STF Driyarkara Ignas Kleden sependapat
dengan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bahwa
harus ada pejabat negara yang datang ke lokasi kerusuhan.
Menurut Ignas, analisis penting tetapi pembunuhan lebih penting
untuk dihentikan. “Jangan dianalisis terus-menerus. Harus diambil
semacam tindakan,” ujarnya. (ksp/jan/ful/gg/mba)

Balita Savitri Pun Jadi Korban

Pengantar
Dimana-mana mayat. Sungguh, ini pengalaman jurnalistik paling dahsyat yang pernah saya alami. (KSP)

KOMPAS
Senin, 22 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: ADHI KSP

BALITA SAVITRI PUN JADI KORBAN

MAS’UN (20), tidak mengerti mengapa putrinya, Savitri (2 tahun)
dan istri yang dikasihinya, Musrifah (17), serta abangnya, Farid
(40), menjadi korban kebrutalan massa. Pada Jumat (19/3) dini hari,
kampungnya, Desa Sungaipalai, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas
(Kalimantan Barat) dikepung ratusan massa. Puluhan rumah dibakar dan
penghuninya dibunuh.

“Kalau ada yang bersalah, mengapa bukan orang bersangkutan saja
yang diadili dan dihukum. Mengapa anak, istri, dan abang saya, yang
tidak ada kaitan dengan kejahatan, harus ikut menanggungnya?” ujar
Mas’un kepada Kompas hari Sabtu dengan suara yang lemah. Pria itu
berada di tengah-tengah 1.671 pengungsi di markas Kompi “B” Batalyon
Infantri 641 Beruang (Pemangkat). Mas’un jatuh pingsan. Sersan Zakaria
menahan tubuhnya agar tidak membentur lantai.

Bukan hanya Mas’un yang kehilangan orang-orang yang dikasihinya
dalam kerusuhan di Sambas. Masih ada Sapukri (29) warga Desa Harapan
yang kehilangan ayahnya, Mislam (55). Tanya Sapukri, “Ibu saya orang
Melayu Sambas. Artinya, saya pun masih memiliki darah Melayu dari ibu.
Mengapa saya harus ikut dikejar-kejar?”

Ribuan orang di pengungsian menangisi peristiwa di Kabupaten
Sambas yang sudah menewaskan lebih dari seratus orang dan
menghanguskan lebih dari seribu rumah di berbagai lokasi itu.

Kerusuhan di Sambas meledak sejak sebulan lalu, tepatnya 22
Februari 1999, akibat pertikaian antara penumpang bus, Rodi bin
Muharap (22), dengan kernetnya Bujang Lebik bin Idris. Rodi tak mau
membayar, bahkan membacok kernet bus. Insiden itu berlangsung sekitar
10 hari, menewaskan 17 orang dan menghanguskan 70-an rumah.

Setelah itu suasana di Tebas, Pemangkat, dan Sambas, mereda.
Tanggal 14 Maret, terjadi bentrokan di Kecamatan Pemangkat, menewaskan
empat orang dan melukai empat lainnya. Tanggal 16 Maret, 31 warga
Kecamatan Samalantan yang pulang kerja naik mobil dicegat warga Madura
di Desa Perapakan, Pemangkat. Satu orang dibunuh, selebihnya selamat.

Kerusuhan meluas ke sebelas kecamatan di Kabupaten Sambas, yaitu
Pemangkat, Tebas, Sambas, Jawai, Samalantan, Sanggauledo, Selakau,
Sungairaya, Sungaiduri, Tujuhbelas, Roban.

Dalam sepekan terakhir ini, massa membawa senjata tajam dan
senjata api rakitan dengan ikat kepala kuning dan merah, terlihat di
mana-mana. Potongan tubuh tak utuh juga dipajang di sejumlah tempat.
***
MENGAPA mereka beringas?
Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie MSc, Dekan Fisipol Universitas
Tanjungpura Pontianak kepada Kompas hari Minggu mengatakan, kebrutalan
massa (Melayu) terhadap warga pendatang (Madura) akibat akumulasi
persoalan yang sudah menumpuk, dan tidak diselesaikan segera. Gubernur
Kalbar Aspar Aswin menilainya sebagai akumulasi kejengkelan dan
kemarahan warga asli Kalbar.

Syarif Ibrahim Alqadrie memberi contoh, insiden berdarah di Desa
Paritsetia, Kecamatan Jawai pada hari pertama lebaran (Idul Fitri) 19
Januari 1999 silam. Awalnya, Hasan (Madura), warga Desa Sarimakmur,
kepergok mencuri di Desa Paritsetia, lalu dihajar penduduk setempat.
Hasan mengadu ke keluarganya, lalu tepat hari Idul Fitri, ratusan
orang dari Desa Sarimakmur menyerang perkampungan Desa Paritsetia,
menyebabkan tiga warga (Melayu) tewas.

Menurut Alqadrie, insiden ini tidak segera diselesaikan aparat.
Hingga sekarang pelaku penyerangan dan pembunuhan belum ditangkap dan
diadili. Ia mendesak agar polisi segera mengumumkan pelakunya sudah
ditangkap, untuk menenangkan situasi. Dikemukakan, penyerangan saat
Idul Fitri itulah yang membuat warga Melayu Sambas sakit hati.

Gubernur Kalbar Aspar Aswin yang sudah belasan tahun bertugas
di Kalbar menyebut karakter Melayu sangat terbuka dan akomodatif,
sepanjang warga pendatang memahami adat-istiadat dan tradisi setempat.
Aswin, yang pernah jadi Komandan Korem di sana, mengatakan, “Banyak
warga pendatang yang tidak mau mengerti adat-istiadat masyarakat
setempat, baik Melayu maupun Dayak. Bagi masyarakat asli Kalbar,
orang ketahuan mencuri bisa dikenakan hukum adat.”

Aswin dan Alqadrie yakin, tidak semua pendatang mempunyai
kebiasaan jelek. Mereka berharap warga pendatang mawas diri.
Komandan Korem 121/ABW Kolonel (Inf) Encip Kadarusman yang pernah
bertugas di Sambas pada 1975-1986 silam mengutarakan hal senada.

Seperti Alqadrie, Kadarusman tidak setuju para pengungsi ini
dikembalikan ke Pulau Madura, karena bertentangan dengan wawasan
Nusantara dan negara kesatuan RI. Ia mengusulkan, pemerintah daerah
membangun perkampungan khusus di lahan kosong, misalnya di dekat
Bandara Supadio Pontianak, dan memperlakukan mereka sebagai
transmigran, diberi jaminan hidup dan lahan. Kadarusman mengatakan,
“Sulit menyatukan kembali warga pendatang dengan masyarakat asli
Kalbar,”
***

JUMLAH warga Madura di Kalbar sekitar 0,8 persen dari 3,7 juta
penduduk Kalbar, atau sekitar 300.000 jiwa. Di Kabupaten Sambas,
jumlah mereka sekitar 10 persen dari 900.000 jiwa atau 90.000 jiwa.

Saat ini belasan ribu warga Madura yang diungsikan ke Pontianak
sulit memperoleh makanan dan obat-obatan. Kehadiran mereka di
Pontianak bisa menimbulkan problem baru di ibu kota Kalbar itu.
Akankah kerusuhan meluas ke kabupaten lain, seperti kerusuhan
Dayak-Madura pada 1996-1997 silam? Alqadrie menolaknya.

“Secara individual orang Melayu bukan tipe yang suka melakukan
kekerasan. Namun, secara massa dan adanya dukungan etnik lain membuat
mereka lepas dari kemelayuannya. Apalagi sudah ada dendam terpendam
terhadap pendatang. Ini merupakan letupan emosi yang tertekan puluhan
tahun,” kata Alqadrie. (adhi ksp)

Kerusuhan di Sambas: Lagi, Ratusan Rumah Dibakar

Pengantar
Maret 1999, Sambas membara. Pada waktu itu, saya kebetulan bertugas di Kalimantan, dan menyaksikan peristiwa paling dahsyat, yang pernah saya lihat dalam hidup saya. Ini catatan sejarah, yang seharusnya dapat menjadi pelajaran untuk tidak terulang lagi.
(KSP)

KOMPAS
Senin, 22 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/JAN/ASA/FUL/JUN

Kerusuhan di Sambas
LAGI, RATUSAN RUMAH DIBAKAR
* Korban Tewas Jadi 110 Orang

Sambas, Kompas
Kerusuhan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), hingga
hari Minggu (21/3) belum juga reda. Massa tetap mengamuk, hingga mene-
waskan lima orang serta meluluhlantakkan ratusan rumah warga Madura di
enam desa di Kecamatan Sambas, sekitar 230 km dari Kota Pontianak.

Dengan tambahan korban tewas sebanyak itu, kerusuhan di Sambas yang
pecah sejak awal pekan lalu, sekurang-kurangnya telah menelan korban
tewas sebanyak 110 orang. Angka ini diperkirakan lebih banyak lagi,
mengingat masih adanya jenazah yang dibiarkan tergeletak di dalam hutan
atau langsung dikubur oleh warga setempat. Sedangkan jumlah rumah yang
dibakar dari tujuh kecamatan mencapai 1.800 unit.

Sabtu malam, massa juga mengepung perkampungan di Desa Rambaian,
Sempadian, Sagarau, Segarang, Paritbaru, Paritsetia, di Kecamatan Tebas
dan Kecamatan Jawai, yang lokasinya terisolir karena dibelah Sungai
Sambas Besar.

Massa menggunakan perahu motor, menuju perkampungan warga Madura
pendatang. Ratusan rumah dibakar dan puluhan jenazah ditemukan dalam
insiden berdarah itu. Namun pihak berwenang belum bersedia memberikan
keterangan resmi dalam kasus ini.

Jalan raya antara Singkawang dan Sambas masih terlihat lengang
dan sepi. Jarang sekali kendaraan melintas di jalur utara Kalbar itu.
Kelompok-kelompok massa masih tampak di sudut-sudut jalan.
Namun sejak siang hari, petugas gabungan TNI AD dan Polri melancar-
kan operasi senjata tajam dan senjata api di jalan raya. “Kami akan
menyapu bersih senjata-senjata itu agar kerusuhan tidak berlanjut,”
kata Komandan Korem 121/ABW Kolonel (Inf) Encip Kadarusman. Operasi
dilancarkan di daerah Sungaidaun, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas,
dan juga di daerah Mempawah, Kabupaten Pontianak.

Untuk membantu pengamanan di Sambas, dua satuan setingkat kompi
(SSK) yang masing-masing berkekuatan 100 prajurit dari Batalyon
Infanteri Udara 612/ Modang dan Brigade Mobil (Brimob) Polda Kaltim,
hari Sabtu diberangkatkan dari Bandara Sepinggan Balikpapan ke
Pontianak menggunakan dua pesawat Hercules TNI AU.

Kapolda Kaltim Brigjen (Pol) Crist Soepontjo yang didampingi
Kepala Staf Kodam VI/Tanjungpura Brigjen TNI Yudo Wibowo melepas
pasukan tersebut. Crist Soepontjo, yang mewakili Pangdam
VI/Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hs mengingatkan, seluruh prajurit
yang diterjunkan ke wilayah kerusuhan, tugas utama adalah ikut
mengamankan dan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan bukannya
menambahkan kekalutan. “Itu sebabnya, hendaknya menjalankan tugas
dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Ribuan diungsikan
Sementara dalam insiden di Jawai dan Tebas, informasi yang
diperoleh menyebutkan, penyerangan ke perkampungan warga Madura itu
terjadi, karena sebelumnya anak Kepala Desa Rambaian di Kecamatan
Tebas bernama Mahrus tewas dibunuh pada Sabtu pagi. Malam harinya,
massa berdatangan, naik perahu motor menyeberangi Sungai Sambas Besar,
lengkap dengan senjata tajam dan senjata api rakitan.

Dalam penyerangan itu, puluhan orang ditemukan tewas, tujuhbelas
di antaranya disebutkan sebagai “orang-orang kriminal yang meresahkan
warga setempat”. Sebanyak 400 rumah, 50 motor dan lima mobil dibakar
massa.

Ratusan orang diungsikan dengan kapal perintis yang berada di
tepi Laut Natuna, menuju Pontianak. Sedangkan sekitar 6.000 pengungsi
lainnya dari Desa Rambaian (Tebas) kini diamankan oleh dua kompi
pasukan keamanan. Sabtu malam, mereka diangkut dengan kapal TNI AL.
Komandan Pangkalan TNI AL Pontianak Kolonel Laut (P) Uray Asnol
Kabri mengatakan, pihak TNI AL mengerahkan dua kapal perang, yaitu KRI
Imam Bonjol dan KRI Teluksabang, serta satu pesawat pengintai Nomad
untuk membantu para pengungsi. Dua KRI ini tiba di Pontianak pukul
14.30 sore, dan malamnya tiba di Pelabuhan Sintete, Pemangkat,
Kabupaten Sambas.

Kapasitas KRI Teluksabang sekitar 1.000 orang, sedang KRI Imam
Bonjol bertugas sebagai pengaman. Tugas pengamanan TNI AL ini dipimpin
Komandan Gugus Tempur Komando Armada RI Kawasan Barat TNI AL Laksma TNI Sumardjono.

Demam dan Diare
Kondisi kesehatan ribuan warga korban kerusuhan di Kabupaten
Sambas yang mengungsi di Pontianak, kini semakin memprihatinkan.
Ratusan pengungsi mulai terserang diare, demam, dan radang paru-paru.
Penderita umumnya anak di bawah lima tahun.

Petugas Posko Kesehatan dr Isman Ramadhi di Pontianak, Minggu,
menjelaskan, serangan penyakit tersebut diduga akibat kondisi fisik
yang sangat lemah, serta makanan dan lingkungan di lokasi pengungsian
yang kurang bersih. Kondisi yang buruk itu diperparah lagi dengan
stres sehingga mudah terserang penyakit.

Dikatakan, sejak hari Jumat hingga Minggu, jumlah pengungsi yang
berobat mencapai 299 pasien. Mereka umumnya menderita diare, demam,
radang paru-paru, serta perdarahan. Bahkan tujuh pasien di antaranya
terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso Pontianak untuk
dirawat secara intensif.

Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada hari-hari
berikutnya, khususnya anak balita. Sebab sepanjang hari Minggu, gejala
itu mulai tampak. Dari 80 pasien yang diobati, sebanyak 18 balita
menderita diare dan 25 lainnya menderita demam dan radang paru-paru.

Masih sulit
Berdasarkan pemantauan, Pemda Kalbar masih mengalami kesulitan
mencari tempat untuk menampung pengungsi. Gedung Olahraga Pangsuma
yang semula diandalkan jadi alternatif penampungan pengungsi -setelah
lima lokasi lainnya penuh-ternyata juga hanya mampu menampung 2.000
jiwa. Padahal pengungsi yang tiba di Pontianak sepanjang hari Minggu
mencapai 3.160 jiwa.

Untuk itu menurut Asisten Setwilda Kalbar Ibrahim Salim, pihaknya
sedang mengusahkan sebuah gudang sembako yang terletak di kawasan
Wajok, sekitar 15 kilometer arah utara Pontianak. Daya tampung gudang
tersebut diperkirakan bisa menampung 3.000 orang.

Selain itu Pemda Kalbar juga sedang mencari lokasi lain yang
dinilai cukup aman untuk dijadikan tempat pengungsian. Sebab saat ini
sekitar 9.000 pengungsi yang belum terangkut dari Kabupaten Sambas.
Kebutuhan tempat penampungan itu juga untuk menampung 2.742
pengungsi yang saat ini diamankan di Asrama Haji. Karena daya tampung
Asrama Haji paling banyak 1.000 jiwa, sedangkan pengungsi yang ada di
lokasi itu telah mencapai 3.742 jiwa.

Hingga Minggu malam, jumlah pengungsi yang tiba di Pontianak
diperkirakan mencapai 8.000 jiwa. Yang diamankan di pengungsian
sebanyak 6.403 jiwa, sedang sisanya ditampung di rumah keluarga mereka
di Pontianak dan kawasan sekitar.

Bantuan terbatas
Data di Kanwil Depsos Kalbar menyebutkan, bantuan makanan bagi
para pengungsi yang masuk ke Posko masih terbatas. Apalagi pengungsi
kemungkinan masih cukup lama. Beras yang dimasak diperkirakan sebanyak
dua ton per hari. Stok beras yang tersedia saat ini tinggal 18 ton.

Sedang untuk biaya lauk pauk bagi pengungsi, Kanwil Depsos sedang
mengusulkan ke Depsos di Jakarta agar dinaikan dari Rp 1.500 menjadi
Rp 3.000/orang per hari. Pertimbangannya indeks itu sudah tak sesuai
lagi dengan perkembangan harga sayur-sayuran di pasaran. “Ini cuma
usul saja. Keputusannya terserah Mensos,” ujar Kakanwil Depsos Kalbar
Suyatno Yuwono.

Kasus kerusuhan di Sambas yang menimbulkan puluhan korban tewas
serta kerusuhan-kerusuhan serupa seperti yang terjadi di Ambon,
Ketapang, Banyuwangi, dan daerah lain, diduga sengaja untuk menurunkan
kredibilitas pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk
segera menyelesaikan masalah tersebut, sedang ABRI didesak untuk
mengungkap kelompok provokator serta aktor intelektual di balik aksi
kerusuhan tersebut.

Penegasan itu disampaikan Ketua Umum DPP Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) Hamzah Haz di Solo, Minggu.
Di Denpasar, Bali, rohaniawan sepuh Gedong Bagoes Oka saat
berbicara dalam Studi Refleksi Aktif Tanpa Kekerasan (SR-ATK), Minggu,
di Kuta mengatakan, mata rantai kerusuhan yang mencengkeram bangsa
Indonesia, baru akan bisa dihentikan jika seluruh komponen bangsa
menyadari bahwa akar kekerasan ada dalam hati mereka masing-masing.
Namun, pertama-tama tetap harus ada upaya dari para pemimpin bangsa
untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Acara ini diselenggarakan Pimpinan Pusat Ikatan Remaja
Muhammadiyah (PP IRM) bekerja sama dengan The Asia Foundation. SR-ATK
berlangsung selama empat hari, diikuti sekitar 33 peserta dari
berbagai daerah. (ksp/jan/asa/ful/jun)

Tiga Wanita Melahirkan di Pengungsian

Pengantar
Markas Kompi Batalyon Infantri 641 Beruang di Pemangkat dijejali pengungsi. Tiga pengungsi perempuan di antaranya, melahirkan di markas kompi tentara itu dalam kondisi menyedihkan. Seorang di antaranya melahirkan di dekat pohon pisang karena kampungnya ludes dibakar massa. Rumah yang terbakar hampir seribu unit, sedangkan yang tewas lebih dari 100 orang. Mereka yang selamat mengalami guncangan mental. (KSP)

KOMPAS
Minggu, 21 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: JAN/KSP

Kerusuhan di Sambas
TIGA WANITA MELAHIRKAN DI PENGUNGSIAN
Pemangkat, Kompas

Nasib ribuan warga pendatang dari suatu etnik pendatang yang
mengungsi di markas Kompi Batalyon Infantri 641 Beruang, Pemangkat,
Kabupaten Sambas mulai memprihatinkan. Kondisi kesehatan mereka mulai
lemah. Tiga wanita pengungsi di antaranya terpaksa melahirkan dalam
kondisi rusuh, seorang di antaranya mengalami keguguran.

Sementara itu, Pemda Kalimantan Barat hingga Sabtu (20/3)
masih sulit mendapatkan tempat penampungan warga yang diungsikan
dari Kabupaten Sambas. Masalahnya, lima lokasi yang selama dua hari
terakhir dijadikan tempat pengungsian, tak sanggup lagi menampung.

Pengamatan Kompas sepanjang Sabtu, situasi di kota-kota
pesisir utara Kalbar, dari Pemangkat, Tebas dan Sambas belum pulih.
Lalu lintas Pemangkat-Tegas-Sambas sepi dan mencekam. Sebagian toko
masih tutup. Di sana-sini terlihat kelompok-kelompok massa membawa
senjata api dan senjata tajam.

Hingga Sabtu (20/3), korban tewas dalam kerusuhan di Kabupaten
Sambas terus bertambah, menjadi 77 orang. Tiga di antaranya ditemukan
Sabtu pagi di Sintete, Pemangkat. Kemungkinan, jumlah korban tewas
mencapai 100 orang, tetapi tidak sempat didata aparat karena sebagian
sudah dikubur langsung. Jumlah korban luka berat 36 orang. Sedangkan
jumlah rumah yang dibakar dan dirusak massa lebih 1.000 unit, ditambah
13 mobil dan sembilan kendaraan roda dua.

Data resmi dari Gubernur Kalbar Aspar Aswin, jumlah rumah yang
dibakar dan dirusak hingga Sabtu pagi mencapai 986 unit, tersebar di
kecamatan Tebas, Pemangkat, Jawai, Samalantan, Sanggauledo, Sambas,
Selakau, dan Sungairaya.

Isu diserang
Sabtu sore pukul 14.00, sekitar 300 KK (kepala keluarga) atau
1.850 warga pendatang yang mengungsi di Kompi “A” Yonif 641 Beruang
di Kecamatan Sambas, terpaksa diangkut dengan 25 truk setelah muncul
isu markas tentara itu akan diserang massa. “Upaya dilakukan demi
keselamatan pengungsi, selain agar markas tidak diserang massa,” kata
Komandan Korem 121/ ABW, Kolonel (Inf) Encip Kadarusman kepada Kompas
semalam.

Gubernur Kalbar Aspar Aswin pagi kemarin di Singkawang menegaskan,
upaya Pemda Kalbar dan jajaran aparat keamanan saat ini terutama
adalah menyelamatkan nyawa warga pendatang karena itu yang lebih
penting. Aswin mengakui mengalirnya belasan ribu pengungsi dari
Kabupaten Sambas ke kota Pontianak, akan menimbulkan persoalan baru
di kota itu. Namun ia telah memberi masukan kepada polisi perihal
kemungkinan meningkatnya kriminalitas di Pontianak. Aswin tidak
menjelaskan masukan tersebut.

Melahirkan
Tiga wanita yang melahirkan di pengungsian itu adalah Ny Nimah
(35), Ny Zubiah (20), serta seorang lagi yang mengalami keguguran dan
mengalami guncangan mental. Ny Nimah melahirkan anak kelima pada hari
Jumat (19/3) pukul 11.00. “Saya melahirkan anak ini di dekat pohon
pisang ketika rumah di kampung kami dibakar massa,” kata warga Desa
Jeluntung, Pemangkat ini saat ditemui Kompas Sabtu siang. Ia mengaku
belum memberi nama bayi lelakinya.

Menurut Nimah, pada saat gawat itu, puluhan tentara datang dan
menyelamatkan mereka, termasuk suaminya, Mahari (40). “Kami sedih
dengan keadaan ini,” kata Nimah, yang terbaring lemah di antara 1.671
orang pengungsi di markas Kompi “B” Batalyon 641/Beruang, Pemangkat.

Sementara itu Ny Zubiah (20), warga Desa Perapakan, Pemangkat
yang melahirkan anak kedua di markas tentara Jumat sore pukul 16.00
menuturkan, ia mendapat bantuan tentara ketika melahirkan bayi
perempuan yang dinamakan Uswatun Hasanah. Ia bersama suami dan bayi
perempuannya mengungsi sejak Jumat siang.

Sebanyak 1.671 orang pengungsi menginap di markas Kompi “B”
Batalyon 641 Beruang di Kecamatan Pemangkat, sedangkan 1.850 orang di
markas Kompi “A” Yon 641 Beruang di Kecamatan Sambas. Kondisi mereka
memprihatinkan, karena kekurangan obat-obatan.

Bantuan pasukan keamanan Sabtu siang tiba di Pontianak dan
sore harinya langsung ke Sambas. Tambahan pasukan keamanan itu
terdiri dari dua kompi Brimob dari Polda Kalsel dan Polda Kaltim,
dan satu kompi Batalyon Infantri Lintas Udara Modong Kaltim.

Kesulitan baru
Arus pengungsi ke Pontianak membuat Pemda Kalbar kesulitan
menyediakan penampungan. Sejumlah gudang swasta dan pemerintah yang
akan dijadikan tempat pengungsian, ternyata tak diizinkan pemilik dan
pengelolanya. “Saat ini, kami benar-benar kesulitan tempat. Apalagi
akan segera tiba lagi sekitar 6.481 pengungsi,” kata Asisten Sekwilda
Kalbar Ibrahim Salim.

Sambil menunggu tempat pengungsian yang aman dan terkendali,
untuk sementara pengungsi ditampung di Asrama Haji. Di sana sudah
dibangun dua tenda darurat. “Kalau sampai Sabtu malam kami belum
mendapatkan tempat ideal, kemungkinan besar hari Minggu pengungsi
akan diamankan di Gedung Olahraga Pangsuma dan Stadion Sultan Syarif
Abduracham,” kata Ibrahim Salim.

Pemantauan Kompas di Asrama Haji Pontianak, sekitar 3.000
pengungsi belum mendapat tempat istirahat. Mereka bukan hanya orang
dewasa, tetapi juga anak-anak. Jumlah pengungsi yang ditampung di
lokasi ini 4.287 jiwa. Padahal daya tampung paling banyak sekitar
1.000 jiwa. Bahkan sekitar 250 jiwa diamankan di rumah keluarga
mereka di Pontianak dan kawasan sekitarnya.
Berdasarkan data yang diperoleh di Kanwil Departemen Sosial
Kalbar, pengungsi yang telah tiba di Pontianak sebanyak 5.034 jiwa.
Mereka ditampung di berbagai tempat.

Menurut informasi, gelombang pengungsian warga pendatang ke
Pontianak terus berlanjut. Diperkirakan 6.481 jiwa akan diangkut dari
Pemangkat pada Sabtu malam dan Minggu dini hari dengan menggunakan
puluhan truk dan kapal motor perintis.

Kurang makanan
Berdasarkan data yang diperoleh Kompas di Kanwil Depsos Kalbar,
sampai dengan kemarin pihak Depsos selaku koordinator komsumsi bagi
pengungsi, baru mendapat bantuan 48 dus mie instan dari Palang
Merah Indonesia (PMI) Cabang Kalbar. Sedangkan untuk kebutuhan
makanan hanya diandalkan 25 ton beras milik Depsos.

Persediaan ini, kata Kepala Kanwil Depsos Kalbar, sama sekali
tak cukup, apalagi jumlah pengungsi yang akan diamankan di Pontianak
diprakirakan mencapai 11.515 jiwa. “Kami telah meminta bantuan 100 ton
beras dari Depsos di Jakarta. Mudah-mudahan dalam waktu dekat beras
itu tiba di Pontianak,” harap Suyatno Yuwono.

Posko Kesehatan untuk pengungsi disiapkan 24 jam di setiap
tempat pengungsian. “Setiap posko ditempati lima tenaga medis yang
dibantu tim PMI Kalbar,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dr Pendi
Tjahja Perdjaman MKes.

Sementara untuk mengatasi kekurangan kamar (mandi, cuci, kakus)
MCK dan air bersih di lokasi pengungsian, Dinas Pekerjaan Umum (DPU)
Kalbar membangun belasan WC darurat serta mendrop belasan bak
penampung air bersih dengan kapasitas tiga kubik per buah. “Kebutuhan
pokok ini perlu segera diatasi. Kalau terlambat wabah penyakit bisa
menyerang pengungsi,” kata Kepala DPU Kalbar Said Djafar.

Diperoleh informasi, dua anak dari pengungsi masing-masing
berumur dua dan empat bulan, Jumat malam, meninggal dunia. Kedua anak
di bawah lima tahun itu dalam beberapa hari terakhir selalu menderita
gangguan pernapasan dan paru-paru.

“Kondisi buruk itu diperparah dengan kekurangan makanan, sebab
kosentrasi orangtuanya lebih terfokus pada upaya penyelamatan mereka
sekeluarga dalam kerusuhan itu,” tutur Ilham (35) salah seorang
keluarga korban. (jan/ksp)

Kerusuhan di Sambas: Sebanyak 15.000 Orang Diungsikan

Pengantar
Sebanyak 15.000 orang diungsikan dari desa-desa di Kabupaten Sambas ke Pontianak. Saya waktu itu memantau daerah konflik sendirian, mengendarai mobil dinas Kompas, Rocky. Kalau sekarang saya berpikir ulang, saya merasa heran mengapa pada waktu itu saya merasa “berani” menyusuri daerah konflik itu. Sungguh, pengalaman jurnalistik paling berkesan dalam hidup saya.
(KSP)

KOMPAS
Sabtu, 20 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/GG/JAN/PIN

Kerusuhan di Sambas
SEBANYAK 15.000 ORANG DIUNGSIKAN
Sambas, Kompas

Situasi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, hingga hari
Jumat (19/3) masih belum normal. Pengepungan kampung di pedalaman yang
dihuni warga asal Madura masih berlangsung. Sementara itu, sekitar
15.000 warga Madura diungsikan ke Pontianak dengan kapal dan truk.
Gelombang pengungsi ini diperkirakan terus bertambah karena
tersebarnya isu penyerangan ke kampung mereka.

Jumlah korban tewas akibat kerusuhan di Sambas hingga semalam
bertambah 13 orang, sehingga dalam insiden selama lima hari terakhir
jumlahnya menjadi 64 orang. Jumlah ini kemungkinan terus bertambah
karena masih banyak warga pendatang asal Madura yang tinggal di lokasi
yang jauh dari jalan raya, sedangkan massa terus melakukan aksi
pengejaran dan pengepungan di sejumlah desa.

Sementara itu, di Kota Singkawang (ibu kota Kabupaten Sambas),
sejak pukul 13.30, toko-toko mendadak ditutup akibat tersebarnya isu
penyerangan ke kota itu. Suasana kota berpenduduk sekitar 300.000 jiwa
ini tampak tegang. Warga cemas bakal terjadi kerusuhan sehingga
memilih menutup tempat usaha mereka.

Sampai hari Jumat, kerusuhan di Sambas yang semula melanda
tujuh kecamatan (Pemangkat, Tebas, Sambas, Jawai, Selakau,
Sanggauledo, dan Samalantan), kini melebar ke Kecamatan Tujuhbelas.
Jumlah rumah yang dibakar sudah lebih dari 1.000 buah.

Kerusuhan itu sendiri meledak sejak hampir sebulan yang lalu,
tepatnya 22 Februari, karena pertikaian antara penumpang bus dan
kernetnya. Kemudian, kerusuhan juga dipicu 31 warga Kecamatan
Samalantan yang sedang pulang kerja dan naik mobil bak terbuka,
dicegat warga bukan penduduk asli setempat di Desa Perapakan,
Pemangkat. Satu orang di antaranya dibantai, dan selebihnya
berhasil lolos. Balas dendam pun tak terhindarkan.

Lalu lintas sepi
Pengamatan Kompas menunjukkan, lalu lintas di jalur pesisir
utara Kalbar itu sepi. Di beberapa lokasi, masih terlihat asap
mengepul dari bekas rumah-rumah yang dibakar massa. Di sepanjang
jalan antara Pemangkat-Tebas-Sambas tampak gerombolan massa dengan
ikat kepala warna kuning dan merah. Demikian pula, bendera kuning
dan merah berkibar-kibar di sepanjang jalan itu. Di jembatan Tebas,
dekat pasar, potongan tubuh korban yang tewas dipajang.

Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hasyim, Jumat,
mengatakan, ada kemungkinan pihaknya menambah jumlah pasukan ke
Kabupaten Sambas, jika dalam satu-dua hari mendatang, situasi di
wilayah ini belum pulih. Zainuri minta masyarakat menghentikan
tindakan anarkis dan meredam emosi agar kerusuhan tidak makin meluas.
Pangdam mengatakan, bisa saja aparat mengambil tindakan represif,
tetapi itu masih melihat situasi di lapangan.

Senada dengan Zainuri Hasyim, Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI
Letjen TNI Sugiono di Jakarta mengatakan, aparat keamanan berupaya
keras agar kerusuhan tidak membesar. Peristiwa itu sudah dilaporkan
kepada Panglima ABRI, dan jika terjadi kekurangan personel pasukan
dalam meredam kerusuhan itu, pasukan bantuan dapat dikerahkan dalam
waktu singkat.

Kepada wartawan di Dephankam, Jakarta, Sugiono menjelaskan, di
lokasi kejadian sudah ada dua batalyon pasukan dari unsur Brigade
Mobil (Brimob) Polri dan Kavaleri. Jumlah itu, katanya, cukup memadai.
Diharapkan, kerusuhan itu tidak sampai merembet ke masalah
yang lebih besar, seperti suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Tak hormati adat
Gubernur Kalbar Aspar Aswin menyatakan, kerusuhan di Sambas
antara lain juga disebabkan masyarakat pendatang di Kalbar tidak
menghormati tradisi dan adat-istiadat warga setempat.

“Seharusnya mereka menerapkan pepatah yang menyebutkan ‘di
mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Hormatilah adat-istiadat
dan tradisi warga setempat. Masyarakat Kalbar sebenarnya akomodatif
dan selalu terbuka menerima pendatang sepanjang mereka menghormati
tradisi dan adat-istiadat warga setempat,” kata Aswin yang sudah
belasan tahun bertugas di Kalbar sebagai Komandan Korem dan Gubernur.

Zainuri Hasyim dan Aspar Aswin Jumat siang mengunjungi Keraton
Sambas. Kedua pejabat itu bertemu dengan Raden Winatakusuma, ahli
waris Keraton Sambas yang dianggap tokoh di Kecamatan Sambas.
Winatakusuma berjanji mengendalikan warga di sekitar keraton agar
tidak ikut melakukan tindakan anarkis.

Menunggu dievakuasi
Sementara itu di Desa Setimbuk, Kecamatan Selakau, sedikitnya
300 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.500 orang menunggu dievakuasi
dan diselamatkan petugas. Ribuan orang sudah mengepung desa itu sejak
Jumat dini hari. Warga setempat sulit untuk melarikan diri karena jika
lewat sungai, massa sudah menunggu di jembatan. Sedangkan lewat darat,
massa sudah mengepung dari segala arah. Satu-satunya jalan, warga Desa
Setimbuk harus diselamatkan dengan helikopter.

Keadaan serupa juga terjadi di Kecamatan Sanggauledo. Sekitar
1.431 warga pendatang di Sanggauledo diungsikan ke Pangkalan TNI AU di
wilayah itu. Mereka harus dievakuasi dengan pesawat terbang, karena
terlalu riskan membawa mereka keluar dari Sanggauledo melalui jalan
darat. Rumah-rumah mereka di Desa Merabu dan Lembang di Kecamatan
Sanggauledo sudah kosong.

Gelombang pengungsian warga pendatang yang bermukim di Kabupaten
Sambas hingga semalam terus berlangsung. Jumlah pengungsi
diperkirakan mencapai 15.000 orang.

Bupati Sambas Tarya Aryanto mengatakan, sudah meminta 40 truk
lagi untuk mengangkut pengungsi lainnya ke Pontianak. Tarya juga minta
kapal-kapal perintis digunakan untuk mengangkut pengungsi dari
Pelabuhan Sintete.

Di Pontianak, para pengungsi diamankan di lima lokasi. Di
Asrama Haji sebanyak 606 orang, Gudang Swasta di kawasan Sungai Jawi
260 orang, aula Batalyon Intel TNI AD 50 orang, aula Batalyon Zeni
Tempur 50 orang, dan asrama Kompi B TNI AD di Arang Limbung 250 orang.
Jumlah pengungsi ke Pontianak akan terus bertambah hingga mencapai
7.000 orang.

Sepanjang hari Jumat, bantuan makanan dan obat-obatan telah
dipasok ke lokasi pengungsian. Bahkan Kanwil Kesehatan Kalbar
menyisihkan sebagian dana Jaring Perlindungan Sosial (JPS) bidang
kesehatan untuk pengadaan obat-obatan serta keperluan pelayanan
kesehatan bagi pengungsi.

Di Bandung, Ketua Umum DPP Partai Umat Islam Deliar Noer
meminta agar pemerintah bersifat arif dan bijaksana dalam
menyelesaikan kerusuhan di daerah termasuk peristiwa berdarah
di Sambas. Untuk ini perlu diambil langkah untuk menghindari
terjadinya kesenjangan penguasa (pemerintah) dengan masyarakat.

“Untuk itu pemerintah harus secepatnya mengkonsolidasikan
semua pemikiran atas masukan dari daerah bukan hanya secara formal
saja,” jelasnya.

Terhadap kerusuhan di Sambas yang hingga kini belum pulih,
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pontianak minta Bupati Sambas Tarya
Aryanto mengundurkan diri secara terhormat. Permintaan itu karena
menurut HMI, Tarya Aryanto tidak lagi dipercaya rakyat setempat.

Kepada masyarakat yang sedang bertikai juga diimbau agar
jangan saling menyakiti. “Marilah merapatkan barisan agar tak mudah
dipecah-belah oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari
perpecahan dan pertikaian ini,” ujar HMI Cabang Pontianak dalam
pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Muhammad Isnaini dan
Sekretaris Subhan Noviar. (ksp/gg/jan/pin)