Tag Archives: Kabupaten Lebak

Investasi: Lumbung Padi Bayah Tergusur

Laporan dari Bayah, Lebak, yang tersisa dan dimuat di Kompas hari Senin 22 Oktober 2007. Laporan betapa lumbung padi di Bayah bakal lenyap untuk kepentingan industri semen Penanaman Modal Asing Australia, PT Boral Indonesia. (KSP)

KOMPAS
Metropolitan
Senin, 22 Oktober 2007


Investasi
Lumbung Padi Bayah Tergusur

Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra

Mohammad Arief (64) memandang hamparan sawah nan hijau miliknya di Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Dia membayangkan sawahnya seluas 1,8 hektar, warisan turun-temurun, yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya bakal lenyap.

Arief adalah salah satu dari ratusan warga pemilik sawah, kebun, dan tegalan yang tersebar di lima desa di Kecamatan Bayah, yang saat ini sedang galau. Sawah produktif miliknya yang dalam setahun dapat panen tiga kali bakal tergusur untuk kawasan industri semen PT Boral Indonesia, perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Australia.

Sekali panen, sawah Mohammad Arief menghasilkan 6,5 ton gabah. Jika dalam setahun tiga kali panen, sawahnya menghasilkan 19,5 ton gabah senilai rata-rata Rp 58,5 juta. Bagi Arief, uang sebanyak itu sangatlah berarti. Apalagi untuk ukuran hidup di kota kecamatan Bayah, di wilayah pantai selatan Banten.

“Kami tidak akan menghambat program pembangunan kawasan industri semen itu, asalkan harga sawah produktif ini dihargai sewajarnya,” kata Arief dalam percakapan dengan Kompas, Senin (8/10) pagi di Bayah.

Sekadar untuk perbandingan, harga tanah di tengah kota kecamatan Bayah saat ini sudah Rp 500.000 per meter persegi, terutama di dekat terminal dan pasar. Ini salah satu indikator betapa Bayah berada di posisi strategis di kawasan pantai selatan Banten.

Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat warga bersama Ikatan Sarjana Bayah (Isaba) pada 4 Maret 2007, harga sawah tiga kali panen setahun ditetapkan Rp 175.000 per meter persegi
sawah satu kali panen setahun Rp 125.000 per m2, tanah darat produktif Rp 100.000 per m2, dan tanah darat tak produktif Rp 75.000 per m2.

Lokasi sawah Arief jaraknya hanya satu kilometer dari pusat kota kecamatan Bayah sehingga nilai ganti rugi sawahnya dianggap wajar.

Patokan kami adalah harga tanah di Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur. Harga sawah di sana dihargai Rp 120.000 per m2. Itu kasus kecelakaan, sedangkan sawah kami sengaja digusur untuk kepentingan investasi industri semen. Sawah kami warisan turun-temurun nenek moyang, bahkan lumbung padi di Bayah. Sekarang harga beras Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogram, apalagi jika lumbung padi ini habis tergusur,” ungkap Arief lagi.
1.044 hektar

PT Boral Indonesia menanamkan investasi senilai 183 juta dollar Amerika Serikat untuk pembangunan kawasan industri semen di lahan seluas 1.044 hektar. Kawasan itu melenyapkan lima desa, yaitu Desa Bayah Barat (290 hektar), Desa Bayah Timur (219 hektar), Desa Suwakan (93 hektar), Desa Darmasari (253 hektar), dan Desa Cikatomas (189 hektar).

Oleh PMA dengan perusahaan induk Boral International Pty Ltd Australia yang bermarkas di Sydney itu, lahan seluas 10,4 juta meter persegi ini direncanakan menjadi areal pabrik semen (80 hektar), areal pertambangan (915 hektar), dermaga (25 hektar), akses jalan, perumahan, fasilitas umum, fasilitas sosial dan penunjang lainnya (20 hektar).

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Lebak Amir Hamzah saat ditemui di kantornya di Rangkasbitung mengatakan, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) PT Boral Indonesia sudah selesai. Proyek pembangunan akan segera dilaksanakan tahun 2008. “Jika PT Boral Indonesia beroperasi tahun 2012, kehadiran industri ini dapat menjadi lokomotif ekonomi wilayah Banten selatan,” kata Amir Hamzah.

Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dari investasi senilai 183 juta dollar AS, sumber pembiayaan dari modal sendiri 30,5 juta dollar AS dan pinjaman 152,5 juta dollar AS. Dari 30,5 juta dollar AS itu, penyertaan dalam modal perseroan asing 100 persen terdiri atas Boral Building Material Pty 1,5 juta dollar AS dan Boral International Pty Ltd Australia 28,975 juta dollar AS.

BKPM mensyaratkan, setelah 15 tahun beroperasi secara komersial, PT Boral Indonesia harus menjual sahamnya ke warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.
Pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Lebak mendukung kehadiran PT Boral Indonesia. Masyarakat pemilik tanah pun sesungguhnya menyatakan tidak akan menghambat pembangunan, asalkan mereka memperoleh harga ganti rugi yang wajar.

Melalui perantara
Akan tetapi, yang menjadi persoalan, hingga kini, sejumlah warga belum cocok dengan nilai ganti rugi. “Ibaratnya, calo-calo tanah dapat motor, kami pemilik tanah hanya dapat sepeda,” kata Arief, melukiskan betapa banyaknya calo tanah berkeliaran dan menekan warga.

Pemilik tanah sempat diundang dalam acara sosialisasi antara perusahaan dan pemilik tanah pada 4 Oktober 2007. Undangan yang dibuat Camat Bayah Tahlidin itu menyebutkan pemilik tanah bertemu dengan pihak PT Boral Indonesia. Namun, dalam pertemuan itu, investor diwakili PT Lebak Harapan Makmur, yang menguasai sebagian lahan sejak tahun 1995, sehingga para pemilik tanah yang hadir kecewa.

Tanpa calo
Padahal, Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya dalam surat keputusannya menyebutkan pembayaran ganti rugi tanah, bangunan, dan tanaman tumbuh di atasnya tidak dibenarkan dilaksanakan melalui perantara. Pembayaran harus langsung kepada yang berhak menerima.

Kepala Desa Damarsari Maman Suparman mengatakan, di wilayahnya tak ada rumah penduduk yang tergusur. Namun, pemilik tanah umumnya tak ingin kehilangan sawah. Mereka minta disediakan sawah di lokasi lain yang tak jauh dari lokasi sebelumnya.

Deretan angka jutaan dollar AS itu mungkin tidak dipahami sepenuhnya oleh pemilik sawah di Bayah seperti Arief. Dia hanya tahu, kelak lumbung padi miliknya bakal hilang dan dia akan kehilangan sumber nafkah untuk keluarganya. Siapa yang bertanggung jawab menyediakan kembali sawah produktif milik warga Bayah setelah lahan itu disulap menjadi industri raksasa milik orang asing?

Pembangunan di Lebak jangan sampai “menelan” korban. Rakyat hanya tetap menjadi penonton, tanpa dapat merasakan manfaatnya.

Kolom Blog Adhi Ksp: Nelayan Bayah, Lebak

Kolom Blog Adhi Ksp

Nelayan Bayah, Lebak

BAYAH adalah nama kota kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Lokasinya sekitar 237 km dari Jakarta. Untuk menuju ke Bayah, Anda bisa lewat Rangkasbitung-Malingping dengan kondisi sebagian jalan bopeng-bopeng, atau bisa Pandeglang-Malingping dengan jarak tempuh lebih jauh. Namun kondisi jalan antara Malingping-Bayah sudah beraspal hotmix dan mulus.


Karena Bayah adalah kota kecamatan di pantai selatan Banten, sebagian warganya bermata pencaharian nelayan. Mereka umumnya buruh nelayan, yang setiap hari mengandalkan hidup sehari-hari dari laut. Mereka naik perahu motor, berangkat sore hari, kembali pukul 08.00 pagi. Sebagian lagi menjadi penjual ikan keliling ke rumah-rumah. Satu ikat ikan layur biasanya terdiri dari 10 ekor, dibeli dari TPI Bayah sekitar Rp 20.000, dan dijual lagi dengan harga Rp 25.000.


Nelayan Bayah cenderung konsumtif. Begitu mendapat banyak uang pada musim panen ikan seperti bulan-bulan ini, mereka langsung membeli perhiasan emas dan peralatan elektronik di kota kecamatan ini. Pola hidup konsumtif ini sebetulnya bukan ciri khusus nelayan Bayah, tetapi umumnya terjadi pula pada nelayan di berbagai daerah lain di Indonesia. Bahkan bukan hanya terjadi pada nelayan, tetapi juga pada petani di desa-desa. Karena itu, tidaklah heran jika di dekat TPI dan di kota kecamatan, selalu ada toko emas.

Pada musim paceklik, para nelayan Bayah menjual kembali perhiasan emas kepada pemilik toko. Dan itu sangat biasa terjadi. Seperti gali lubang tutup lubang. Dapat duit banyak, dibelikan barang-barang konsumtif. Ketika ikan sulit didapat, nelayan pun terpaksa menjual kembali perhiasan emas yang dimiliki. Begitulah siklusnya. Entah mengapa, perhiasan emas harus selalu dibeli. Mungkin menggunakan cincin, kalung, giwang dan perhiasan emas, menunjukkan status seseorang. Tapi apakah itu perlu dilakukan?

Di TPI Bayah, aku kembali tercenung. Dari sekian ribu nelayan di Bayah, hanya beberapa yang jadi juragan. Tapi mereka pun, kini menghadapi problem sejak harga BBM melambung tinggi. Kapal-kapal mereka teronggok.
Setiap kali aku bertemu dengan nelayan, setiap kali pula aku selalu berpikir, mengapa Indonesia negara yang wilayah lautnya sangat luas dan potensi ikannya luar biasa, tapi nelayannya tetap miskin? Buruh-buruh nelayan itu selalu terjerat kemiskinan struktural. Angka putus sekolah di Kabupaten Lebak cukup tinggi. Rata-rata anak-anak bersekolah sampai usia 6,6 tahun.


Nelayan pantai selatan tampaknya belum diperhatikan. Padahal dibandingkan dengan pantai utara Jawa, potensi laut di pantai selatan sangat besar. Laut selatan cenderung underfishing. Bayangkan, betapa besarnya potensi laut kita. Tapi nelayan kita selalu terjerat kemiskinan struktural. Entah apa salah Indonesia. Negara yang kaya raya, potensi laut yang juga kaya, tetapi nelayannya selalu terjerat kemiskinan.
Entah siapa yang salah. Salah uruskah? Salah pemimpin negeri inikah? Terlalu banyak koruptorkah? Ah, nelayan hanya menjadi obyek politik pada saat pemilihan bupati, gubernur, presiden. Nelayan tak lebih menjadi obyek janji-janji politik…

Foto-foto di blog ini, 1,2,3,4,5,6 semua foto suasana di TPI Bayah, Kabupaten Lebak, Banten selatan. Foto-foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Kolom Blog Adhi Ksp: Hamparan Sawah Nan Hijau dan Deburan Ombak Laut Selatan

Kolom Blog Adhi Ksp

Hamparan Sawah Nan Hijau dan Deburan Ombak Laut Selatan

APA yang Anda rasakan jika berada di desa yang jauh dari ingar-bingar kota, berada di tengah sawah nan hijau, mendengarkan kicauan burung dan menikmati deburan ombak laut selatan?

Inilah yang saya nikmati dalam perjalanan jurnalistik ke wilayah Banten selatan awal Oktober 2007 lalu. Hal-hal yang saya sebutkan ini, berada di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, kira-kira 250 km dari Jakarta.

Banyak yang bertanya pada saya, bagaimana caranya agar dapat menjangkau lokasi Desa Sawarna ini? Jika Anda membawa kendaraan sendiri, usahakan membawa mobil yang kokoh seperti misalnya jip Landrover, Taft Daihatsu atau sejenisnya. Pokoknya jangan jenis sedan deh. Soalnya kondisi jalan masih buruk, terutama di ruas Rangkasbitung (ibu kota Kabupaten Lebak) di Cileles-Malingping sejauh 27 km.


Namun selain itu, kondisi jalan dari kota kecamatan Bayah (137 km dari Rangkasbitung) ke Desa Sawarna sepanjang 12 km, sebagian di antaranya masih berbatu-batu. Saat perjalanan menembus hutan jati dan mahoni, panorama Pantai Ciantir sudah terlihat dari jauh. Anda akan melewati turunan tajam dengan kemiringan 45-60 derajat. Kalau musim kemarau, mungkin masih bisa diatasi. Tapi saat musim hujan, kondisi jalan itu tentunya berlumpur.


Setelah itu, Anda mulai dapat menikmati suasana alamiah pedesaan di Desa Sawarna.


Di desa ini, bukan hanya Pantai Ciantir yang dapat dinikmati, tetapi ada juga Pantai Legon Pari, Pantai Sepang dan Karang Bokor. Semuanya masih alami, jarang disentuh modernisasi yang dapat menyebabkan pantai ini terimbas polusi. Air laut masih sangat bening. Demikian juga pantai berpasir putih dan landai, memberi warna keindahan yang sempurna.

Saat matahari akan tenggelam, suasana di laut selatan menjadi eksotis. Deburan ombak berderu-deru, membuat pikiran tenang dan diliputi rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sebelum matahari pagi menyapa, saya dan rekan Pascal SB Saju yang bersama-sama menjelajahi Banten selatan ini, berjalan kaki dari homestay ke tepi pantai sejauh satu kilometer, hanya untuk menikmati deburan ombak laut selatan lagi. Ombak bergulung-gulung dengan ketinggian 3-5 meter, menjadi “surga” bagi penggemar olahraga “surfing”.

Bagi saya yang memang gemar berpetualang, perjalanan ini sungguh menyenangkan. Menempuh perjalanan jauh dengan medan yang sulit, sungguh sangat menantang.



Saya ingat saat bertugas di Kalimantan, saya menempuh perjalanan jauh dari Pontianak ke Putussibau di Kapuas Hulu, berangkat pukul 07.00 pagi, dan tiba pukul 21.00 di kota kabupaten paling ujung di Kalimantan Barat. Waktu itu saya bersama rekan Jannes E Wawa. Menjelajahi dan menaklukkan hutan Borneo yang ganas, dengan kondisi jalan berlumpur. Apalagi ketika jip Rocky Daihatsu yang saat itu kami kendarai, mengalami pecah ban. Kami harus mengatasi semua persoalan itu sendiri karena itu terjadi di tengah hutan!


Demikianpun, ketika saya mejelajahi wilayah Banten tengah ke selatan bersama Pascal Oktober ini, saya merasakan suasana petualangan serupa. Meski medannya tidak terlalu sulit -maklum, saya sudah merasakan medan yang lebih sulit di Kalimantan-, saya tetap menikmati petualangan alam yang menggairahkan ini.


Mungkin bagi orang lain, perjalanan semacam ini membosankan. Tetapi bagi saya, perjalanan ini adalah petualangan yang menyegarkan. Jauh dari hiruk-pikuk dan kemacetan Jakarta, kami menikmati keindahan pantai, mendengarkan deburan ombak, menikmati hamparan sawah nan hijau, merasakan gelap dan dinginnya goa-goa yang dihuni kelelawar di Desa Sawarna di pantai selatan Banten, serta menemukan keramahan penduduk desa ini.

Dari tepi Pantai Ciantir di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, rekan saya menulis memori “Sawarna cal/ksp” di atas pasir putih dan memotretnya sebagai kenang-kenangan hari terakhir berada di pantai yang masih “perawan” itu. Sungguh, perjalanan, pengalaman dan petualangan yang sangat berkesan!


FOTO-foto di blog ini dari atas (1) saya di tengah hamparan sawah nan hijau saat menuju Goa Lalay di Desa Sawarna -foto oleh Pascal (2) perempuan desa di antara tempat penyimpanan padi -foto oleh Adhi Kusumaputra (3) sunset di Pantai Ciantir -foto oleh Adhi Kusumaputra (4 dan 5) suasana laut selatan di tepi pantai -foto oleh Adhi Kusumaputra (6) foto memori tulisan di pasir pantai -foto oleh Adhi Kusumaputra.

KOMPAS

Selasa, 09 Oct 2007

Halaman: 27

Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi


Wisata
SAWARNA, KEINDAHAN YANG TERSEMBUNYI

Oleh Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra

Keindahan Desa Sawarna, desa di pantai selatan Kabupaten Lebak,
Banten, sejak lama menjadi buah bibir. Namun, hingga kini, keindahan
Sawarna yang memiliki pantai berpasir serta hutan suaka alam dan goa-
goa karst seakan sia-sia.

Salah satu persoalan utama yang menyebabkan Sawarna
tetap “tenggelam” adalah buruknya sarana jalan menuju desa itu, yang
berjarak 137 kilometer dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak.

Akibat buruknya kondisi jalan, waktu tempuh dari Rangkasbitung ke
Desa Sawarna hampir lima jam dengan menggunakan jip gardan dobel.
Kompas, yang melakukan perjalanan Sabtu (6/10) dari
Rangkasbitung, mengambil jalan menuju kota Kecamatan Malingping.
Namun, saat ini jalan rusak parah antara Cileles-Malingping sepanjang
27 kilometer, membuat laju kendaraan tersendat.

Namun, selepas Malingping, jalan beraspal dan mulus hingga kota
Kecamatan Bayah. Di sini pemandangan indah pantai selatan Bayah
dengan persawahan membuat pikiran pun sejuk. Deburan ombak pantai
selatan membuat hati tenang.

Dari Bayah, ambil jalan menuju Desa Wisata Sawarna. Dari sini,
kondisi jalan berbatu-batu dengan turunan tajam sampai 60 derajat,
membuat Anda kembali menikmati suasana off road. Namun, dari puncak
bukit di kawasan hutan yang dilintasi, terlihat jelas keindahan
Pantai Ciantir, pantai berpasir dengan garis pantai sepanjang 3,5
kilometer. Tak jauh dari pantai terlihat pula gerombolan kerbau di
sawah nan hijau. Sungguh indah suasana alami desa ini.

Jalan berbatu yang menurun dengan kemiringan 60 derajat hanya
dapat dilintasi jip bergardan dobel. Sulit bagi kendaraan seperti
sedan untuk melintasi kawasan desa wisata itu.

Setelah melintasi jalan berbatu-batu dengan medan yang sulit,
akhirnya kami tiba di homestay milik Husada Ata (62), mantan Kepala
Desa Sawarna (1977-1999). Meski ada lebih dari 30 homestay di Desa
Sawarna, tamu-tamu dari mancanegara lebih sering menginap di rumah
Husada.

Menginap di homestay di desa ini tarifnya antara Rp 50.000 per
orang per hari (tanpa makan) dan Rp 100.000 per orang per hari
(dengan makan tiga kali). Tidak sedikit pula yang memilih memasang
tenda dan kamping di tepi Pantai Ciantir.

Untuk menuju Pantai Ciantir, kami harus melintasi jembatan
gantung dari seberang rumah Husada, menyeberangi Sungai Cisawarna,
berjalan kaki sejauh satu kilometer. Dalam perjalanan yang ditempuh
selama 20 menit, kami melewati sawahnan hijau di kiri kanan jalan
setapak dan rumah-rumah penduduk berdinding bambu. Ada beberapa
homestay di dekat pantai, tapi mobil tak bisa masuk karena belum ada
jembatan menuju pantai.

“Surga” pencinta “surfing”
Sebaliknya, ombak besar menjadi “surga” bagi pencinta olahraga
surfing. Ombak pantai di Sawarna ini dianggap salah satu yang terbaik
bagi penggemar olahraga ini. Mike Neely (35) yang berasal dari Byron
Bay, Australia, tampak sedang berselancar di tengah gulungan ombak
laut selatan.

“Pantai yang indah, ombak yang bagus,” kata Mike, yang menginap
di homestay Sawarna hanya untuk surfing selama tiga hari. Hal senada
diungkapkan Kannenori Miura (58), warga negara Jepang, penasihat
Bupati Lebak urusan pendidikan lingkungan dan ekowisata.

“Penggemar surfing dari mancanegara sengaja datang ke Sawarna.
Potensi wisata sangat besar, tapi sayang infrastruktur jalan masih
kurang. Toilet di homestay-homestay di sini tidakmemenuhi standar
internasional. Makanan yang disajikan pun seharusnya hasil tangkapan
laut karena itu jauh lebih berkesan,” kata Miura.

Desa Sawarna ditetapkan sebagai desa wisata binaan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten sejak tahun 2000.
“Pejabat dinas kebudayaan dan pariwisata waktu itu membangun
beberapa saung dan lesehan di tepi Pantai Ciantir. Tapi untuk apa itu
semua jika sarana jalan menuju desa kami tetap dibiarkan rusak?”
ungkap Pelaksana Tugas Kepala Desa Sawarna Suhanda (37) kepada
Kompas, Minggu (7/10).

Jalan di desa ini baru diaspal tahun 2001. Sebelumnya masih jalan
berbatu, itu pun hasil pekerjaan tentara, tiga kali program ABRI
Masuk Desa.

Listrik masuk desa berpenduduk 5.755 jiwa ini tahun 1998.
Sebelumnya, hingga tahun 1990 warga desa yang berbelanja atau berobat
harus berjalan kaki ke Bayah sejauh 12 kilometer minimal empat jam
atau ke Cisolok sejauh 39 kilometer selama 10 jam. Sawarna
baru “terbuka” enam tahun terakhir ini.

Memang hanya orang-orang yang gemar berpetualang yang mau
menghabiskan waktu berjam-jam menuju Desa Sawarna.
Orang-orang asing datang untuk berselancar di ombak pantai
Sawarna, seperti dari Australia, Selandia Baru, Swedia, Meksiko,
Jepang, Perancis, dan Inggris, seperti tercantum dalam buku tamu di
homestay Husada.

“Kalau semua infrastruktur sudah memadai, Sawarna bisa
jadi ‘Bali kedua’. Bahkan Palabuhanratu pun bakal kalah pamornya,”
kata Husada, yang berharap desa yang dibangun kakek moyangnya itu
segera bersinar.

Foto: 1
Kompas/Adhi Kusumaputra
Pantai Ciantir, Desa Sawarna, Kecamatan Lebak, Banten, sekitar 237
kilometer dari Jakarta memiliki panorama indah.

Pembangunan Kawasan: Kota Kekerabatan Maja Masih Sebatas Angan


KOMPAS

Senin, 08 Oct 2007

Halaman: 27

Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi

Pembangunan Kawasan
KOTA KEKERABATAN MAJA MASIH SEBATAS ANGAN

Oleh Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra

Setelah 15 menit berlalu dari kantor Camat Maja di Maja, kami
tiba di gerbang Regency Maja di Jalan Raya Maja-Cikoneng, Kabupaten
Lebak, Rabu (3/10) lalu. Di puncak enam tiang pengapit tiang utama di
gerbang itu bertengger patung burung berukuran besar. Badan tiang-
tiang itu kotor penuh coretan dan tulisan tangan-tangan iseng.

Tulisan itu merefleksikan kekacauan pikiran, sekaligus protes
warga sekitar atas kegagalan Regency Maja membangun komunitas baru.
Regency adalah kawasan yang dipersiapkan untuk perumahan sejak tahun
1996. Meski demikian, saat ini tak ada tulisan atau tanda apa pun
yang menunjukkan Regency Maja dibangun oleh PT Majasani Pratama.

Juga tidak ada tanda, simbol, atau tulisan apa pun yang
menunjukkan kata Regency Maja, kecuali enam tiang yang penuh coretan
itu, yang dijadikan gapura dengan dua jalur jalan masuk dan keluar.
Di sisi kanan gerbang ada tiga rumah toko atau ruko yang dibangun
dalam satu paket bangunan. Kondisinya juga sudah rusak.

Di dua sisi jalan masuk tumbuh pohon-pohon palem. Di sisi kiri
juga terdapat sejumlah tiang listrik untuk penerangan jalan meski
jaringan listrik belum ada. Di dalam kompleks itu tidak ada satu pun
bangunan rumah, kecuali hamparan padang ilalang dan rumput liar yang
menghiasi bukit-bukit kecil.

Rusak dan dijarah
M Yusuf Supiadin (38), warga yang membangun rumah di Jalan Raya
Maja-Cikoneng, tepat di seberang gerbang Regency Maja, menuturkan,
sebenarnya PT Majasani Pratama sudah pernah membangun lebih dari 100
rumah di Regency Maja. Tetapi, tahun 2002-2003 rumah-rumah itu tidak
kelihatan wujudnya lagi.

Seluruh material bangunan, mulai dari atap, plafon, kaca jendela,
daun pintu, dan kusen, dijarah orang-orang yang tidak dikenal.
Bahkan, batu-batu fondasi dicungkil dan diambil setelah terlebih
dahulu membongkar lantai semen. Tulisan atau coret-coretan di tiang
gapura itu juga adalah bentuk lain dari tindakan kriminal serupa.

Regency Maja terletak di Desa Tanjung Sari, salah satu desa di
Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. PT Majasani Pratama memiliki lahan
seluas 153,89 hektar dari luas lahan yang dimohon 200 hektar. Namun,
tanah yang telah dibuka 37 hektar, dengan pembangunan fisik untuk
lebih dari 100 rumah itu sekitar 2,27 hektar.

Saat ini Regency Maja hanya berupa lahan kosong. PT Majasani
Pratama adalah salah satu dari 16 pengembang yang menguasai lahan di
belasan desa di kawasan Maja. Setelah pemekaran pada tahun 2004, Maja
dibagi menjadi dua, yakni Kecamatan Maja (12 desa) dan Kecamatan
Curug Bitung (9 desa).

Tidak hanya itu, pengembang lain, semisal PT Casso Utama yang
memohon tanah seluas 50 hektar di Desa Cilangkap, juga sudah dapat
membebaskan 48,98 hektar. Namun, perusahaan itu belum pernah
melakukan pembukaan lahan dan pembangunan fisik. Saat ini sebagian
kecil lahan digarap warga.

Hingga saat ini pula, lahan milik lebih dari 10 pengembang
ditinggal kosong. Kompleks yang sudah memiliki bangunan rumah pun,
seperti PT Bambu Kuning Mitra Serasi di Desa Maja, masih bermasalah.
Lahan yang dibebaskan 211,71 hektar melebihi luas yang
dimohonkan,yakni 200 hektar.

Namun, dari 40 hektar lahan Bambu Kuning yang sudah dibuka untuk
rumah-rumah tipe 21 hanya sebagian kecil yang telah dihuni dan dibeli
warga. Sebagian lain rusak tidak terawat dan banyak materialnya
hilang diambil orang. Lahan sisa seluas 170 hektar dibiarkan merana.
Iming-iming

Pasangan suami-istri Nanang (36) dan Suharia (35), misalnya,
sudah mengambil rumah tipe 21 di Bambu Kuning. Pasangan Ery (37) dan
Yanti (31) juga sudah sembilan tahun tinggal di Bambu Kuning. Namun,
setiap hari warga kesulitan transportasi dan air bersih. “Dahulu,
ketika kompleks itu dibangun, ada promosi besar-besaran bahwa akan
ada jaringan air leding dan jalan, serta mobil penumpang,” kata
Yanti.

Banyak lahan yang dahulu kala milik warga, negara, dan hak ulayat
telah beralih kepada pengembang pada tahun 1994-1996. Warga beramai-
ramai melepaskan lahan meski ada di antaranya telah berupa kebun atau
lahan pertanian, baik sawah tadah hujan maupun tegalan. Ternyata
tanah yang dulu sempat menghasilkan bagi warga, kini menjadi lahan
tanpa hasil.

Kasim (80), warga Desa Cilangkap yang menjual 7.000 meter persegi
pada tahun 1994 kepada PT Casso Utama, adalah salah satu contoh. Dia
merasa kecewa. H Suari (70), warga Desa Tanjung Sari yang melepas
lebih dari 20.000 meter persegi kepada Regency Maja, adalah contohnya
yang lain. Warga saat itu mau melepas kebunnya karena diiming-imingi
kemajuan dan peningkatan kesejahteraan rakyat Maja.

Data yang diperoleh dari Badan Pertanahan dan Badan Perencanaan
dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menyebutkan, lahan
yang dimohon oleh 16 pengembang itu seluas 5.796 hektar. Lahan yang
telah dibebaskan hingga tahun 2003 seluas 3.565,49 hektar. Namun,
pembukaan lahan sangat terbatas, yakni baru 291 hektar, dan
pembangunan fisik terjadi di lahan seluas 78,82 hektar.

Saat itu Maja hendak dibangun menjadi kota baru bersama dua
wilayah lain, yakni Kecamatan Tenjo di Kabupaten Bogor serta
Kecamatan Cisoka di Kabupaten Tangerang. Kota baru itu dalam satu
kawasan kota baru bercitra Indonesia dengan pusatnya di Maja.
Segitiga Maja, Tenjo, dan Cisoka itu lalu dinamai kawasan Kota
Kekerabatan.

Ada tujuh pengembang yang telah menguasai lahan di Cisoka, dengan
total lahan 2.650 hektar. Satu pengembang, yakni PT Gunung Pertiwi,
juga diberi keleluasaan untuk menguasai 3.000 hektar di Tenjo, tetapi
kemudian lahan itu dijual ke PT Mitra Abadi Utama. Oleh karena itu,
total pengembang kawasan yang menguasai lahan di segitiga Maja,
Cisoka, dan Tenjo sebanyak 24 badan usaha. Total luas lahan yang
dikuasai 10.900 hektar.

Mimpi buruk
Dicekoki berbagai iming-iming akan masa depan baru yang jauh
lebih baik, warga pada tahun-tahun itu rela melepaskan tanah mereka
kepada pengembang. Kota baru yang dilukiskan sebagai Kota Kekerabatan
pada 10-12 tahun silam itu hingga saat ini belum terwujud, sementara
warga kehilangan tanah dan tidak bisa lagi leluasa menggarap
lahannya. Kondisi itu adalah mimpi buruk yang panjang bagi warga.

Kepala Bappeda Lebak Amir Hamzah mengatakan, pembangunan
permukiman di Maja itu berhenti, lebih karena faktor krisis moneter
yang melanda bangsa ini pada tahun 1997/1998. Banyak pengembang,
berikut bank yang mendanai proyek-proyek perumahan di kawasan Maja
gulung tikar.

Rencana membangun Maja menjadi Kota Kekerabatan, yang ditandai
terhubungnya satu perumahan dengan kompleks perumahan lain menjadi
satu kesatuan, tidak terwujud. Infrastruktur tidak juga dibangun.
Sementara tanah warga telah telanjur beralih kepada para pengembang
kawasan.

Maja menjadi simbol kapitalisasi tanah rakyat dan rakyat menjadi
terpinggirkan. Simbol keterpinggiran itu dapat dilihat di Tanjungsari dan
Cilangkap. Di dua desa itu tampak rumah-rumah penduduk yang reyot dan
sulit diperbaiki serta jalan-jalan desa rusak parah. Jaringan jalan
antara kota Maja, Tenjo, dan Cisoka sama buruknya. Revitalisasi
kawasan Maja memang masih sebatas angan-angan.

FOTO di blog ini foto rumah-rumah kosong dan dibiarkan rusak di Perumahan Bambu Kuning, Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Desa Wisata: Lahan di Desa Sawarna Dikuasai Pihak Luar


KOMPAS

Senin, 08 Oct 2007

Halaman: 26

Penulis: cal; ksp


Desa Wisata
LAHAN DI DESA SAWARNA DIKUASAI PIHAK LUAR

Rangkasbitung, Kompas

Sebagian besar tanah di Desa Wisata Sawarna, Kecamatan Bayah,
Kabupaten Lebak, Banten, dikuasai orang-orang Jakarta, Bogor,
Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu. Dari 3.200 hektar luas desa wisata
itu, 1.909 hektar atau 60 persen di antaranya dikuasai pihak lain.
Sisanya, 1.291 hektar, untuk tegalan, sawah, dan permukiman bagi
warga.

Pelaksana Tugas Kepala Desa Sawarna, Suhanda (37); mantan Kepala
Desa (1977-1999), Hudaya Ata; serta tokoh masyarakat yang juga guru
SDN 3 Sawarna, Aip Saripudin; mengungkapkan hal itu secara terpisah
di Desa Sawarna, Minggu (7/10). Desa Sawarna terletak 137 kilometer
dari Rangkasbitung atau 237 km barat daya Jakarta.

Sawarna ditetapkan sebagai desa binaan wisata Provinsi Banten
pada tahun 2000. Desa itu dihuni 5.755 jiwa atau 1.440 keluarga.
Sejumlah pihak luar sudah mulai menguasai tanah di Sawarna sejak 1994-
1996, bersamaan dengan rencana pembangunan Kota Kekerabatan Maja.

Menurut Suhanda, dari luas total Desa Sawarna, sekitar 1.000
hektar di antaranya dikuasai PT Perhutani. Pada 1994-1996, sekitar
600-800 hektar lagi tanah ladang atau tegalan serta kebun milik warga
dibebaskan PT Alam Permai Sawarna. “Tetapi, status hukumnya belum
jelas,” katanya.

Ia mengatakan, tanah dibeli dari warga dengan harga murah. Pada
1994 itu, tanah dihargai Rp 100-Rp 600 per meter persegi (m2).
Padahal, harga tanah saat itu Rp 2.000-Rp 5.000 per m2.
Pada 1994, PT Sawarna Mitra Abadi juga menguasai lahan 89 hektar
di daerah atas Pantai Legon Pari hingga Pantai Sepang.

Aip, Hudaya, dan Suhanda sama-sama mengatakan, lahan yang
dikuasai pihak luar itu untuk kawasan usaha agrowisata. Sawarna
sedang dikembangkan sebagai kawasan wisata, tetapi saat ini telantar.
Penduduk desa berjumlah 1.440 keluarga itu kini kesulitan lahan.
(CAL/KSP)
FOTO di blog ini foto suasana sawah di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten selatan. Lihatlah gerombolan kerbau di sawah itu. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Wisata: Segar Berendam di Kolam Cipanas Lebak


KOMPAS

Minggu, 07 Oct 2007

Halaman: 4

Penulis: Kusumaputra, R Adhi; Saju, Pascal SB


Wisata
SEGAR BERENDAM DI KOLAM CIPANAS LEBAK

Salah satu lokasi wisata rakyat yang sering dikunjungi adalah
tempat pemandian air panas Tirta Lebak Lestari di Desa Cipanas,
Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten.
Lokasinya sekitar 40 kilometer dari Rangkasbitung, ibu kota
Kabupaten Lebak, berada di tepi Jalan Raya Cipanas, di ruas
Rangkasbitung-Jasinga. Sumber mata air panas belerang terus muncul
tanpa habis-habisnya. Bahkan, belum lama ini, muncul lagi sumber air
panas baru di dekatnya.

Beberapa orang asing dari Swiss dan Perancis yang datang ke
pemandian air panas itu berkomentar, tempat ini salah satu pemandian
air panas terbaik di dunia. Kolam air panas dengan suhu antara 45
derajat dan 80 derajat Celsius itu terbagi dalam beberapa kolam.

Air panas di Cipanas, Lebak, ini diyakini dapat menyembuhkan
berbagai penyakit kulit. “Kalau merasa capek dan pegal- pegal,
berendam saja di sini. Ada juga yang ingin cari jodoh, mandi di
sini,” kata Rahmat (62), pengelola pemandian air panas Tirta Lebak
Lestari, Jumat (5/10).

Menurut dia, banyak warga yang berusia lanjut sampai 80 tahun
lebih masih suka berendam air panas di pemandian itu.

Rahmat bertutur, pada saat kakeknya, H Kardan, menjabat Kepala
Desa Cipanas sejak 1925 hingga 1945, pemandian air panas itu
digunakan pejabat kolonial Belanda sejak tahun 1927. Orang Belanda
itu membangun dua kamar pemandian air panas, selain rumah
peristirahatan.

“Menurut cerita kakek, pejabat kolonial Belanda itu biasanya
Sabtu datang ke Cipanas, bermalam di sini, berendam air panas, lalu
Minggu pergi memancing,” kata Rahmat. Namun, setelah zaman
pendudukan Jepang, pemandian air panas itu malah tidak dirawat.
Rahmat mulai membenahi lagi pemandian air panas itu tahun 1983.

Dia membangun dua bak air panas lagi sehingga jumlahnya empat bak
dengan kamar tertutup. Dua lainnya sebelumnya dibangun pejabat
kolonial Belanda.

Ia juga membangun lahan parkir di depan yang mampu menampung 500
motor dan 25 mobil, selain tempat istirahat dari bambu di sekeliling
kolam besar.

Tahun 2003, Pemerintah Kabupaten Lebak membantu membangun kolam
air panas yang dapat menampung 300 orang sekaligus. Jumlah pengunjung
meningkat dan target pajak Rp 18 juta per tahun selalu terpenuhi.

Dengan tiket Rp 5.000 per orang dewasa dan Rp 3.000 per anak,
pemandian air panas ini dikunjungi lebih dari 10.000 orang per
tahun. “Sembilan puluh persen pengunjung dari luar Kabupaten Lebak
seperti dari Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Jakarta,” ungkap Rahmat.
(R ADHI KUSUMAPUTRA/ PASCAL S BIN SAJU)

Foto: 1
Kompas/Adhi Kusumaputra

Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki tempat wisata pemandian
air panas di Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, sekitar 40 kilometer
dari Rangkasbitung. Sumber mata air belerang ini diyakini dapat
mengobati berbagai penyakit, Jumat (5/10).

Pantai Ciantir, Desa Sawarna, Bayah, Lebak

Kolom Blog Adhi Ksp

Pantai Ciantir, Desa Sawarna, Bayah, Lebak

Dalam perjalanan jurnalistik ke wilayah Banten selatan, saya bersama kolega, Pascal SB Saju mengunjungi Desa Wisata Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, sekitar 250 km dari Jakarta. Di sini, kami menikmati keindahan Pantai Ciantir, salah satu pantai di Sawarna.


Ombak di Pantai Ciantir ternyata “surga” bagi para pencinta “surfing”. Banyak penggemar “surfing” sengaja datang ke Sawarna, hanya untuk “surfing”. Salah satunya adalah Mike Neely, WN Australia, yang sama-sama menginap di homestay Pak Hudaya, mantan Kepala Desa Sawarna (1977-1999). Sebelumya Mike sudah menjajal ombak di Cimaja, Pelabuhan Ratu, pantai selatan Sukabumi. Tapi Mike tak puas dan mencoba ombak Sawarna. Ternyata Mike mengaku puas dengan ombak di Pantai Ciantir, Sawarna ini.

Di kawasan Pantai Ciantir ini, terdapat dua batu yang disebut sebagai Tanjung Layar. Batu-batu ini menghambat abrasi karena ombak ganas Laut Selatan.

Menurut warga setempat, tanah di Desa Sawarna, sebagian sudah dikuasai oleh orang luar sejak tahun 1995. Ini berarti 12 tahun lalu, sejak Lebak dilirik orang Jakarta, terutama setelah rencana pembangunan Kota Kekerabatan Maja digulirkan, Sawarna juga dilirik untuk dikembangkan.


Krisis ekonomi yang menenggelamkan ekonomi Indonesia, menyebabkan banyak properti mati suri termasuk Kota Kekerabatan Maja dan pengembangan wisata Sawarna.

Ombak di laut lepas di Sawarna ini menjadi pilihan penggemar surfing dari mancanegara, termasuk dari Aruba, Karibia. Meskipun Sawarna masih tertinggal dari sisi infrastruktur, namun tetap dicari pencinta surfing. Inilah uniknya Sawarna.


Selain itu, Sawarna memiliki pantai berpasir yang landai. Keindahan pantai Sawarna ini, sayangnya, belum dilihat pemerintah setempat sebagai potensi pendapatan asli daerah. Padahal masyarakat Desa Sawarna sudah menerima kehadiran wisatawan asing dan nusantara. Warga setempat sejak lama menginginkan desa mereka maju dan berkembang. Setidaknya potensi wisata alam ini menjadi daya tarik utama.


Perjalanan jurnalistik ke Banten, termasuk ke Banten selatan sejak 2 Oktober lalu, menjadi pengalaman berkesan bagi kami. Tidak hanya melihat kemiskinan struktural di desa-desa di pedalaman Banten, kekeringan yang membuat warga makin menderita, kehidupan buruh tani dan nelayan di pantai selatan yang kian sulit dari hari ke hari. Tetapi kami juga menikmati perjalanan ke tempat wisata di Desa Sawarna dengan pantai nan indah.
Perjalanan jurnalistik ke pedalaman Banten ini menyisakan pertanyaan penting bagi saya: Indonesia sangat kaya raya. Alamnya indah, hasil buminya melimpah, tetapi mengapa rakyat Indonesia belum juga sejahtera? Siapa yang salah? Terlalu banyak koruptor-kah? Harus menunggu berapa Presiden lagi-kah?

Bayah, Lebak, 8 Oktober 2007
FOTO-foto di blog ini dari atas ke bawah (1) saya dengan latar belakang panorama Pantai Ciantir, Desa Sawarna -foto oleh Pascal (2) saya bersama pencinta ‘surfing’ Mike Neely dari Australia -foto oleh Pascal (3) Batu Tanjung Layar (4) Gelombang di Laut Selatan (5) Pantai Ciantir dengan pasir nan indah, 3,4,5 foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas, (6) foto saya bersama Pascal di tepi pantai – foto oleh Aip, pemandu.

Kabupaten Lebak: Dam Karian Bebaskan Tanah dan Rumah Belasan Ribu Warga Lebak

Pengantar

Salah satu hasil liputan bersama rekan Pascal SB Saju saat menjelajahi pedalaman Lebak, Banten, awal Oktober 2007.

KOMPAS

Jumat, 05 Oct 2007

Halaman: 28

Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi

Kabupaten Lebak
DAM KARIAN BEBASKAN TANAH DAN RUMAH BELASAN RIBU WARGA LEBAK

Oleh Pascal S Bin Saju/R Adhi Kusumaputra

Haji Mudi (56), warga Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten
Lebak, Banten, pasrah. Rumah dan sawahnya yang seluas dua hektar
dipastikan tergusur proyek pembangunan Dam atau Bendungan Karian.
“Bagi saya, yang penting rakyat tidak dirugikan. Saya mendukung
pembangunan bendungan itu jika tujuannya untuk kepentingan banyak
orang,” kata Mudi, yang ditemui Kompas, Kamis (4/10).

Mudi hanyalah satu dari lebih dari 17.369 warga yang bermukim di
11 desa dari tiga kecamatan di Kabupaten Lebak, yang tergusur proyek
pemerintah itu. Tiga kecamatan itu adalah Maja, Sajira, dan Cimarga.
Rumah Mudi berukuran 8 meter x 12 meter yang dibangunnya tahun
1990 dan sawahnya seluas dua hektar bakal lenyap. “Jangan coba-coba
merugikan dan menipu rakyat,” kata ayah enam anak dan kakek lima cucu
itu.

Syarifudin (70), warga RT 01 RW 03, Desa Calungbungur, Kecamatan
Sajira, Lebak, juga tidak keberatan rumah dan sawahnya harus diambil
untuk dam.

“Tapi kami berharap kami dipindahkan ke lokasi yang tidak terlalu
jauh, bersama tetangga yang sama,” kata Syarifudin dalam bahasa lokal.
“Saya mah tak masalah jika tujuannya untuk memakmurkan rakyat.
Tapi jangan kami dirugikan. Kami tidak mau ganti rugi, tapi juga
bukan ganti untung. Kami minta sewajarnya,” kata Syarifudin.

Mudi dan Syarifudin termasuk warga yang setuju dengan rencana
pemerintah membangun Dam Karian. Rumah mereka berada tak jauh dari
Sungai Ciberang.

Namun, Mumun (20), warga Desa Calungbungur lainnya, belum dapat
membayangkan di mana dia akan tinggal jika semua rumah dan lahan di
sekitar betul-betul lenyap. Kasminah (40), warga desa yang sama, juga
baru saja merenovasi rumahnya. “Kami belum tahu akan pindah ke mana.
Tapi jangan jauh-jauh dari sini,” harapnya.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Lebak
Amir Hamzah, yang ditemui Kompas hari Kamis pagi, menjelaskan, saat
ini pemerintah kabupaten melakukan sosialisasi pengadaan tanah untuk
dam itu kepada warga di desa-desa.

“Pemerintah Kabupaten Lebak mendukung proyek pusat ini asalkan
rakyat tidak dicabut dari akarnya. Jika mereka petani, maka di lokasi
pindahan, mereka juga harus bisa jadi petani,” kata Amir Hamzah.
“Kehadiran Bendungan Karian kelak akan menguntungkan Lebak karena
daerah itu akan menjadi lokasi wisata tirta dan meningkatkan
pendapatan asli daerah. Selain itu, sawah-sawahdi Lebak dan wilayah
Banten lainnya tak akan kekeringan,” katanya.

Pasokan air ke Jakarta
Bendungan Karian dibangun dengan biaya Rp 3,3 triliun, dana dari
pemerintah pusat. Jika bendungan ini beroperasi tahun 2011, pasokan
air untuk Jakarta, Tangerang, dan Banten akan terpenuhi dan
menyelesaikan persoalan krisis air. Luas lahan yang dibutuhkan untuk
dam ini 1.740 hektar.

Camat Sajira Mohd Yusuf, yang ditemui di kantornya kemarin siang,
mengakui 3.007 rumah di delapan desa di wilayah Kecamatan Sajira
dipastikan lenyap. Sekitar 15.000 dari jumlah 44.826 warga Kecamatan
Sajira harus dipindahkan ke lokasi lain.

Wilayah desa terluas yang tergusur proyek dam ini adalah Desa
Pajagan (413 hektar) dan Desa Calungbungur (213 hektar). Desa-desa
lainnya adalah Mekarsari, Sukajaya, Bungurmekar, Sukarame,
Sindangsari, dan Sajira.

Delapan puluh persen lahan di Kecamatan Sajira yang bakal hilang
adalah tanah darat dengan tanaman keras berikut kebun karet dan buah-
buahan.

Setiap kali proyek pembangunan menggusur rumah dan tanah warga,
setiap kali pula rakyat tak punya pilihan dan selalu patuh.
Tapi jangan lagi merugikan rakyat, seperti pembebasan tanah untuk
proyek Kota Kekerabatan Maja, di mana rakyat tersisih di kampung
sendiri.

“Kehadiran Bendungan Karian kelak akan menguntungkan Lebak karena
daerah itu akan menjadi lokasi wisata tirta.”
Amir Hamzah

Foto:
KOMPAS/ADHI KUSUMAPUTRA
Sungai Ciberang di Kabupaten Lebak, Kamis (4/10), diharapkan menjadi
sumber utama air baku Bendungan Karian. Air bendungan ini menggenangi
lahan seluas 1.740 hektar, meliputi 11 desa di tiga kecamatan, yaitu
Sajira, Maja, dan Cimarga. Sebanyak 17.369 warga segera direlokasi.
Warga berharap relokasi tidak merugikan mereka.

Kabupaten Lebak Kekeringan, Warga Terpaksa Minum Air Kali

KOMPAS

Jumat, 05 Oct 2007

Halaman: 28

Penulis: cal; ksp

KABUPATEN LEBAK KEKERINGAN
Warga Terpaksa Minum Air Kali

Rangkasbitung, Kompas
Kemarau panjang yang mulai bergulir sejak Juli lalu kini semakin
luas melanda desa-desa di Kabupaten Lebak, Banten. Dampaknya terhadap
kehidupan petani atau masyarakat. Sawah atau ladang dan bahkan sumur
mereka kering kerontang.

Demikian hasil pemantauan Kompas yang mengunjungi beberapa daerah
di Lebak dalam tiga hari terakhir hingga Kamis (4/10), ditambah
keterangan dari warga dan pejabat terkait di Lebak. Desa-desa yang
sempat dikunjungi berada di wilayah Kecamatan Maja, Sajira, dan
Rangkasbitung.

Dede Supriyatna, Kepala Seksi Produksi Padi dan Palawija pada
Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, membenarkan, kekeringan melanda
hampir seluruh 28 kecamatan. Hingga 6 Agustus 2007, luas areal padi
dan palawija yang dilanda kekeringan mencapai 6.720,5 hektar.

Memasuki Oktober ini, hampir pasti dampaknya sudah lebih parah.
Pantauan Kompas di lapangan menunjukkan tidak ada areal irigasi
teknis atau semiteknis dan irigasi pedesaan di desa-desa di Maja,
Sajira, dan Rangkasbitung yang tidak kesulitan air. Persoalan yang
paling berat dialami petani desa yang hidupnya mengandalkan sawah
tadah hujan.

Sardawi (43), ayah enam anak, warga Desa Cilangkap, Maja,
membiarkan lahan sawah tadah hujan garapannya telantar. Pada musim
hujan yang lalu, sawahnya tidak menghasilkan karena kemarau menyergap
saat padi usia 70 hari. Lahannya yang seluas 0,5 hektar puso. Sejak
itu hingga kini belum terjadi hujan.

Persoalan serupa dialami warga di banyak desa di Lebak. H Muchdi
(56), warga Desa Sukarame, Sajira, yang memiliki lahan sawah tadah
hujan dua hektar, juga tidak mendapatkan hasil atau puso. Lahannya
tak diolah untuk palawija atau sayur-mayur karena tidak ada sumber
air terdekat.

Sumur-sumur di rumah warga, yang biasa dijadikan sebagai sumber
air minum, mandi, cuci, kakus, serta menyiram sayur di pekarangan,
telah mengering sejak 1,5 bulan lalu. Masalah itu, antara lain,
dialami warga di Kampung Kruyan, Panunggangan, dan Lebak Kopo, Desa
Calung Bungur, Sajira.

Misalnya, sumur di rumah pasangan Rowi (42) dan Kamsinah (40),
warga Lebak Kopo, yang dalamnya tujuh meter kini kering kerontang.
Begitu juga sumur di rumah Jumsiah (27) dan Sana’ah (26) yang
sedalam tujuh meter. “Sumur saya itu mulai kering sejak 1,5 bulan
lalu,” kata Sana’ah.

Sumur yang paling dalam di Lebak Kopo, milik Sakani (26), 10
meter, pun kering. “Warga di kampung ini, dan juga kampung lain,
terpaksa mengambil air di kali. Tak hanya untuk mandi dan cuci, air
untuk minum dan kebutuhan lain juga dari kali,” kata Nurohman (28),
warga Kruyan.

Di Kecamatan Sajira, 750 hektar lahan sawah mengalami kekeringan,
termasuk 150 hektar di antaranya sawah irigasi. “Jangankan sawah
tadah hujan, sawah irigasi pun kering,” kata Sekretaris Camat Sajira
Yayat Ruchiyat. (CAL/KSP)

FOTO di blog ini foto suasana kekeringan di Desa Tanjungsari, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten, oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas