Arsip Tag: Jajan Jazz

Kolom Blog Adhi Ksp: Jajan Jazz Tak Boleh Mati!

Kolom Blog Adhi Ksp

Jajan Jazz Tak Boleh Mati!

JAJAN Jazz tak boleh mati. Pernyataan ini diungkap seorang warga BSD, Andy F Noya. Datang bersama istri dan anaknya, Andy mengaku menikmati pertunjukan Jajan Jazz dalam suasana kaki lima di Taman Jajan BSD, Serpong, Tangerang, Sabtu (1/3) malam.

Menurut Andy, dalam perjalanan waktunya selama 24 kali pentas atau dalam dua tahun terakhir ini, Jajan Jazz mampu merekatkan hubungan antarwarga BSD. “Musik jazz mungkin hanya saluran, alat. Tapi esensi utama adalah kita, warga BSD bisa bertemu dan berkumpul di sini,” kata Andy F Noya, yang juga host Andy Kick di Metro TV itu.

Pemred Metro TV itu tampak kelihatan santai.

Jajan Jazz, komunitas musisi dan penggemar jazz yang selalu tampil di Taman Jajan BSD (dekat kolam renang Sektor 1) setiap Kamis malam pekan pertama, hadir untuk kali ke-25 dengan fotmat istimewa edisi ulang tahun.

Dua grup yang akan tampil di Java Jazz 7-9 Maret di Jakarta Convention Center, yaitu Tiwi Sakuhaci dan Bibus, muncul di Jajan Jazz. Selain itu grup pilihan seperti Bianglala Voice, Tiga Mawarni (bukan Iga Mawarni lho), New Breeze dan Travel, meramaikan Jajan Jazz yang merayakan ulang tahun kedua. Jumlah pengunjung tiga kali lebih banyak dari biasanya.

Suasana kaki lima di Taman Jajan BSD tetap akan dipertahankan oleh penggagas Jajan Jazz, Yunus Arifin. Dia menolak ajakan membawa Jajan Jazz ke lokasi “bintang lima”. Sebab tujuan utama Jajan Jazz saat didirikan adalah memperkenalkan musik jazz ke semua lapisan, termasuk di kawasan kaki lima.

Dedengkot jazz Indonesia, Peter F Gontha mengaku kaget ketika melihat betapa suasana Jajan Jazz BSD sangat merakyat. “Sungguh luar biasa usaha panitia membuat Jajan Jazz dapat dinikmati masyarakat di Taman Jajan ini. Saya sampaikan selamat kepada panitia,” kata Peter, yang mengaku sempat nyasar ke Lippo Karawaci.

Peter F Gontha, yang pekan depan akan menggelar Java Jazz di Jakarta Convention Center dan mendatangkan musisi jazz dari mancanegara itu, seakan tak percaya dengan apa yang disaksikannya di Jajan Jazz BSD. “Banyak orang bilang jazz hanya dinikmati kalangan atas. Ternyata di Jajan Jazz BSD, pendapat itu terbukti salah,” gumamnya.

Dedengkot jazz Indonesia lainnya, Benny Likumahuwa yang juga baru kali pertama ke Jajan Jazz BSD, mengatakan Jajan Jazz dapat mengantikan event jazz di Pasar Seni Ancol yang sudah lama lenyap. Benny suka dengan suasana kaki lima, di mana pengunjung bisa menikmati soto betawi atau pisang bakar dengan wedang jahe, sambil menikmati pertunjukan musik jazz bermutu.

BSD tentu saja beruntung memiliki warga pencinta musik jazz seperti Yunus Arifin dan kawan-kawannya. “Ini sebetulnya usaha warga BSD. Selama 24 kali pentas tanpa henti di Taman Jajan ini, Jajan Jazz tak pernah sepi. Karena itu wajar kalau pengembang Sinar Mas yang membangun BSD City memberi dukungan penuh acara ini,” kata Dhony Rahajoe, warga BSD yang juga pejabat komunikasi Grup Sinar Mas.

Benar kata Andy F Noya, Jajan Jazz tak boleh mati. Suasana guyub di BSD harus dipertahankan, antara lain melalui Jajan Jazz. Yopie Hidayat, Pemred Harian Kontan yang juga warga BSD malah mengusulkan BSD menciptakan suasana serupa di Taman Jajan setiap akhir pekan. Banyak warga BSD dari kalangan profesional, sengaja datang menyaksikan Jajan Jazz. Sukses selalu untuk Jajan Jazz!

FOTO di blog ini foto paling atas, saya bersama dedengkot jazz Indonesia Peter F Gontha (kiri) dan Benny Likumahuwa (tengah). Thanks to Mas Yudha. Foto tengah, foto grup Bibus di Jajan Jazz, dan foto bawah, foto para panitia Jajan Jazz, yang hampir semuanya warga BSD. Foto tengah dan bawah oleh Adhi Kusumaputra.

Kolom Blog Adhi Ksp: Jajan Jazz

Kolom Blog Adhi Ksp

Jajan Jazz

Jajan Jazz? Ya, Jajan Jazz! Menikmati jazz tak harus di lounge hotel bintang lima sembari meneguk wine, menyeruput jus jeruk atau pun menikmati cappucino. Menikmati jazz ya cukup di Taman Jajan BSD Serpong Tangerang, tempat pedagang kaki lima mangkal. Ada roti bakar, ada indomi rebus, ada soto, ikan bakar dan hidangan kaki lima lainnya.

Jajan Jazz kini menjadi ikon baru dalam dunia musik jazz Indonesia. Di sini, setiap Kamis malam pekan pertama, grup jazz pemula dan senior berkumpul menjadi satu. Grup jazz anak-anak muda itu bukannya baru belajar, tetapi mereka yang tampil, yang sudah pe-de muncul di depan khalayak pencinta musik jazz.

Saya rutin menikmati pergelaran Jajan Jazz di Taman Jajan BSD setiap Kamis malam pekan pertama. Pertama, lokasinya dekat dengan tempat tinggal. Kedua, ya memang suka jazz. Jadi, kalau setiap Jajan Jazz digelar, kalau tidak datang, rasanya ada yang kurang.

Pada Kamis malam kemarin dulu, salah seorang begawan jazz Indonesia, Ireng Maulana menyempatkan hadir. Yang menggembirakan, Ireng Maulana, begitu tahu ada potensi dan bakat luar biasa dari grup-grup jazz anak muda ini, langsung menyatakan akan membuat panggung Jajan Jazz dalam pergelaran Jakjazz November mendatang.

Ireng terpesona. Dia mengaku kaget karena dalam suasana “sederhana” dalam aroma kaki lima, Jajan Jazz justru eksis dan diminati penggemarnya. “Yang main, juga bagus-bagus,” kata Ireng yang baru kali pertama hadir di Jajan Jazz. Ireng terkagum-kagum melihat grup jazz anak muda membawa sendiri peralatan musik mereka.

Dalam Jajan Jazz Kamis pertama bulan April ini, muncul juga M Hindarto, mantan Kepala Polda Metro Jaya. “Wah saya muter-muter sampai satu setengah jam, mencari lokasi Taman Jajan ini. Sampai ke Puspiptek segala,” cerita Hindarto waktu saya temui dalam acara Jajan Jazz.

(Saya kenal Pak Hindarto sudah lamaa banget, waktu beliau masih jadi Direktur Samapta Polri, saya dapat tugas ikut polisi naik kapal Polri dari Tanjungpriok ke Batam selama 28 jam. Alhasil, saya mabukkk laut, tak tertahankan lagi. Lalu ketika Pak Hindarto jadi Kepala Polda Metro Jaya, saya masih wartawan kepolisian, dan namanya harum berkat cepatnya pengungkapan kasus pembunuhan pelukis Basoeki Abdullah oleh jajarannya, Adang Rismanto dkk).

Nah, kembali ke Jajan Jazz, Pak Hindarto memuji acara ini karena di sinilah bakat dan talenta musisi jazz Indonesia terlihat jelas. “Jajan Jazz boleh disebut sebagai wahana pencari bakat dan talenta. Ini bagus sekali,” kata penggemar jazz itu. Dia lalu membandingkannya dengan bidang olahraga. Seharusnya cabang-cabang olahraga juga punya wadah semacam Jajan Jazz ini. Ada tempat untuk bakat dan talenta baru, yang memudahkan mencari dan mendapatkannya.

Pak Hindarto sudah memakai tongkat, wah tanda usia sudah lanjut ya Pak. Tapi semangat Pak Hindarto dan istrinya tetap membara. Buktinya, meskipun pusing cari alamat Taman Jajan BSD, tempat Jajan Jazz digelar, toh Pak Hindarto tetap datang, menikmati suasana seadanya.

Suasana Kamis malam kemarin lebih ramai dari biasanya. Parkir mobil sampai harus di luar. Ini artinya jumlah pengunjung bermobil lebih banyak dari biasanya. Rupanya penggemar jazz di Jabodetabek sudah mulai tahu ihwal Jajan Jazz ini. Makanya tidaklah heran cukup banyak penggemar dan penikmat jazz datang dari berbagai wilayah.

Meskipun suasana Taman Jajan sangat natural dengan aroma kaki lima, toh penikmat musik jazz bermobil, tetap datang. Apalagi anak-anak muda yang baru belajar musik. Pedagang kaki lima di Taman Jajan BSD pun ternyata mulai menikmati musik jazz.

Saya kira kita semua harus memberi apresiasi kepada penggagas Jajan Jazz, sahabat saya Yunus Arifin, warga Nusa Loka BSD. Penggemar jazz ini bersama kawan-kawannya menggelar Jajan Jazz di Taman Jajan, dengan maksud agar jazz bisa dinikmati semua kalangan, semua lapisan masyarakat. Biayanya? Untuk membuat panggung, mereka urunan. Sekarang ada yang menyumbang meminjam sound-system. Pengembang BSD pun sejak dua bulan lalu, membantu pembuatan panggung.

Jajan Jazz kini menjadi ikon baru jazz Indonesia. Memang ada pergelaran internasional Java Jazz dan Jakjazz di panggung yang wah. Tapi Jajan Jazz cukup di panggung sederhana di lokasi sederhana dikelilingi pedagang kaki lima. Tapi dari sinilah, bakat dan talenta baru jazz Indonesia masa depan, lahir.

FOTO-FOTO di blog ini suasana di Jajan Jazz. Salah satunya foto saya bersama Ireng Maulana.

Ireng Maulana Manggung di Jajan Jazz BSD

KOMPAS CYBER MEDIA
Jumat, 06 April 2007 – 03:50 wib
Ireng Maulana Manggung di Jajan Jazz BSD
Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

TANGERANG, KOMPAS – Master jazz Indonesia Ireng Maulana ikut manggung di Jajan Jazz di Taman Jajan BSD, Tangerang, Banten, Kamis (5/4) malam. Ireng Maulana tampil bersama musisi senior lainnya, Jeffrey Tahalele, Abadi Soesman, Emand Saleh, Rudi Subekti dan Harjanto.
Kehadiran begawan jazz Indonesia dalam acara Jajan Jazz di BSD itu baru kali pertama. Ireng Maulana memuji Jajan Jazz sebagai wadah musisi jazz pemula, yang bisa bermain bersama musisi senior. “Bagus sekali,” kata Ireng. Dengan suasana sederhana di Taman Jajan, ternyata penggemar jazz datang dari berbagai wilayah.
“Saya kaget begitu tahu Jajan Jazz sangat memikat. Belum ada yang seperti Jajan Jazz. Grup musik yang main pun bagus-bagus,” kata Ireng yang berjanji setiap Kamis malam pekan pertama akan hadir dalam Jajan Jazz. Melihat bakat dan talenta kaum muda yang potensial, Ireng tidak risau dengan masa depan jazz Indonesia.
Jajan Jazz, Kamis malam kali ini lebih ramai daripada biasanya. “Mungkin Jumat hari libur sehingga penggemar jazz dari berbagai wilayah Jabodetabek hadir di sini,” kata penggagas Jajan Jazz, Yunus Arifin.
Penggemar jazz, M Hindarto, yang juga mantan Kepala Polda Metro Jaya, mengaku sengaja datang ke Jajan Jazz sampai nyasar dan keliling mencari lokasi Taman Jazz selama satu setengah jam. Meski demikian, Hindarto yang sudah membawa tongkat itu, memuji Jajan Jazz sebagai tempat pencari bakat.
“Banyak musisi jazz muda yang bagus-bagus tampil di Jajan Jazz,” kata pensiunan jenderal polisi bintang dua itu dalam percakapan dengan Kompas. Hindarto lalu membandingkan dengan bidang olahraga Indonesia yang mengalami kemunduran karena tak ada wadah seperti Jajan Jazz, pencari bakat dan talenta musisi jazz.
Grup jazz yang manggung di Jajan Jazz Kamis malam adalah Zinnia, Pro-Rejected, Pilot P, Bianglala Voices, Absteregio, Jazzmatic, selain musisi senior Abadi Soesman, Jeffrey Tahalele dan bintang tamu Ireng Maulana. “Ireng Maulana akan menjadikan Jajan Jazz sebagai tempat audisi musisi jazz yang akan tampil di Jakjazz November 2007. Setiap Kamis malam pekan pertama, Ireng Maulana akan terus hadir dalam Jajan Jazz,” kata Andre, pelaksana Jajan Jazz.
Ireng Maulana yang menyempatkan diri datang ke Jajan Jazz mengaku terkesan dengan suasana seperti ini. “Kami akan beri tempat khusus untuk Jajan Jazz dalam acara Jakjazz di Istora Senayan,” kata Ireng.

FOTO di blog ini foto salah satu grup baru, Zinnia saat tampil di Jajan Jazz BSD, wadah para musisi muda jazz Indonesia. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Jajan Jazz Rayakan Ulang Tahun Pertama

Pengantar

Jajan Jazz sudah menjadi salah satu ikon jazz. Ini komunitas penggemar jazz yang setiap Kamis pekan pertama, manggung di Taman Jajan BSD, Tangerang, Banten. Hari Kamis 1 Maret, Jajan Jazz merayakan hari jadi pertama dengan tumpengan dan bagi-bagi kaos “Jajan Jazz Lover”. (KSP)

KOMPAS CYBER MEDIA

Kamis, 01 Maret 2007 – 23:57 wib

Jajan Jazz Rayakan Ulang Tahun Pertama

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

TANGERANG, KOMPAS – Jajan Jazz, pertunjukan jazz yang digelar sebulan sekali di Taman Jajan BSD Tangerang, Kamis (1/3) ini merayakan hari jadi pertama. Dalam penampilan Kamis malam, Jajan Jazz menghadirkan musisi jazz senior dan yunior.

Penggagas Jajan Jazz BSD Yunus Arifin kepada Kompas Kamis malam mengatakan, pada ulang tahun pertama ini, digelar acara potong tumpeng dan bagi-bagi kaos.

Musisi jazz Jeffrey Tahalele mengatakan, yang istimewa pada Jajan Jazz malam ini hadir musisi jazz Belanda, Rick (keyboard) dari Grup Triba. “Rick datang bersama istrinya dari Hotel Sultan Jakarta datang ke Jajan Jazz BSD,” kata Jeffrey.

Grup jazz yang akan tampil di Java Jazz besok, Tiga Mawarni dan Triad, juga tampil di Jajan Jazz malam ini. “Jajan Jazz jadi ajang latihan tampil bagi musisi jazz kita,” katanya.

Jeffrey bersyukur Jajan Jazz bisa tampil rutin setiap Kamis pekan pertama di Taman Jajan berkat kesetiaan penggemar jazz. Hal senada diungkapkan musisi Abadi Soesman, yang berharap Jajan Jazz dapat melahirkan musisi jazz baru.

General Manager Corporate Communication Sinar Mas Group Real Estate and Property Dhony Rahajoe yang memberi sambutan menyampaikan rasa bangganya atas kreativitas warga BSD yang berhasil membangun komunitas jazz di BSD City. Jajan Jazz diselenggarakan secara konsisten setiap bulan, diisi oleh musisi pemula dan musisi legenda.

Penonton Jajan Jazz Kamis malam lebih ramai. “Mungkin bulan lalu, Jajan Jazz diserbu hujan sehingga kerinduan akan Jajan Jazz dilampiaskan malam ini,” kata Abadi Soesman.

FOTO di blog ini pertunjukan Jajan Jazz di Taman Jajan BSD, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Gaya Hidup: Nikmati Jajan Jazz di Kaki Lima

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 30 Desember 2006

Gaya Hidup

Nikmati Jajan Jazz di Kaki Lima

R Adhi Kusumaputra

Selama ini jazz identik dengan eksklusivisme, yang dinikmati orang-orang berduit di lounge hotel berbintang sambil menyantap steak dan meneguk wine. Tapi kini ada tren gaya hidup, yaitu menikmati musik jazz di panggung yang dikelilingi pedagang kaki lima sambil menyeruput teh panas dan makan roti bakar.

Entah siapa yang membuat jazz di Indonesia masuk ke kalangan atas. Tapi yang pasti, dari sejarahnya, jazz sebetulnya awalnya dinikmati masyarakat menengah bawah, dan itu harus dikembalikan ke habitat awal.

“Jazz harus dapat dinikmati siapa saja. Karena itu, kami menggelar Jajan Jazz di Taman Jajan Sektor 1 BSD Tangerang, yang makanan dan minumannya dari pedagang kaki lima. Ternyata dari sini, komunitas jazz hidup. Bahkan dari Jajan Jazz, muncul musisi-musisi jazz muda berbakat,” kata Yunus Arifin, penggagas Jajan Jazz dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.

Jajan Jazz digelar kali pertama pada Maret 2006. Yunus Arifin, penikmat musik jazz yang tinggal di Nusa Loka BSD, bersama teman-temannya musisi jazz, seperti Taufik Sis (drumer), Morgan (gitaris), Jeffrey Tahalele (pemain bas), dan Harry Mukti (pembuat drum), menggagas: mengapa tidak membangun komunitas jazz?

Berbekal idealisme yang tinggi, tanpa perlu berwacana panjang lebar, mereka berhasil menggelar Jajan Jazz pertama di Taman Jajan BSD. Mereka memilih hari Kamis malam setiap awal bulan karena sengaja tidak memilih hari yang nyaman.

Dalam perjalanan waktu, Jajan Jazz makin diminati dan menjadi ajang apresiasi musisi muda yang belum punya nama. Setelah tampil dua-tiga kali, musisi muda akhirnya tampil percaya diri.

Musisi senior, seperti Abadi Soesman, bergabung setelah Jajan Jazz digelar kali keempat pada bulan Juni 2006. Abadi bukan hanya tampil, tetapi juga memberikan dukungan dengan meminjamkan peralatan sound system.

Abadi Soesman mengamati, dari Jajan Jazz, lahir musisi muda jazz baru yang potensial. “Ini luar biasa,” katanya. Hal senada diungkapkan drumer legendaris, Benny Mustafa (67), yang mendukung Jajan Jazz sebagai sarana belajar musisi muda.

“Anak-anak muda perlu penyaluran yang positif. Kalau tidak, mereka lari ke mana-mana yang arahnya negatif. Salah satunya kegiatan positif, dengan bergabung dalam grup band jazz seperti ini,” kata Benny yang seangkatan Buby Chen.

Tampilkan kesederhanaan
Jadi, jangan bayangkan menikmati jazz di Jajan Jazz sambil menyantap steak. “Justru keseharian dan kesederhanaan yang ingin kami tampilkan di sini. Menikmati musik jazz sambil makan roti bakar, mi rebus, dan menghirup teh manis yang hangat, mengapa tidak? Karena inilah konsep awal kami menggelar Jajan Jazz,” kata Andre (35), salah seorang penggagas, yang kini mengurus surat-menyurat di e-mail jajanjazz@hotmail.com.

“Memang inilah keunikan Jajan Jazz. Tak ada jarak atau batas antara musisi senior dan musisi pemula. Tak ada batas antara musisi dan penonton. Komunitas jazz dengan gaya hidup seperti ini layak dipertahankan, bahkan perlu dikembangkan,” kata Dhony Rahajoe, warga Giri Loka BSD, yang rajin menikmati Jajan Jazz.

Dhony sempat terheran-heran melihat seorang remaja putri datang ke Abadi Soesman dan Jeffrey Tahalele, menyampaikan keinginannya untuk tampil di panggung.

“Mana ada penyanyi pemula seperti Ria diiringi musisi senior sekelas Abadi, Jeffrey, dan Morgan? Ini hanya mungkin terjadi di Jajan Jazz,” kata Andre.
Lahirkan banyak musisi baru

Dari Jajan Jazz, lahir puluhan musisi muda baru dan grup bandnya. Abadi mengamati betul hal ini, dan dia gembira ternyata Jajan Jazz memberi kontribusi besar bagi perkembangan musik jazz di Indonesia.

Tampil di Jajan Jazz, mereka tidak dibayar seperti manggung di Mario‚Äôs Place. “Tapi di Jajan Jazz-lah kami belajar tampil percaya diri bermain jazz. Bagi grup yang belum punya nama, ini media interaktif berkomunikasi dengan musisi senior,” kata Rossen. Vodka bahkan tampil dalam Jakjazz bersama musisi jazz dunia belum lama ini.

Grup Family Band yang baru pertama muncul di Jajan Jazz mengaku inilah arena yang pas bagi komunitas pencinta musik jazz. Baby (22) yang bekerja di Club Golf sangat menikmati suasana ini.

Grup Acapella, Bianglala, kumpulan guru musik, mengaku banyak belajar dari Jajan Jazz. “Inilah street jazz. Bagi kami, bermain jazz harus lepas,” kata Freddy (42), guru musik di Tutor Time Kemang dan Pondok Indah Jakarta.

Di masa depan, Yunus optimistis Jajan Jazz berkembang. Dia berharap Jajan Jazz tetap hidup, dan mungkin suatu saat dapat dikemas menjadi pertunjukan yang memikat.

FOTO di blog ini salah satu pertunjukan Jajan Jazz, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.horizon-line.com/jazztoday/jajan.html