Tag Archives: German Center

Kantor Bernuansa Pedesaan, Tonjolkan Suasana Alam

Pengantar
Mengapa banyak kantor memiliki konsep ruangan yang sama? Di German Centre, BSD Tangerang, ada kantor bernuansa pedesaan yang menonjolkan suasana alam. Namanya Sigma, perusahaan softare yang memberi layanan electronic data processing pada lebih 50-an bank.

KOMPAS
Jumat, 13 Jun 2003
Halaman: 35
Penulis: ksp

KANTOR BERNUANSA PEDESAAN, TONJOLKAN SUASANA ALAM

DESAIN kantor di gedung- gedung tinggi kerap mengacu pada standar
internasional. Steril, bersih, dan mengilap. Karyawan dikotak-
kotakkan pada satu meja dengan batas pemisah yang tegas. Sementara
pimpinan kantor memiliki ruangan tersendiri yang lebih luas dan mewah
dengan penjagaan keamanan berlapis.

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang software, satu di antara banyak perusahaan yang menepikan hierarki atasan-bawahan. Perusahaan yang membuka kantornya di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, ini mengedepankan unsur alam pada desain kantornya yang asri.

Mereka yang baru kali pertama menginjakkan kaki di kantor seluas
2.000 meter persegi tersebut seakan tak percaya, sebuah kantor yang
berbasis teknologi canggih yang memberikan pelayanan electronic data
processing (EDP) pada hampir 50 bank, dengan kreatif memilih desain
bernuansa pedesaan Jawa Barat yang menonjolkan suasana alam.

“Dari sebuah desa, bisa ditemukan suasana kekeluargaan, gotong
royong, kemurnian, dan keluguan. Unsur-unsur ini penting untuk
dikembangkan menjadi semacam jiwa sebuah keluarga besar,” kata Eddy
Sugiri (51), Direktur Sigma, pekan lalu.

Pemilihan desain suasana pedesaan pada kantor ini dilakukan oleh
pimpinan, staf, dan karyawan melalui proses kreatif. Semua sepakat
perlunya kembali ke alam agar tercipta perasaan bebas dan damai, yang
pada gilirannya membuka keinginan berkontemplasi. Dari sini muncul
kesadaran yang membawa segenap karyawan menjadi lebih bernilai.
Filosofi inilah yang dikembangkan di Sigma.

Dengan desain interior kantor seperti ini, tak ada garis hierarki
atasan-bawahan yang menyolok. Setiap karyawan bebas menggunakan
komputer di meja mana saja untuk melakukan pekerjaan mereka.

“Siapa yang punya leadership, dia yang tampil di depan,” kata
Eddy Sugiri, yang mendirikan Sigma bersama saudara kandungnya, Totok
Sugiri (50). Kantor yang paperless, tidak menggunakan kertas, ini
mengutamakan komunikasi dengan web, menggunakan laptop, dan komputer.

Interior kantor yang khas seperti ini menghilangkan hambatan
karena karyawan bisa bertemu dan berkomunikasi dengan pimpinan kapan
saja. Tak ada kesan karyawan “menghadap” pimpinan yang berada di
ruangan tersendiri.

Desain suasana pedesaan Jawa Barat dengan musik tradisional
degung Sunda ini mencerminkan sifat kesederhanaan, tata krama yang
sopan, dan nilai kegotongroyongan. “Ini semua menjadi nilai tambah.
Suasana seperti ini membuat karyawan betah di kantor. Saya tidak
melihat karyawan yang bergegas membereskan meja dan buru-buru ingin
pulang,” kata Eddy, arsitek lulusan universitas di Aachen, Jerman.

Ada pertanyaan, apakah suasana kantor seperti ini membuat
karyawan mengantuk? “Kalau mengantuk, ya tidur saja asal pekerjaan
beres,” sahutnya. Eddy memilih desain pedesaan yang mengutamakan
unsur kayu, batu, batu bata, juga menghadirkan lampu tradisional dan
boboko.

Penggunaan bahan-bahan material lokal ini malah membuat biaya
lebih murah separuh dibandingkan dengan desain kantor pada umumnya.
Jika banyak perusahaan berpikir seperti dilakukan perusahaan ini,
dampaknya baik bagi ekonomi rakyat.

Satu hal yang unik adalah kantor ini memiliki kantin makanan, di
mana anggota keluarga pun bisa diajak makan bersama di kantin itu.
Harga makanan disubsidi perusahaan sehingga harganya relatif murah.

“Konsep ini sebenarnya ingin menonjolkan nilai-nilai keluarga
yang tak boleh hilang. Jika keluarga bahagia dan sejahtera,
produktivitas pun akan naik,” jelasnya.

Eddy Sugiri mengaku terinspirasi oleh desainer interior Erwin H
yang memperkenalkan desain perkantoran yang memiliki cluster
individual, namun memiliki kebebasan membawa akuarium dan kandang
burung. Dari sinilah inspirasi berkembang.

Eddy Sugiri dan adiknya, Totok Sugiri, yang berasal dari Bandung,
Jawa Barat, ini memiliki kerinduan akan suasana pedesaan dan
kerinduan itu diwujudkannya pada desain kantor mereka. Mereka membuat
terobosan baru dalam desain interior kantor. (KSP)

Foto: 3
Kompas/Robert Adhi KSP
1.SUSANA PEDESAAN DI KANTOR BERBASIS TEKNOLOGI CANGGIH – Kantor Sigma
yang berbasis teknologi canggih ini menonjolkan alam pedesaan di
kantornya. Tampak batu bata dan boboko yang menonjol.

2.KANTOR BERDESAIN PEDESAAN – Inilah dua ruangan di kantor yang
bersuasana pedesaan (atas dan bawah). Pemilihan desain suasana
pedesaan pada kantor ini dilakukan oleh pimpinan, staf, dan karyawan
melalui proses kreatif. Semua sepakat perlunya kembali ke alam agar
tercipta perasaan bebas dan damai, yang pada gilirannya membuka
keinginan berkontemplasi. Kompas/Robert Adhi ksp

LINK TERKAIT http://www.sigma.co.id

KOMPAS
Selasa, 13 May 2003
Halaman: 35
Penulis: Adhi KSP, Robert

GERMAN CENTRE JUGA
BANTU PENGUSAHA JERMAN

SALAH satu bukti pentingnya Indonesia bagi Jerman adalah dengan
dibangunnya gedung German Centre di kawasan pusat bisnis Kota Mandiri
Bumi Serpong Damai (BSD) di Kabupaten Tangerang. German Centre di BSD
merupakan salah satu dari tujuh German Centre yang ada di seluruh
dunia, yaitu Shanghai, Beijing (Cina), Moskwa (Rusia), Yokohama
(Jepang), Singapura, dan Meksiko.

Menurut Presiden Direktur German Centre Indonesia Jochen Sautter
dalam percakapan dengan Kompas di kantornya, pekan lalu, German
Centre merupakan proyek pengembangan ekonomi yang membantu pengusaha
Jerman yang menjalankan bisnisnya di Indonesia. Saat ini, tercatat
ada 33 perusahaan menengah dan kecil Jerman yang membuka kantornya di
German Centre.

“Kami lebih memfokuskan diri pada perusahaan-perusahaan kelas
menengah dan kecil. Sebab, perusahaan besar seperti Siemens atau
Mercedes Benz, tak perlu lagi dibantu,” kata Sautter.

Di Indonesia, saat ini, terdapat 200-an perusahaan Jerman di
Indonesia, terbanyak beroperasi di Jakarta dan sekitarnya, dan 33 di
antaranya membuka kantor di German Centre BSD.

Untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan Jerman, German
Centre menyediakan lantai satu dan lantai dua gedung tersebut sebagai
tempat produksi. Gedung German Centre memiliki kualitas lebih
dibandingkan dengan gedung tinggi di Jakarta.

Lantai satu dan dua gedung ini bisa menahan beban sampai seberat
1.500 kg per meter persegi, sedangkan beban di lantai yang lebih
tinggi, hingga 800 kg per meter persegi. Bandingkan dengan beban
lantai gedung tinggi yang umumnya 300 kg per meter persegi.

Menurut Sautter, German Centre merupakan gedung perkantoran yang
ramah lingkungan. Ini ditunjukkan antara lain pada kaca yang
digunakan di sekeliling gedung itu, yang mampu menyerap panas sampai
35 persen sehingga beban mesin pendingin udara lebih ringan (energy
cost).

Biaya sewa German Centre Rp 44.000 per meter persegi per bulan,
sedangkan service charge Rp 26.000 per meter persegi setiap
bulannya. “Harga sewa gedung German Centre ini lebih murah 10 persen
sampai 20 persen dibandingkan harga sewa gedung tinggi di Jakarta,”
ungkap Sautter lagi.

Mengapa German Centre memilih lokasi di BSD? “Kawasan ini sangat
prospektif dan juga ramah lingkungan. Selain itu, lokasinya dekat
dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan jarak tempuh
sekitar 30-40 menit. Kawasan ini makin mudah dicapai apabila jalan
tol yang menghubungkan Serpong dan Jakarta rampung pada tahun 2003
ini. Untuk ke kawasan Pondok Indah, Kemang, dan Kebayoran Baru, waktu
yang ditempuh tidak terlalu lama jika melewati jalan tol baru itu.
Makanya kami berharap, penyelesaian tol Serpong-Jakarta segera
direalisir untuk menarik lebih banyak lagi pengusaha Jerman ke German
Centre,” kata Sautter, yang cukup fasih berbahasa Indonesia.

German Centre yang dibangun dengan biaya sekitar 20 juta dollar
AS itu memiliki fasilitas media centre yang memungkinkan perusahaan-
perusahaan yang berkantor di gedung itu menggunakan fasilitas
browsing dan video conference, percakapan jarak jauh yang memudahkan
pengusaha berkomunikasi dengan orang-orangnya di Jerman tanpa harus
ke Jerman. Juga ada fasilitas server untuk aplikasi database.

Fasilitas-fasilitas ini dapat digunakan dengan membayar sewa Rp
500.000 per dua jam pada jam kerja dan Rp 700.000 per dua jam setelah
jam kantor.

Dalam tahun ini juga, kata Sautter, akan dibuka pusat pelatihan
bagi para mekanik kendaraan BMW di lantai dasar German Centre.
Ruangan khusus seluas 600 meter persegi itu akan menjadi semacam
balai pelatihan bagi para mekanik BMW yang dikirim dealer dan
bengkel resmi BMW di seluruh Indonesia.

“Market kami masih bagus meski investor masih ragu-ragu menanam
investasinya di Indonesia saat ini. Kami masih optimistis mengingat
penduduk Indonesia berjumlah sekitar 200-an juta orang,” ungkapnya
lagi.
***

SALAH satu penyewa German Center adalah Swiss German University
(SGU), sebuah universitas berkualitas internasional, afiliasi dari
SGU di Jerman. Sejak dibuka Agustus 2000 silam, jumlah mahasiswa SGU
saat ini tercatat 312 orang. Kampus ini menggunakan seluruh lantai VI
gedung tersebut.

Keberadaan SGU di German Centre makin mendekatkan mahasiswa
kepada dunia industri. Perusahaan-perusahaan software di German
Centre relatif banyak sehingga mahasiswa lebih mudah melakukan
praktik (training). “Kami tak perlu memikirkan masalah listrik, air,
ataupun AC karena itu urusan pengelola German Centre. SGU hanya
berkonsentrasi pada pendidikan,” kata Ketut Tejawibawa, pejabat yang
mengurus masalah-masalah umum, didampingi Kepala Hubungan Masyarakat
BSD Dhony Rahajoe. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan yang berkantor
di German Centre juga bisa menggunakan laboratorium canggih SGU.

Dengan laboratorium ilmu pengetahuan yang ada di SGU, transfer
know-how lebih efektif. Untuk membangun laboratorium mekatronik saja,
SGU mengeluarkan dana 2 juta dollar AS. Di laboratorium ini, proses
otomatisasi dipelajari. Saat ini banyak industri yang membutuhkan
kecermatan otomatisasi seperti pembuatan mi instan, pasta gigi, mesin
cuci, mesin pendingin udara, telepon seluler, mobil, kulkas, dan
sebagainya.

SGU pernah dikunjungi oleh Presiden Republik Federal Jerman
Johannes Rau pada 21 Februari 2001, Menteri Pendidikan dan Riset
Jerman Uwe-Thomas pada 3 November 2001, dan Menteri Pendidikan Swiss
Hans-Ulrich Stoeckling.

Banyaknya orang Jerman yang datang ke German Centre menarik minat
pengusaha membuka restoran internasional di lantai tujuh gedung itu,
yang dinamakan Storte Becker atau The Pirate. “Kami diberi kesempatan
untuk membuka restoran di sini,” kata Yvonne da Cosa Lapian kepada
Kompas. Pengusaha ini juga membuka restoran Napolian di kawasan
Kemang, Jakarta Selatan.
***

SELAIN di German Centre, pengusaha Jerman juga membuka usahanya
di Taman Tekno BSD, sebuah kawasan industri di BSD yang ramah
lingkungan. Perusahaan itu adalah PT Hafele Indotama, importir dan
distributor barang-barang industri mebel seperti sekrup, engsel,
pegangan lemari, vinil, lem, dan sebagainya. Di sini, Hafele membuka
kantor pusat sekaligus gudang.

Produksi hardware Hafele terdiri atas 60.000 jenis. Dari jumlah
itu, sekitar 4.000 jenis disimpan di gudang Hafele di Taman Tekno
BSD. Pasar Hafele adalah kalangan menengah atas. Hafele juga
distributor KRESS, barang-barang yang berkaitan dengan furnitur mebel.

“Pelanggan kami sebagian besar pabrik mebel yang berorientasi
ekspor seperti Highpoint, Ligna, dan Cellini, serta beberapa
perusahaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang 100 persen ekspor,”
jelas Gunnar Druskat, Presiden Direktur PT Hafele Indotama, dalam
percakapan dengan Kompas di kantornya, pekan lalu. Hafele memiliki
kantor cabang di Semarang, Denpasar, dan Surabaya.

“Kami berencana membangun ruang pamer di Taman Tekno agar produk
kami bisa dilihat banyak orang,” kata Gunnar, yang menambahkan, cukup
banyak kalangan menengah atas Indonesia yang datang ke kantornya
langsung untuk melihat produk Hafele. Saat ini PT Hafele
mempekerjakan 60 orang Indonesia.

Gunnar melihat jalan tol Serpong-Jakarta merupakan faktor
strategis. Demikian pula keberadaan Sekolah Jerman Internasional
(DIS) di BSD, yang membuat banyak orang Jerman mau bekerja di kawasan
BSD. Dia juga melihat pentingnya masalah lingkungan hidup. “Bagi
orang asing, yang terutama bukan masalah keamanan, tapi lingkungan
hidup. Jakarta sudah terlalu padat dan semrawut sehingga keputusan
untuk pindah ke daerah yang lebih bersih, terencana, dan teratur
merupakan keputusan tepat,” kata Gunnar yang tinggal di BSD.

Keputusan Pemerintah Jerman membangun German Centre dan German
International School di BSD tentu sudah dipikirkan secara matang.
Mereka membutuhkan satu pusat Jerman yang lengkap dengan lingkungan
udara yang masih bersih.

Akan lebih, banyak lagi perusahaan Jerman yang akan berkantor di
German Centre seandainya jalan tol Serpong-Jakarta dirampungkan.
Sebab, kunci dari semuanya adalah jalan tol Serpong-Jakarta.

Pembuat peta Jabotabek, Gunter Holtrof, melihat, Serpong adalah
kawasan masa depan sehingga Jerman memutuskan membangun German Centre
di kawasan bisnis dan pendidikannya di BSD. Jembatan budaya, hubungan
bisnis Jerman-Indonesia, yang diperdalam dan diperluas dari kawasan
bekas hutan karet ini. (ROBERT ADHI KSP)