Author Archives: adhiksp

Pangdam Brawijaya Segera ke Sambas

KOMPAS
Sabtu, 01 May 1999
Halaman: 8
Penulis: ODY/KSP

PANGDAM V/BRAWIJAYA SEGERA KE SAMBAS
Malang, Kompas
Panglima Kodam V/Brawijaya Mayjen Ryamizard Ryacudu membenarkan,
pihaknya berencana segera berkunjung ke Sambas (Kalbar) untuk mempela-
jari kemungkinan kemba-linya sebagian pengungsi etnis Madura ke tanah
kelahirannya di Sambas. Hal itu diungkapkannya hari Jumat (30/4) di
Malang (Jatim).

Saat ini, menurut Pangdam, jumlah pengungsi Sambas yang ditampung
di Bangkalan, Madura, sudah mencapai 11.000 jiwa. Hari Rabu lalu
datang lagi 3.000 pengungsi di Tanjungperak, Surabaya, menumpang KM
Bukit Raya, yang merupakan pengungsi gelombang ketiga.


Ia menjelaskan, kedatangannya ke Sambas untuk melihat secara jelas hubungan antara keinginan dan masa depan para pengungsi dengan kondisi Sambas. Menurut dia, pada dasarnya pemerintah tidak bisa melarang jika para pengungsi hendak memilih bertahan tinggal di Sambas dengan segala risikonya, atau memilih pindah ke Madura. “Boleh dong kalau ingin kembali. Itu semua nanti kita bantu,” katanya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Madura Kalbar H Sulaiman
mengatakan, tidak ada penolakan program relokasi. “Yang ditolak adalah
kalau pengungsi itu dipindahkan selamanya. Sebab, ada warga Madura
yang tidak mau kembali ke Sambas, tetapi sebagian lagi tetap ingin
kembali. Jadi, pengungsi diberi kebebasan kembali ke Sambas atau
membangun hidup baru di kawasan relokasi di Tebangkacang dan
Padangtikar,” jelasnya.

Sulaiman mengajak semua warga di Kalbar untuk saling menahan
diri dan tidak percaya dengan segala bentuk isu, baik dari mulut ke
mulut, maupun melalui selebaran dan judul-judul berita yang pada
akhirnya membuat warga Kalbar menjadi panas. (ody/ksp)


"Pabrik" Senjata Api Rakitan Digerebek

KOMPAS
Jumat, 30 Apr 1999
Halaman: 22
Penulis: KSP

“PABRIK” SENJATA API
RAKITAN DIGEREBEK

Pontianak, Kompas
Sebuah rumah yang digunakan sebagai “pabrik” senjata api rakitan
di Desa Semelagi Besar, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas (Kalbar)
hari Kamis (29/4) subuh digerebek polisi. Dalam penggerebekan itu,
polisi menahan 20 orang, juga menyita 20 senjata api rakitan berikut
alat-alat pembuatannya, peluru dan mesiu.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalbar Kolonel (Pol) Chaerul
Rasjid menegaskan, jajaran aparat keamanan tetap bertindak tegas,
melakukan sweeping ke permukiman penduduk yang diduga menyimpan
senjata. “Mereka yang kedapatan membawa dan menyimpan senjata,
dikenakan undang-undang darurat dengan hukuman maksimal 10 tahun,”
tandas Chaerul.

Sejak Rabu malam hingga Kamis subuh, aparat keamanan melakukan
lima kali sweeping ke sejumlah permukiman penduduk di Desa Sungaidaun,
Semelagi Besar, Setapuk Besar. Aparat menyita 20 senjata api rakitan
jenis bomen dan lantak, serta 34 senjata tajam berbagai jenis. Juga
puluhan peluru dan mesiu.

Aparat keamanan juga menyita peralatan untuk membuat senjata api
rakitan, dari tabung gas untuk las, mesin bor listrik, mesin gerinda
listrik, pipa besi, popor senjata, pelengkapan las karbit.

Relokasi jalan terus
Sementara itu Gubernur Kalbar Aspar Aswin menegaskan, masalah
relokasi pengungsi Sambas adalah tanggung jawab dia selaku gubernur.
Jadi kalau ada pihak-pihak yang menyatakan keberatan akan relokasi,
itu hak mereka. Tetapi keputusannya dan pelaksanaannya tetap pada
Pemda Kalbar.

“Masyarakat Tebangkacang memang sebelumnya belum menerima
kedatangan pengungsi asal Sambas. Tetapi ‘kan sekarang sudah welcome.
Jadi program relokasi ke Tebangkacang dan Padangtikar tetap
dilaksanakan. Tidak ada penundaan, dan malah mulai hari ini
(Kamis-Red), sudah mulai dilaksanakan pembangunan barak-barak
pengungsi,” jelas Aswin.

Satu barak dapat menampung 40 kepala keluarga atau sekitar 200
jiwa. Pada tahap awal akan dibangun 10 barak dengan kapasitas 2.000
orang. Pengerjaan barak itu dilakukan oleh para pengungsi itu sendiri
dengan konsultan Pemda Kalbar. (ksp)

Pengungsi di Madura Tolak Relokasi

KOMPAS
Rabu, 28 Apr 1999
Halaman: 15
Penulis: ETA/JAN/KSP

PENGUNGSI DI MADURA TOLAK RELOKASI
Surabaya, Kompas
Pengungsi asal Sambas, yang kini berada di Madura, Jatim,
menolak relokasi di Pulau Padangtikar dan Tebangkacang, Kabupaten
Pontianak. Mereka hanya bersedia tinggal di lokasi baru tersebut
untuk sementara waktu.

Sesepuh Madura M Noer, mantan Gubernur Jatim di Surabaya,
Selasa (27/4) menjelaskan, dalam pertemuan sesepuh Madura dengan
Presiden BJ Habibie diungkap bahwa penyelesaian kasus di Kalbar
tidak cukup dengan merelokasi warga Madura ke wilayah Pontianak. Yang
dibutuhkan sekarang adalah semua pihak mencari akar penyebab kerusuhan
yang menewaskan ratusan orang.

Jika penyebabnya jelas, langkah untuk mencari solusi langsung
tepat sasarannya. Salah satu cara dengan mengundang tokoh warga yang
bertikai yakni Dayak, Melayu, Cina dan Madura. “Tokoh yang bertemu
bukan pemimpin, tetapi orang yang benar-benar mengakar di masyarakat
dan suaranya didengarkan,” kata M Noer.

Hal senada dikemukakan tokoh Madura Soedirman yang menyebutkan,
keputusan Pemda Kalbar merelokasi itu dinilai kurang tepat, sebab
cara ini berarti pembenaran terhadap pengusiran secara besar-besaran
oleh satu etnis kepada etnis lainnya. Langkah ini dikhawatirkan bisa
menjadi preseden buruk bagi daerah lain.

Sesuai rencana
Sementara itu Pemda Kalbar tetap akan memindahkan para
pengungsi ke Padangtikar dan Tebangkacang sesuai rencana semula. Di
Tebangkacang tanah-tanah sudah dibebaskan dan akan dibangun sejumlah
barak untuk tempat tinggal sementara.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar Said Djafar di Pontianak,
Selasa mengatakan, melalui rencana relokasi, masyarakat Pulau
Padangtikar bisa meminta pemerintah agar memperhatikan berbagai hal
yang terabaikan dalam pembangunan selama ini di pulau itu. Misalnya,
pengaspalan jalan raya Padangtikar-Batuampar, pembangunan pabrik
minyak kelapa, pengalengan ikan, dan dermaga.

Di Tebangkacang, Kacamatan Sungairaya, saat ini telah
dibebaskan 52 hektar lahan. Tahap pertama akan dibangun 40 barak.
Kemudian akan disusul pembangunan rumah, jalan raya, gedung sekolah,
Puskesmas, serta fasilitas umum lainnya.
Pengungsi yang akan dipindahkan ke Pulau Padangtikar 7.000
kepala keluarga (KK) dan di Tebangkacang 3.500 KK.

Siaga penuh
Kota Singkawang, ibu kota Kabupaten Sambas (Kalbar) kini
dijaga ketat oleh sekitar seribu pasukan keamanan gabungan (Polri dan
TNI AD), menyusul beredarnya isu akan terjadi serangan besar-besaran
pada pekan ini. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalbar Kolonel
(Pol) Chaerul Rasjidi kepada Kompas menegaskan, kesiagaan aparat
keamanan menjaga Kota Singkawang tidak akan dikendurkan.

Suasana di daerah pesisir yang sebelumnya menjadi kantung
konflik seperti Selakau, Pemangkat, Tebas, Sambas dan Jawai kini sudah
normal. Demikian pula di daerah pedalaman seperti di Samalantan dan
Bengkayang.

“Masyarakat Bengkayang kini lebih memperhatikan rencana pemekaran
Kabupaten Sambas. Bengkayang akan menjadi kabupaten sendiri, dan
masyarakat antusias mendukungnya. Jika terjadi kerusuhan, pemekaran
kabupaten ‘kan terancam gagal,” jelas Camat Bengkayang Moses Ahie.
(eta/jan/ksp)

Ibu dan Anak Diserang, Kena Tembak dan Bacokan

KOMPAS
Selasa, 27 Apr 1999
Halaman: 18
Penulis: KSP

IBU DAN ANAK DISERANG, KENA TEMBAK DAN BACOKAN
Pontianak, Kompas
Ny Mardiana (30) mengalami luka tembak pada paha kiri dan anaknya
Maryadi (12) luka parah akibat bacokan pada kedua lengan dan bahunya,
Senin (26/4) pagi. Ibu dan anak itu diserang sekelompok orang
bersenjata di daerah Sekipbaru Ujung di pinggiran Kota Singkawang.
Kedua korban kini dirawat intensif di RSUD dr Abdul Aziz Singkawang.

Sekitar pukul 06.30, Ny Mardiana dan putranya Maryadi bermaksud
mandi di dekat sumur di belakang rumahnya. Dalam perjalanan, tiba-tiba
terdengar letusan senjata api dari arah semak-semak diikuti pemunculan
sekitar 25 orang bersenjata senjata api rakitan dan senjata tajam.

Beberapa di antaranya melepaskan tembakan ke arah Ny Mardiana,
menyebabkan paha kiri wanita itu tertembak. Maryadi yang mencoba lari,
dikejar dan dibacok. Bahu dan kedua lengan anak laki-laki itu terluka
parah.

Suami dan ayah korban, Sahari (35) yang mendengar keributan itu
sempat mengejar penyerang istri dan anaknya, namun gagal. Kelompok
penyerang itu kabur masuk ke semak-semak hutan. Aparat keamanan yang
yang tiba beberapa menit kemudian juga kehilangan jejak para penyerang.

Kepala Humas Pemda Kabupaten Sambas, Libertus Ahie menegaskan,
imbauan menghentikan pertikaian sudah dikeluarkan Forum Komunikasi
Pemuda Melayu (FKPM) dan Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas.

Jika kemudian ada yang tidak puas kemudian tertembak aparat
keamanan, risiko ditanggung sendiri. “FKPM dan Dewan Adat Dayak tidak
mau bertanggung jawab mengurusi mereka lagi,” kata Libertus Ahie.
(ksp)

Sidang Pemicu Kerusuhan Sambas Digelar

KOMPAS
Selasa, 27 Apr 1999
Halaman: 8
Penulis: KSP

SIDANG PEMICU KERUSUHAN SAMBAS DIGELAR
Singkawang, Kompas

Pengadilan Negeri Singkawang (Kalbar) hari Senin (26/4)
menggelar tiga sidang kasus terdakwa pemicu kerusuhan Sambas. Kasus
penyerangan di Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai pada Hari Idul Fitri
19 Januari silam, menghadirkan dua terdakwa Niyan bin Colok dan
Marsian bin Ludin, serta kasus pembacokan kernet angkutan umum di
Kecamatan Tebas, menghadirkan terdakwa Rodi bin Muharap. Dua insiden
itulah yang dianggap sebagai pemicu meluasnya kerusuhan Sambas.

Dua sidang terpisah yang berkaitan dengan kasus penyerangan di
Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, yang terjadi pada Hari Lebaran,
dipimpin majelis hakim yang sama, yang diketuai SMO Siahaan. Niyan
didakwa melanggar pasal 340 KUHP, menghilangkan nyawa orang lain,
sedangkan Marsian didakwa melanggar pasal 353 KUHP, melakukan
penganiayaan dengan perencanaan. Dalam insiden Paritsetia itu,
tiga orang tewas dan dua luka berat.

Sidang lainnya menghadirkan terdakwa Rodi bin Muharap, pembacok
kernet angkutan umum di Kecamatan Tebas. Jaksa Saptana S Budi
mendakwa Rodi melanggar pasal 353 KUHP, melakukan penganiayaan berat
terhadap kernet Bujang Idris. Sidang dengan majelis hakim diketuai R
Sianipar itu mendengarkan keterangan saksi korban Bujang Idris (25)
dan Iwan (19), keduanya kernet bus yang ditumpangi terdakwa Rodi (19).

Dalam kesaksiannya, Bujang Idris mengisahkan bagaimana Rodi,
preman di Tebas, tidak mau membayar ongkos, kemudian setelah ditegur
malah mengejarnya, bahkan membacok dirinya yang menyebabkan jari kanan
dan lutut kanannya luka-luka kena sabetan senjata tajam.

Menurut Bujang, pada hari Minggu 21 Februari lalu, terdakwa
Rodi naik angkutan umum, turun di Terminal Tebas, tetapi menolak
membayar ongkos. Setelah ditegur, Rodi malah mengancam, “Awas kamu!”
Bus yang melaju ke arah Desa Semparuk, dibuntuti terdakwa yang naik
sepeda motor temannya. “Di atas motor, Rodi sudah mengacung-acungkan
celurit. Rodi mendahului bus dan meminta sopir menghentikan
kendaraan,” tuturnya.

Melihat Rodi mencari dan mengejarnya, Bujang pun merasa takut
dan lari sampai jatuh ke parit. “Rodi mengayunkan celuritnya, saya
tangkis dengan tangan kanan sehingga jari-jari tangan kanan saya
sobek. Pada ayunan celurit kedua, saya mencoba menghindar, tetapi
mengenai lutut kanan saya,” kisah Bujang.

Kernet itu selamat dari maut setelah masyarakat di sekitar
menengahi. Bujang dibawa ke rumah sakit dan Rodi dilaporkan ke polisi.
Kesaksian Bujang di pengadilan itu dibenarkan rekannya, Iwan. Sidang
pemicu kerusuhan Sambas yang mendapat perhatian dari masyarakat ini
dilanjutkan pekan depan, masih akan mendengarkan para saksi. (ksp)


Hentikan Pertikaian


KOMPAS
Senin, 26 Apr 1999
Halaman: 11
Penulis: KSP/JAN

Pemangku Adat Keraton Sambas:
HENTIKAN PERTIKAIAN
Sambas, Kompas
Ahli waris dan pemangku adat Keraton Sambas (Kalbar) Raden Winata
Kusuma mengimbau masyarakat Sambas agar segera menghentikan pertikaian yang sudah berlangsung dua bulan. “Pertikaian yang berlarut merugikan
semua pihak. Semua tokoh masyarakat Melayu dan Dayak pun sudah sepakat
untuk menghentikan pertikaian, karena aparat tetap bertindak tegas,”
kata Raden Winata Kusuma di Keraton Sambas, hari Minggu (25/4).

Tentang rencana pemerintah merelokasi warga Madura asal
Kabupaten Sambas ke Tebangkacang dan Padangtikar, wilayah Kabupaten
Pontianak, RW Kusuma yang dipanggil akrab Wimpie menyatakan setuju.

“Daerah itu subur. Saya yakin masyarakat Madura mampu membuka daerah
tersebut menjadi daerah yang maju,” katanya. Wempie menekankan,
masyarakat Melayu Sambas di lapisan bawah menghendaki masyarakat
Madura tidak kembali ke Sambas. “Ini keinginan masyarakat bawah,”
tandasnya.

Laporan dari ke Tebangkacang menyebutkan, terjadi pro-kontra
mengenai rencana relokasi pengungsi ke wilayah itu. Kalangan yang pro
menyatakan menerima rencana itu, namun para pengungsi diminta tidak
berbuat kriminal dan tidak arogan.

Asmar H Ibrohim (74), pemuka masyarakat Tebangkacang kepada Kompas
di rumahnya menyatakan, kecuali peralatan berkebun, siapa pun tidak
diperkenankan membawa atau menyimpan senjata tajam dan senjata api.
Pandangan berbeda dikemukakan masyarakat Pulau Padangtikar,
termasuk warga etnis Madura yang menolak rencana pemerintah merelokasi
7.000 kepala keluarga (KK) pengungsi Sambas di pulau itu. Alasannya,
sudah sering timbul pertikaian antara etnis Dayak atau Bugis dengan
Madura di kawasan itu.

Penolakan tersebut tertuang dalam surat pernyataan bersama
tertanggal 22 April 1999 yang ditandatangani tokoh etnis Madura,
Melayu, Bugis, dan Dayak, baik yang tinggal di Kota Padangtikar
maupun Batuampar.

Sementara itu, da’i sejuta umat, KH Zainuddin MZ, Sabtu lalu,
memberi siraman rohani kepada sekitar 2.000 warga di depan Masjid
Keraton Sambas (sekitar 260 km dari Kota Pontianak). KH Zainuddin MZ
terbang dari Pontianak ke Sambas dengan helikopter polisi, dikawal
Komandan Korem 121 Kalbar Kolonel Encip Kadarusman.

Mulai pulih
Menurut laporan, situasi di Kabupaten Sambas berangsur-angsur
pulih. Aktivitas sosial dan ekonomi di sejumlah kota seperti
Pemangkat, Tebas dan Sambas, yang sebelumnya merupakan kantung
konflik, sudah berjalan normal. Namun Kota Singkawang masih terasa
mencekam, khususnya selepas tengah malam hingga menjelang pagi. Suara
letusan senjata api diselingi suara petasan terdengar di permukiman
penduduk.

Polisi Sabtu dini hari menggerebek rumah di Jl Trisula, Desa
Bukitbatu, Kecamatan Roban, Kotif Singkawang. Polisi menahan delapan
orang, termasuk pemilik rumah, dan menyita satu kotak alat pembuat
senjata api rakitan, satu pucuk senjata api lantak, dan sejumlah
peralatan lain. (ksp/jan)

Molotov Guncang Singkawang

KOMPAS
Sabtu, 24 Apr 1999
Halaman: 18
Penulis: KSP/FUL

MOLOTOV GUNCANG SINGKAWANG
Singkawang, Kompas

Sebuah bom molotov meledak di sebuah rumah di Jl Sudirman,
Kecamatan Roban, Kota Singkawang (Kalbar), Kamis, menjelang tengah
malam. Ledakan itu mengakibatkan dapur rumah Mat Maki (35) hancur. Tak
ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Polisi hari Jumat (23/4) mengungkapkan, ledakan bom molotov
mengejutkan penghuni rumah dan para tetangga. Polisi yang tiba di
tempat kejadian perkara menemukan barang bukti berupa kantung plastik
berisi minyak tanah.

Suara ledakan bom molotov itu terdengar bersahutan dengan suara
letusan senjata api dan mercon yang banyak terdengar di kawasan
Sekiplama dan di Kampung Condong, Singkawang. “Suara berselang 5-10
menit itu terdengar selama tiga jam, sejak pukul 00.00 hingga 03.00
dini hari,” kata Camat Roban, Uray Iriansyah.

Polisi juga menerima laporan penemuan jenazah laki-laki berusia
sekitar 30 tahun di sebuah pos keamanan keliling (kamling) di Jl Tani,
Singkawang. Pria itu mengalami luka bacok di leher dan perut. Hingga
sore kemarin, petugas belum berhasil mengidentifikasi jenazah itu.

Forum Komunikasi Pemuda Melayu (FKPM) Kabupaten Sambas dalam
pernyataan Kamis malam mengingatkan semua pihak agar menyelesaikan
masalah kriminal tidak dengan cara main hakim sendiri.

“Percayakan semua tindakan melawan hukum kepada jajaran
penegak hukum, dan waspadai kelompok-kelompok yang memperkeruh
suasana,” demikian pernyataan FKPM Sambas yang ditandatangani Wakil
Ketua Hamdi dan Wakil Sekretaris Ikhdar Salim.

Imbauan senada disampaikan Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas.
Menurut wakil ketuanya, David, lembaga adat sudah mengimbau kepada
masyarakat Dayak dan etnis lainnya menjaga ketertiban dan ketenangan
serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Di Balikpapan Pangdam VI Tanjungpura Mayjen Zainuri Hasyim
menyatakan, penarikan 10 satuan setingkat kompi dari Sambas, masih
menunggu situasi benar-benar aman. Fokus penanganan masalah yaitu
pengungsi warga Madura yang jumlahnya 30.000 orang. (ksp/ful)