Pendidikan: Wajah Anak-anak di Lengkong Wetan Pun Semakin Ceria…

Mungkinkah lahir pemimpin berkualitas dari desa? Mungkin saja! Sebab, belajar dari sejarah, justru dari desa-lah, lahir para pemimpin bangsa. Bahkan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, desa memiliki peran penting. Ketika Belanda dalam agresinya menguasai kota-kota besar dan menyatakan pemerintahan Indonesia sudah jatuh, ternyata justru para pemimpin bangsa mendapat dukungan kuat dari penduduk desa. Dan dari desa-lah, kemudian pemerintahan Indonesia dinyatakan tetap eksis.

Tapi sayangnya kini justru desa ditinggalkan. Kaum muda desa berlomba-lomba datang ke kota, mencari pendidikan berkualitas dan pekerjaan layak. Desa menjadi merana. Dalam beberapa kali perjalanan jurnalistik ke pelosok desa, saya melihat desa-desa di Indonesia senyap. Lebih banyak kaum perempuan, itu pun sudah berumur. Ke mana gerangan penduduk desa? Mereka lari ke kota, yang lebih banyak “gula”-nya. Siapa yang salah? Kita melupakan membangun desa kita yang indah dan permai.

Di Serpong, di Desa Lengkong Wetan, Yayasan Bina Anak Indonesia pimpinan Rizal Sikumbang dan didukung Prof Subroto, mantan Sekjen OPEC, membangun sekolah plus untuk anak-anak desa. Ternyata masih ada idealisme di tengah hiruk-pikuk kapitalis. Dua kali saya datang ke Lengkong Wetan, dan menyaksikan betapa anak-anak desa, anak-anak satpam, petugas pembersih, pengojek, kaum marjinal, memiliki wajah cerah, tanda mereka punya harapan di masa depan.

Saya salut dengan usaha Rizal Sikumbang dan kawan-kawan. “Saya kebetulan lewat desa ini ketika saya dan anak saya dari Bintaro mau ke lapangan golf di BSD,” cerita Rizal. Lalu dia melihat sekolah yang sudah reyot. Padahal lokasinya diapit dua perumahan besar, BSD dan Bintaro. Dan tergeraklah hati Rizal Sikumbang. Sebagian liputan soal ini, dimuat di halaman Metropolitan KOMPAS, Rabu 13 Juni 2007, halaman 25.

Pendidikan
WAJAH ANAK-ANAK DI LENGKONG WETAN PUN SEMAKIN CERIA…

Oleh R Adhi Kusumaputra

Wajah anak-anak SD dan SMP di Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong,
Kabupaten Tangerang, makin ceria. Dari mata mereka terpancar harapan
akan masa depan yang lebih baik. Meskipun mereka terlahir sebagai
anak-anak desa, mereka mempunyai impian yang sama dan cita-cita yang
tinggi.

Sejak mereka mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru di SDN
02 Lengkong Wetan dan SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri, anak-
anak desa itu memang makin percaya diri.

“Dulu, waktu saya datang ke desa ini lima tahun lalu, mereka
pemalu. Tak berani menjawab pertanyaan. Sekarang semua sudah
berubah,” kata Ketua Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI), pengelola
sekolah plus itu, Rizal Sikumbang, Kamis (31/5).

Rizal bahkan yakin, “roda akan berputar” sehingga anak- anak
desa yang sebelumnya tak berani bermimpi akibat kemiskinan yang
menjerat keluarga mereka, pada saatnya nanti merekalah yang
akan “tampil”. Lengkong Wetan, tempat bersejarah, akan menjadi
saksi. Dan ini sudah dimulai dari hadirnya sekolah plus untuk siswa
SD dan SMP di desa yang diapit oleh kawasan perumahan Bintaro Jaya
dan BSD tersebut.

Selama ini anak-anak Desa Lengkong mungkin hanya bermimpi entah
kapan dapat menikmati pendidikan di sekolah internasional asing di
Bintaro Jaya, yang lokasinya hanya beberapa kilometer dari tempat
tinggal mereka. Tapi kini, anak- anak desa yang selama ini
terpinggirkan, optimistis melalui sekolah plus yang didirikan di desa
mereka ada secercah harapan dan masa depan yang menjanjikan.

Kaum marjinal
Orangtua mereka bukan pengusaha dan pejabat, tetapi pengojek,
satpam, pedagang kue keliling, dan pembantu rumah tangga. Tapi anak-
anak desa itu optimistis mereka pasti bukan calon peminta-minta
ataupun calon pengangguran akibat putus sekolah karena tak punya
biaya.

Siapa yang mengira dari sebuah desa di pinggiran Jakarta, di mana
jalan menuju lokasi sekolah plus itu pun kondisinya tak beraspal,
akan lahir anak-anak berkualitas yang berpengetahuan, berakhlak dan
berbudi pekerti yang baik? “Inilah cita- cita kami saat mendirikan
sekolah plus di desa ini,” ujar Rizal.

Konsep Yayasan Bina Anak Indonesia membangun sekolah plus di desa
mendapat respons dari penjuru Nusantara. Banyak pihak mengajak
bekerja sama, dan kini YBAI sudah mempunyai 15 sekolah plus di
berbagai lokasi, termasuk di Papua.

Anak-anak desa itu hanya membayar SPP Rp 50.000 per bulan. Namun,
banyak juga anak-anak yang terpaksa tidak membayar karena orangtuanya
tak mampu membiayainya. Toh mereka tetap dapat menikmati pendidikan
plus, belajar bahasa Inggris, berpidato dalam bahasa Inggris, bahkan
mengikuti pelajaran dalam bahasa Inggris.

Yang menarik, apa yang dilakukan Rizal dan kawan-kawannya itu
ternyata membuat seorang pemuda lulusan University of Maryland,
Amerika Serikat (AS), mau bergabung menjadi pengajar di sekolah plus
di desa. Janson Nasrial (32), yang piawai dalam bursa saham ini,
mengaku hobi mengajar. “Saya datang ke desa ini, mengajar anak-anak
desa karena hobi, bukan karena mengejar uang,” tutur Janson, yang
pernah mengajar di lembaga pendidikan Starbucks, Maryland, AS.

Rizal segera membuka Integrated Lengkong Training Center, yang
memfokuskan pada bidang writing, bahasa Inggris, komunikasi, dan
teknologi informasi (TI). “PT Telkom segera mengisi ruang TI dengan
fasilitas internet, sedangkan PT Antam menyediakan ruang
perpustakaan,” jelas Rizal. Dalam waktu dekat, di areal seluas 4
hektar itu akan berdiri pula Institut Lengkong.

Kehadiran sekolah plus ini tentu menjadi berkah bagi warga desa
setempat. Ny Maryadi (36), misalnya, mengatakan, guru-guru sekolah
pun memberi pendidikan tata boga dan tata busana bagi kaum ibu di
desa, serta pendidikan wirausaha tanaman hias, tidak hanya berkah
bagi anak-anak. “Desa kami tiba-tiba menjadi hidup dan bergairah.
Anak-anak senang membaca di perpustakaan (yang koleksi bukunya sudah
2.000-an),” ungkap Ny Maryadi.

Subroto (84), Ketua Dewan Penasihat YBAI, berbahagia melihat anak-
anak Desa Lengkong Wetan makin percaya diri. “Lihatlah, mata anak-
anak itu tidak lagi kosong, tapi menyimpan harapan. Mereka punya
impian yang sama dengan anak-anak di kota,” kata Subroto, mantan
Sekjen OPEC itu.

Akankah dari sebuah desa di pinggiran Jakarta, di mana kondisi
jalan menuju lokasi sekolah pun masih belum beraspal, akan lahir
pemimpin yang berkualitas? “Saya optimistis. Mari membangun
Indonesia, dimulai dari desa,” ujar Subroto.

FOTO di blog ini, foto anak-anak Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang, Banten, oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s