Goyang Salsa Orang Indonesia Berjiwa Latin

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 21 April 2007


Goyang Salsa Orang Indonesia Berjiwa Latin

R ADHI KUSUMAPUTRA

Suasana lounge Mistere di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Kamis (19/4) malam, tampak semarak. Puluhan pasangan bergoyang salsa, melantai, mengikuti irama musik latin. Semakin larut malam semakin banyak yang datang. Goyangan salsa pun makin menggairahkan.

Malam itu, grup band Primavera membawakan lagu-lagu latin dengan prima.
Artis Chintami Atmanegara tampak di antara pengunjung Mistere. Chintami tampak mahir bergoyang salsa, bersama pasangannya. “Dia guru salsa saya,” kata Chintami kepada Kompas, Kamis malam.

Menurut Chintami, sejak enam bulan lalu, dia mendirikan sanggar kebugaran di Kebayoran Jakarta, termasuk di antaranya belajar salsa. Ternyata murid kelas salsa cukup banyak, sekitar 20 orang. “Setiap tiga bulan sekali, kami harus mempraktikkan apa yang sudah kami pelajari di tempat salsa seperti di Ritz-Carlton ini,” kata Chintami.

Bukan hanya Chintami. Kaum profesional muda pun memenuhi lounge Mistere hingga lewat tengah malam. Demam salsa makin mewabah di Jakarta.
Louisa (35), perempuan berdarah Polandia, Kolombia, dan Indonesia yang membuka kelas salsa di Mistere mengungkapkan, sejak Hotel Ritz-Carlton dibuka dua tahun lalu, dia langsung membuka kelas salsa. “Awalnya muridnya hanya tiga orang, tetapi sekarang saya harus buka dua kelas, Selasa dan Kamis,” kata Louisa, yang mengajak Elkin (26), pemuda Kolombia, untuk membantunya mengajar salsa.

Louisa menilai demam salsa di Jakarta hal yang wajar karena orang Indonesia punya jiwa latin. “Orang Indonesia seperti Asian Latin, orang Latin Asia. Mereka pintar berdansa. Musik dangdut, misalnya, memiliki gerakan seperti dansa salsa. Banyak lagu dangdut dibuat dari irama salsa,” kata Louisa.

Musik latin pun makin diterima masyarakat Indonesia. Musisi latin Ricky Martin, Gloria Estefan, Jennifer Lopez pun dikenal. Hotel-hotel bintang lima di Jakarta, seperti The Ritz-Carlton, membuka kelas salsa dan salsa night.
Peminatnya pun makin membeludak. Meskipun tidak sebanyak Ritz-Carlton, Hotel Shangri-La juga membuka kelas salsa di Health Club hotel itu.
Para profesional Jakarta pun menikmati salsa sebagai gaya hidup metropolitan.

Nia Yulicha (30), misalnya. Marketing Manager Galeri 678 itu mengaku, dengan berdansa salsa, perempuan terlihat lebih seksi. Perempuan lajang asal Bantul, Yogyakarta, itu mengatakan, setelah bekerja seharian, dia butuh refreshing. Nia yang baru tiga bulan belajar salsa itu sudah menguasai 20 step.

Perempuan bershio naga ini menambahkan, pada salsa, kodrat perempuan terlihat jelas karena di sini lelaki harus menjadi pemimpin. “Salsa menunjukkan kodrat perempuan yang sesungguhnya bahwa perempuan harus mengikuti lelaki. Dalam salsa, tetap perlu ada harmonisasi, kesatuan antara lelaki dan perempuan,” kata Nia.

Pebisnis Edward Sihombing (43) berpendapat, dalam salsa dibutuhkan kepemimpinan yang tegas karena lelaki adalah pemimpin. “Kepemimpinannya mesti tegas. Sebab, kalau tidak, dansa bisa kacau. Tak jelas kapan harus memutarnya,” kata Edward.

Paul (37), konsultan penerbangan asal Hongkong, yang rutin menikmati salsa night mengatakan, pada salsa, pasangan tidak perlu tetap. “Ada teman baru, langsung bisa berdansa,” kata Paul yang menguasai cuban style dan colombian style.

Menurut Paul, cuban style lebih mudah untuk pemula, sedangkan colombian style lebih untuk mereka yang belajar intermediate. “Saya juga belajar LA style secara privat. Dalam salsa, semua anggota tubuh bergoyang,” kata Paul.

Despen Ompusunggu, pencinta salsa lainnya, mengakui salsa membuat hidupnya makin bergairah. “Ini relaksasi yang sehat. Dalam komunitas salsa, kita pun membangun jaringan,” kata Direktur NewsLink itu menambahkan.
Sebenarnya salsa sudah digemari sejak beberapa tahun lalu di Jakarta.

Dimotori Teges Pritta Soraya, Salsa Club di Kemang sempat booming sampai akhirnya menyurut. “Tapi salsa tidak pernah mati. Lokasinya saja yang pindah. Salsa tetap hidup karena penggemarnya, komunitasnya, sudah ada,” kata Chintami Atmanegara yang tampak lentur mengikuti gerakan dansa salsa.

Dengan berdansa dan bergoyang salsa, hidup terasa lebih bergairah, lebih enerjik, lebih dinamis. Pada salsa, kita menemukan filosofi: dibutuhkan kepemimpinan lelaki yang tegas. Pada salsa, kita menemukan dunia yang bergairah dan dinamis.

About these ads

One response to “Goyang Salsa Orang Indonesia Berjiwa Latin

  1. I visited this club last year (October ’06).
    Saya cukup impress dengan club tsb. Good ambiance. Dan style para salseros di Mistere cukup mengagumkan. Tetapi saya benar2 terkejut mendapati bahwa untuk berdansa dengan most of the good leads malam itu, saya harus membayar certain fee.

    I’ve been to many clubs all over the world even in south american countries. I have never experience that I need to pay fee to have somebody dance with me. That’s just wrong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s