Prakoso Heryono: Menginginkan Lengkeng Pingpong Jadi Unggulan

Pengantar

Prakoso Heryono mengembangkan lengkeng pingpong di kebunnya di Demak, Jawa Tengah. Dia mempertanyakan mengapa buah impor membanjir di Indonesia. Padahal sebenarnya petani Indonesia bisa menjadi “raja” di negeri sendiri. (Adhi Ksp)

KOMPAS

Rabu, 04 May 2005

Halaman: 12

Penulis: yovita arika;robert adhi ksp


Prakoso Heryono
MENGINGINKAN LENGKENG PINGPONG JADI UNGGULAN

MEMBANJIRNYA buah-buahan impor yang akhir-akhir ini
diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional membuat Prakoso Heryono
(47) prihatin. Dari lima jenis buah-buahan yang dijual di beberapa
pasar tradisional di Kota Semarang, tiga di antaranya adalah buah
impor. Buah lokal yang dijual seperti salak, mangga, dan rambutan
sesuai dengan musimnya.

KALAU ada jeruk, yang dijual jeruk dari China, apel washington,
lengkeng bangkok, anggur juga impor. Padahal, buah-buahan itu kan
bisa dihasilkan di Indonesia. Ada apel malang, jeruk pontianak,
lengkeng pringsurat (Temanggung), dan anggur bali. Tanaman-tanaman
buah impor itu pun kalau kita mau mengembangkan, pasti bisa ditanam
di sini,” kata Prakoso.

Mengapa Indonesia tak mampu menggandakan bibit seperti yang
dilakukan Thailand? Plasma nuftah lebih banyak, tanah lebih luas.
“Thailand berhasil karena pemerintahnya menggratiskan ke kelompok
tani, sedangkan kita, di Indonesia, malah lebih kental nuansa
proyek,” katanya dalam percakapan dengan Kompas di rumahnya
di Demak, pekan lalu.
***

PRAKOSO tak sekadar berbicara atau melemparkan ide karena ia
telah membuktikan bahwa buah-buahan impor tersebut bukan tidak dapat
dikembangkan di Indonesia, khususnya di daerah dataran rendah yang
iklimnya relatif panas. Ini dibuktikannya dengan menanam dan
mengembangkan berbagai jenis tanaman buah dari luar negeri. Bukan
hanya dari negara tropis, tetapi juga subtropis, dan terbukti
berhasil berbuah di kebunnya. Ada ratusan tanaman buahan-buahan
dengan puluhan varietas dari berbagai negara di kebunnya.

Bagi Prakoso, jangan pernah mengatakan tak bisa jika belum
mencoba. Oleh karena itu, ia tidak memedulikan cibiran orang ketika
berupaya mengembangkan tanaman buah lengkeng varietas pingpong di
dataran rendah (panas). Selama ini tanaman lengkeng identik dengan
iklim sejuk seperti di Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Kabupaten
Semarang, dan Kota Salatiga. Tiga daerah ini terkenal sebagai
penghasil lengkeng lokal.

“Tanaman lengkeng seperti di Pringsurat itu kan tidak bisa
dikembangkan di daerah lain yang iklimnya berbeda. Akibatnya,
perkembangannya terbatas, apalagi tanaman lengkeng di sana
(Pringsurat) buahnya belum tentu stabil sehingga tak jarang warga
Pringsurat menjual lengkeng bangkok dengan latar belakang tanaman
lengkeng lokal. Ini kan memprihatinkan,” kata lelaki kelahiran
Yogyakarta, 4 November 1958 itu.

Oleh karena itu, ketika ke Thailand, Prakoso melihat pengembangan
tanaman lengkeng di sana sangat menjanjikan. Buahnya besar-besar
sehingga disebut lengkeng pingpong dan masa berbuahnya pun relatif
pendek. Berbekal keyakinan, Prakoso membawa beberapa pucuk tanaman
lengkeng tersebut ke Demak. Agar tidak layu, pangkal pucuk tanaman
lengkeng dibalut tisu basah dan dimasukkan ke dalam koper.

Sampai di rumahnya di Demak, pucuk tanaman lengkeng disambungnya
dengan tanaman lengkeng bangkok yang berasal dari biji. Hasilnya,
satu tahun kemudian tanaman lengkengnya berbuah dan besar-besar,
lingkar buahnya bisa mencapai 11 sentimeter. Melihat hasil
percobaannya ini, Prakoso mempunyai obsesi menjadikan lengkeng
pingpong sebagai buah unggulan di Demak.

“Saya undang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Demak. Mereka
datang, tetapi tidak ada tanggapan. Saya ditanya kenapa harus tanaman
buah dari luar, kan ada yang dalam negeri. Bagi saya, mengapa harus
anti dari luar kalau memang bisa dikembangkan di sini daripada kita
impor buahnya,” kata Prakoso.

Akhirnya, Prakoso bergerak sendiri dengan menggandeng kelompok-
kelompok tani dan teman-temannya sesama penggemar tanaman di Jawa
Tengah untuk memperkenalkan dan mengembangkan lengkeng pingpong.
Tanggapan mereka sangat positif, terutama kalangan kelompok tani.

Meski sebenarnya bisa mengembangkan sendiri tanaman lengkeng
pingpong, Prakoso memilih berbagi pembudidayaan bibit pada petani.
“Tujuan saya penyebaran dulu. Saya ingin membantu petani karena
merekalah ujung tombak pertanian. Soal produksi (memproduksi sendiri)
nanti dulu,” kata Prakoso yang tidak pernah khawatir orang lain
memanfaatkan ilmunya.
***

SAAT ini puluhan ribu bibit lengkeng pingpong sudah tersebar ke
seluruh Indonesia, sekitar 40.000 batang ke kelompok tani, 20.000
batang ke masyarakat umum, dan 15.000 batang ke kalangan penggemar.
Harga bibit siap tanam Rp 150.000 per batang, usia empat bulan atau
pascasambung pucuk Rp 40.000 per batang.

Sebagai permulaan, Prakoso mulai mengembangkan sendiri tanaman
lengkeng pingpong di Boja (70 batang) dan di Kendal (120 batang).
Prakoso juga menjadi konsultan tanaman, menangani kebun-kebun buah
milik beberapa pengusaha di Semarang, beberapa di antaranya juga
mengembangkan tanaman lengkeng pingpong dan itoh.

Dari usahanya di bidang tanaman dan juga konsultan tanaman,
Prakoso boleh dibilang cukup berhasil. Perkenalannya pada dunia ini
awalnya karena hobi sang ayah, Sarjono, yang pernah menjabat sebagai
Kepala Kepolisian Resor Demak tahun 1969-1975. “Ayah sejak dulu suka
bercocok tanam di rumah dinas, mulai dari belimbing sampai mangga
lokal,” ceritanya. Hobi itu ditekuni Prakoso sejak ia duduk di bangku
SMA sampai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung
(Unissula) Semarang. Setelah lulus dari Unissula tahun 1979, dia
mulai merintis usaha pembibitan ini.

“Kalau bisa ditanam di sini, mengapa tidak dikerjakan?” demikian
pikirnya saat itu. Dia pun berburu bibit sampai ke Vietnam, Thailand,
dan berbagai daerah di Indonesia. Prakoso membangun jaringan
penggemar atau pehobi, kemudian membantu kelompok tani mengembangkan
bibit-bibit itu.

Kini di halaman rumahnya seluas 7.000 meter persegi dan dipenuhi
bibit tanaman, Prakoso menikmati hidupnya sebagai petani. “Saya lebih
suka disebut petani daripada wiraswasta atau pengusaha,” ucap suami
Ratih Maya Ningrum (47), mantan karyawan sebuah perusahaan di Jakarta.
Meski semula tak mau mengikuti langkah Prakoso kembali ke Demak,
akhirnya Ratih mau menjadi mbok tani di Demak, mengikuti suaminya.

Awalnya, Ratih stres karena terbiasa sibuk di Jakarta. Prakoso
berpendapat, apa yang dicapainya kini terwujud karena dia
melakukannya dengan senang hati dan tekun.

DENGAN usahanya tersebut, ayah Vera Eka (21) dan Danny Dwi (19)
ini tetap mengejar obsesinya menjadikan buah produksi petani sebagai
raja di negeri sendiri. Ini akan memberi nilai tambah pada petani
buah yang selama ini hanya gigit jari menyaksikan maraknya buah impor
di pasaran. (YOVITA ARIKA/ROBERT ADHI KSP)

Foto: 1
Kompas/robert adhi ksp
PRAKOSO HERYONO

FOTO di blog ini Prakoso Heryono dipotret di kebunnya di Demak, Jawa Tengah, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s