Kemang: Kafe, Musik Hidup, ATM, dan Toko Swalayan

KOMPAS

Minggu, 06 Apr 1997

Halaman: 4

Penulis: ZZ/WE/KSP

Kemang:
KAFE, MUSIK HIDUP, ATM, DAN TOKO SWALAYAN

JALAN di kawasan Kemang berbeda dengan jalan-jalan lain di kota
metropolitan Jakarta. Jalan sepanjang sekitar dua kilometer di Jakarta
Selatan itu kini “terang-benderang”, bukan saja oleh lampu dan
warna-warni kafe serta restoran, tapi di kawasan itu juga ada beberapa
binatu bermerk asing, anjungan tunai mandiri (ATM), salon, toko
perlengkapan hewan, biro perjalanan, tempat penukaran uang, konsultan
taman, toko swalayan, toko mebel, galeri seni, juga beberapa kantor
bank.

Melintaslah di Kemang pada malam hari – apalagi malam libur – maka
suasana pesta akan menyapa. Kafe dan restoran penuh pengunjung.
Mobil-mobil berderet parkir di tepi kiri-kanan jalan. Makanan khas
dari berbagai penjuru dunia dihidangkan, dan musik mengalun lewat tuts
piano atau biola. Itulah Kemang, kawasan yang juga dikenal sebagai
daerah tempat tinggal banyak warganegara asing. Meski disebut kawasan
Kemang, namun sebenarnya keramaian tak hanya di Jl Kemang Raya, tapi
telah merambat sampai Jl Bangka Raya dan Jl Ampera Raya.
***

KEMANG, kawasan yang dilintasi Kali Krukut itu sebelum tahun 1970-an
masih terasa sebagai kampung Kemang, sejuk, penuh pepohonan dan
penghasil buah-buahan. Kini kawasan itu identik dengan daerah hunian
elite dan ditinggali banyak warganegara asing. Diperkirakan sekitar
20.000 orang ekspatriat tinggal di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Sebagian besar berkebangsaan Inggris, Amerika Serikat dan Perancis.
Selebihnya, Belanda, Australia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Italia,
India, Spanyol dan sebagainya.

Meningkatnya jumlah orang asing yang tinggal di Kemang ini, tidak
heran kalau akhirnya mendongkrak nilai jual dan sewa tanah maupun
rumah di kawasan Kemang. Ketua RT 10/RW 01 Andy Basmiful
mengatakan, harga sewa sebuah rumah (dalam keadaan kosong) di
wilayahnya sekitar 2.500 dollar AS/ bulan, sedangkan rumah yang
lengkap dengan perabotannya bernilai 4.500 dollar AS/bulan.

Banyaknya orang asing yang tinggal di kawasan Kemang menarik kejelian
pemodal untuk menanamkan investasinya di kawasan tersebut. Menjamurnya
kafe dan restoran satu-dua tahun terakhir ini merupakan salah satu
usaha memenuhi kebutuhan orang asing yang tinggal di sana. Meski
tampaknya tak lagi sekadar orang asing yang kini menjadi pengunjung
tetap kawasan Kemang.

Sebelumnya telah ada berbagai usaha yang umumnya pasarnya ditujukan
untuk orang asing. “Hampir sebagian besar pemesan merupakan orang
asing,” kata seorang pekerja toko mebel. Demikian pula usaha jasa
binatu, memiliki pelanggan tetap orang-orang asing -yang selalu tampil
rapi. Sebagian besar pengunjung kafe dan restoran di Kemang pun,
orang-orang berkulit putih.

Sudah telanjur orang asing senang tinggal di Kemang. Tempat itu
pun tak bisa disangkal memenuhi gaya hidup mereka. Kemang tak hanya
menyediakan urusan makanan dan minuman orang asing, tetapi juga
perlengkapan rumah yang mereka perlukan tersedia di kawasan ini.

Susurilah Jalan Kemang Timur, di kanan-kiri jalan berderet puluhan
art-shop. “Memang pelanggan kami kebanyakan orang asing,” kata Ricky,
pemilik toko Prambanan Art.

Seperti diakui beberapa pemilik toko, biasanya hari Sabtu dan Minggu
toko mereka ramai dikunjungi orang asing. “Kami cukup kewalahan kalau
hari Sabtu dan Minggu,” kata Ricky yang mengaku punya pelanggan tetap
dari Amerika, Perancis dan Malaysia. Hal senada dikatakan Tirah,
karyawan di Padussi Gift Shop. “Kalau hari biasa, paling turis-turis
yang menginap di hotel-hotel,” katanya. Toko itu sendiri buka
sepanjang hari antara pukul 09.00-17.30.

Di jalan yang dulunya bernama Kemang Bangka itu, orang bisa menemukan
aneka barang mulai pernik-pernik, kain, patung, koin, hiasan dinding
dari daerah-daerah Bali, Dayak, Lombok, Palembang, Sumbar, Yogya, dan
lain-lain. Di Padussi Art-shop misalnya, bisa ditemui macam-macam
barang mulai harga Rp 4.000 hingga Rp 4 juta. Kita juga bebas memilih
kursi, meja, hingga lemari kuno yang konon dari zaman Belanda.

“Barang-barang yang kita jual memang prioritasnya adalah yang usianya
tua, sekitar 75 hingga 100 tahun,” kata Ricky.
Bahkan untuk itu, dia berani memberi jaminan terhadap kualitas dan
kemungkinan rusaknya barang-barang tersebut. “Selama orang asing itu
tinggal di sini, kita beri garansi. Mereka bisa membawa barangnya ke
sini apabila ada kerusakan,” kata Ricky. Tetapi saat ditanya batas
waktunya, dia menjawab, “Orang asing kan nggak akan tinggal lama.
Berapa tahun sih? Mungkin sekitar lima tahun,” tambahnya.

Berbagai jenis barang bisa ditemui di sepanjang jalan itu dengan
harga beragam. Kalau produk baru harganya pasti lebih murah. Misalnya
lemari kayu jati harganya paling mahal Rp 800.000, meja marmer Rp 400.000, dan kursi ukir seharga Rp 175.000. “Pokoknya nggak sampai Rp 1 juta,” kata Ricky. Namun kalau antik dan usianya tua akan sangat berbeda
harganya.

Meja antik yang konon dari zaman Belanda ditawarkan dengan
harga Rp 4,5 juta, atau meja kayu besar dengan diameter 120 cm tanpa
sambungan, dengan ketebalan 12 cm, dipasarkan dengan harga Rp 6,5
juta. Ada lagi batu “kepala Gajah Mada” seharga Rp 10 juta.

Toko-toko barang antik itu mulai marak sejak pertengahan tahun
1980-an. Beberapa pedagang mengakui harga kontrak kios di situ cukup
mahal. Untuk ukuran sekitar 3 x 5 m seharga Rp 3 juta, atau yang
berukuran 6 X 8 sewa kontraknya seharga Rp 10 juta.
***

MENGUNJUNGI salah satu kafe di Kemang, selain menikmati makanan dan
minuman, terasa “membeli” suasana. Musik mengalun, yang biasanya musik
hidup berupa iringan piano dan biola atau band. Televisi terpasang di
sudut ruangan. Penerangan temaram dari nyala lilin menciptakan suasana
terasa intim.

Ketukan tuts piano dengan kombinasi permainan biola memainkan alunan
lagu Love is All Around dari grup Wet Wet Wet, We are The Champion
milik Queen, sampai That’s Why You Go Away dari grup Michael Learns to
Rock. Obrolan disertai tawa pengunjung, bisik-bisik dua sejoli yang
menikmati malam di kafe, adalah sebagian dari “warna” kawasan Kemang.

Masing-masing tempat punya daya tarik. Ada yang menyajikan dekorasi
indah dengan suasana romantis. Ada pula yang menghadirkan suasana khas
Bali, atau karya grafis dan sedia toko buku. Tentang rupiah yang
dikeluarkan pengunjung, dari percakapan dengan beberapa kafe, pada
umumnya mereka mengkalkulasi pengeluaran pengunjung di rata-rata Rp
40.000 per kepala sekali datang.

Belasan nama berbau asing maupun lokal menghias kawasan Kemang. Muncul
nama Coterie, Chi-Chi’s, Toscana, Jimbani, Raja Thailand, Ratu Bahari,
J & J Cafe, Chicago for Ribs, Cafe de Paris, Tekila, Maxi’s, Pondok
Ulam, Del Rio dan Mc Donald.

Maraknya kafe, restoran dan aktivitas lain di Kemang telah mengubah
fisik daerah itu. Bangunan rumah tinggal banyak berubah peruntukannya.
Kemacetan lalu lintas terutama pada akhir pekan (Jumat malam, Sabtu
malam dan Minggu malam) menjadi salah satu akibat ikutan dari
perkembangan yang terjadi.

Puluhan kendaraan diparkir di bahu jalan karena pengelola kafe dan restoran tidak menyediakan lahan parkir cukup luas, yang dapat menampung kendaraan pengunjungnya. Meski juga ada pengusaha yang khusus menyewa tanah kosong di samping kafenya untuk lahan parkir.

Seorang pedagang rokok yang sudah 12 tahun berjualan di sebuah sudut
jalan di Kemang menuturkan, sejak menjamurnya kafe dan restoran di
kawasan itu lalu lintas di jalan itu menjadi lebih padat dan sering
macet. “Dulu-dulu sih jalan ini lancar-lancar saja. Sejak ada kafe dan
restoran jalan jadi padat, semakin macet,” kata Suherman.

Seorang pria berumur 45 tahun yang bekerja sebagai pengemudi bagi
majikannya yang tinggal di Kemang mengungkapkan, ada penghuni rumah di
Jalan Kemang Raya terpaksa pindah karena tak tahan dengan kemacetan
dan kebisingan yang ditimbulkan kafe dan restoran. “Lihat tuh, bule
yang tinggal di rumah itu nggak tahan lagi. Dia mau pindah,” kata
Ruslan sambil menunjuk sebuah rumah di tepi Jalan Kemang Raya yang
bersebelahan dengan kafe.

Selain bising dan macet, tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi di
kawasan itu juga mengganggu kehidupan sehari-hari warga yang tinggal
di kawasan Kemang. Tak jarang mobil pengunjung kafe dan restoran yang
parkir sampai menghalangi jalan keluar-masuk ke rumah mereka.
(zz/we/ksp)

FOTO ilustrasi Kemang diambil dari

LINK TERKAIT

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s