Badau, Pintu Negara yang Belum Terurus

KOMPAS
Selasa, 03 Feb 1998
Halaman: 19
Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

BADAU, PINTU NEGARA YANG BELUM TERURUS

MASYARAKAT Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat di perbatasan
sejak puluhan tahun lampau memiliki ketergantungan ekonomi yang
begitu besar terhadap kota distrik (setingkat kecamatan) Lubok Antu,
Sarawak, Malaysia Timur. Setiap hari kurang lebih 300 orang melintas
di perbatasan Badau-Lubok Antu untuk memasarkan hasil pertanian serta
membeli sejumlah barang kebutuhan pokok.

Pilihan ini disebabkan jarak menuju Lubok Antu lebih dekat,
sekitar sembilan kilometer dengan biaya kendaraan pergi-pulang
Rp 20.000. Sementara untuk ke Putussibau, ibu kota Kabupaten
Kapuas Hulu, diperlukan waktu kurang lebih 4,5 jam, sebab jarak
yang ditempuh sejauh 175 kilometer. Biaya kendaraan pergi-pulang
(pp) pun lebih mahal, sekitar Rp 100.000/ penumpang.

Hampir sebagian besar penduduk Kabupaten Kapuas Hulu di
perbatasan juga memiliki ikatan kekeluargaan dengan masyarakat di
Lubok Antu. Mereka umumnya berasal dari etnis Dayak Iban. Bahasa
dan tradisi adat pun memiliki kesamaan yang hingga kini masih
dipertahankan sehingga di antara mereka selalu terjadi kontak sosial.

Seringnya masyarakat dari lima kecamatan di wilayah perbatasan,
yakni Badau, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Empanang dan Puring Kencana
melintas ke Malaysia ternyata berdampak pada pengetahuan mereka soal
Kalbar atau Indonesia. Mereka ternyata lebih mengenal pejabat ataupun
artis Malaysia daripada yang ada di Kalbar ataupun Indonesia.

Hal itu ditunjang dengan perkembangan jaringan informasi yang
belum optimal. “Daya tangkap TVRI pun masih tidak bagus, sehingga
kami lebih cenderung memutar TV Malaysia,” kata Magdalena (25) warga
Kecamatan Puring Kencana.

Kenyataan yang ada seringkali menimbulkan kekhawatiran. Irama
perubahan dan perkembangan yang terjadi di Malaysia agak berbeda
dengan keadaan di Kapuas Hulu. Kondisi itu seringkali merumitkan
pemikiran para pengambil keputusan di Kalbar, bagaimana menyesuaikan
irama pembangunan dengan kenyataan yang sedang terjadi di Negara
Bagian Sarawak, Malaysia Timur.

Penyebab lainnya, menurut Paulus Gunung (63) tokoh masyarakat
setempat, karena di Nangabadau, kota Kecamatan Badau belum dibangun
pertokoan yang menyediakan barang kebutuhan pokok. “Jika di sini
dibangun pertokoan, selain mengurangi minat masyarakat untuk membeli
di Lubok Antu, juga dapat menarik pembeli dari wilayah itu. Karena
harganya jauh lebih murah dibanding yang dijual di Sarawak,”
ungkapnya.

Ia mencontohkan, pada musim kemarau lalu ketika pendistribusian
sejumlah barang kebutuhan pokok dari Putussibau ke Nangabadau cukup
lancar, sebagian besar masyarakat Sarawak di perbatasan lebih memilih
membeli barang di Badau. Ini berarti barang kebutuhan pokok di Badau
pun sebetulnya diminati warga Lubok Antu, mengingat harganya relatif
lebih murah.
***

POS Lintas Batas (PLB) di Badau-Lubok Antu yang direncanakan
dibuka pertengahan tahun 1998 ini, dinilai sebagai pilihan terbaik
untuk mengatasi ketergantungan ekonomi masyarakat Kapuas Hulu di
perbatasan. Karena pembukaan pos yang sama di Entikong (Kabupaten
Sanggau)-Tebedu (Sarawak) sejak tahun 1989 telah menunjukkan
peningkatan arus lalu lintas darat, sehingga turut pula memberi
manfaat ekonomi bagi masyarakat kedua wilayah perbatasan.

Kendati demikian, berbagai kelengkapan infrastruktur untuk
menunjang Badau sebagai salah satu pintu lintas batas Indonesia
dengan Malaysia belum dipersiapkan secara optimal.

Pengamatan Kompas yang menyusuri jalan dari Putussibau ke Badau
bulan lalu, jalan raya sebagian besar masih berupa jalan perkerasan
pasir-batu (sirtu) dan jalan tanah.

Jika melintas di jalan ini pada musim hujan, bersiap-siaplah
Anda akan terjebak lumpur tanah. Bahkan kalau tak mampu mengatasi
kesulitan, kendaraan terpaksa “menginap” di tengah belantara
Kalimantan. Sedangkan jembatan darurat yang memanfaatkan bahan
apa adanya (seperti ranting dan batang pohon yang disusun) banyak
ditemukan di rute ini. Jembatan darurat dibangun di atas sungai
besar dan kecil karena jembatan permanen belum dibangun.

Belum lagi kalau bicara infrastruktur lainnya, seperti jaringan
telepon, air minum, dan perkantoran yang juga belum dibangun. Bahkan
petugas pun belum ditempatkan di Nangabadau.

Padahal di Lubok Antu, setiap warga asing yang masuk, harus
melapor dulu ke polisi Malaysia dan kantor imigrasi setempat.
Pelintas batas yang tak memiliki surat izin, tidak diperkenankan
melakukan perjalanan dalam kota tersebut.

Menurut Edward Malaka (42), pengemudi angkutan umum jurusan
Badau-Lanjak-Banua Martinus, ia pernah ditangkap polisi Malaysia
ketika mengemudikan kendaraannya di wilayah Lubok Antu, hanya
beberapa ratus meter dari perbatasan Kalbar-Sarawak.

Namun ketika melihat banyak kendaraan Malaysia yang masuk wilayah
Badau, bahkan terus menuju hingga ke Putussibau, tidak diperiksa
petugas, ia pun jengkel. “Masak sih orang Malaysia begitu bebasnya
masuk ke wilayah Kalbar, sedangkan kalau orang Indonesia yang ingin
masuk ke Lubok Antu harus lapor ke polisi,” kata Ed-ward kesal.

Persiapan membangun pos lintas batas negara di Badau terkesan
belum maksimal. “Sejauh ini kami baru pada upaya membebaskan tanah
seluas lima hektar untuk pembangunan Pos Lintas Batas, serta berbagai
sarana pendukung lainnya. Sedangkan petugas yang ditempatkan di sini
hanya satu orang. Itu pun dari kantor imigrasi,” kata Pelaksana Tugas
Camat Badau, Tali S.

Padahal di wilayah Lubok Antu, tampak berbagai sarana dan
prasarana pendukung telah dipersiapkan cukup lengkap. Jalan raya
umumnya beraspal dan mampu dilalui kendaraan angkut barang roda 12
(dua belas). Jaringan telepon yang dipasang mampu menjangkau seluruh
dunia. Dengan kartu Telkom Malaysia, siapa pun bisa berkomunikasi ke
pelosok dunia. Hotel berbintang lima pun sudah dibangun di kota
kecamatan Lubok Antu, yang ditata dengan begitu apik dan bersih.

Persoalan ini bagi Bupati Kapuas Hulu Jacobus Frans Layang
merupakan gambaran ketidaksiapan serta kurang konsistennya semua
aparat terhadap daerah perbatasan. “Buktinya petugas yang ditempatkan
di Pos Perbatasan hanya satu orang. Kalau seperti ini bagaimana bisa
menertibkan setiap pelintas batas,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemda Kabupaten Kapuas Hulu sejak lima tahun lalu
telah mengantisipasi dengan membuka jalan raya dari Putussibau hingga
ke perbatasan, namun karena keterbatasan biaya kualitas jalan yang
ada belum ditingkatkan. Sementara sudsidi dari pusat hampir tak
pernah ada. Padahal jalan jurusan itu merupakan jalur lalu lintas
internasional.

Meski demikian, Jacobus bertekad Pemda Kapuas Hulu akan
“melepaskan” sebagian dana APBD untuk peningkatan kualitas jalan
jurusan tersebut.

Persoalannya, kelemahan paling mendasar dalam pembangunan jalan
di Indonesia umumnya karena biaya pembangunan jauh lebih murah
dibanding ongkos perawatan. “Sedangkan di Malaysia biaya pembangunan
selalu lebih mahal sehingga kualitasnya betul-betul diutamakan,” kata
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar Ir Said Djaffar yang juga terlibat
dalam pembangunan PLB Entikong-Tebedu tahun 1989.

“Saya kira sistem kerja Malaysia ini perlu ditiru, sebab
bagaimanapun jalur jalan Badau-Putussibau-Pontianak merupakan pusat
lalu lintas darat internasional. Dengan demikian kualitasnya harus
diutamakan,” kata Said Djaffar. Ia pun berharap pemerintah pusat
perlu memberikan perhatian secara serius terhadap rencana
pembangunan infrastruktur tersebut.
***

SAMBIL membenahi infastruktur, Wagub Kalbar Syarifuddin Lubis
mengajak swasta menanamkan investasi membangun pertokoan di Badau.
Peluang usaha itu selama ini hanya dimanfaatkan pengusaha Malaysia,
yang membangun sejumlah pertokoan yang menyediakan barang kebutuhan
pokok pada kota-kota yang ada di sekitar kawasan perbatasan.

Selama ini terjadi ketergantungan ekonomi yang begitu besar dari
masyarakat Kalbar terhadap kota-kota di wilayah Sarawak. “Bila ada
pengusaha yang betul-betul serius ingin menggarap, kami siap
membebaskan lahan, termasuk membantu kelancaran perizinan,” kata
Lubis.

Bupati Kapuas Hulu Jacobus F Layang pun melihat pembangunan
hotel di perbatasan akan menguntungkan mengingat Kapuas Hulu kaya
dengan potensi pariwisata. Taman Nasional Bentuang Karimun dengan
keanekaragaman hayati dan fauna langka di dunia, Danau Sentarum,
rumah-rumah panjang Dayak berusia ratusan tahun, merupakan daya
tarik bagi wisatawan mancanegara.

Kehadiran PLB Badau-Lubok Antu dinilai akan membuka peluang
investasi sektor pariwisata di Kapuas Hulu, sebab 68 persen dari
29.842 km persegi luas wilayah kabupaten ini merupakan kawasan
taman nasional dan hutan lindung. “Namun karena terbatasnya sarana
dan prasarana penunjang, kedua obyek wisata ini jarang dikunjungi
wisatawan mancanegara,” tambahnya. Pemda setempat juga telah
menyiapkan lahan di Badau untuk pembangunan landas pacu pesawat
jenis Fokker 28 atas biaya Departemen Kehutanan.

Selain peluang-peluang di atas, kehadiran PLB Badau-Lubok Antu
yang pasti akan meningkatkan kegiatan perdagangan antarnegara,
khususnya dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. Kalbar termasuk
wilayah pengembangan regional bersama dua negara tetangga tersebut.

Karena itu pembangunan fisik daerah perlu diikuti dengan
peningkatan sumber daya manusia masyarakat setempat, yang secara
sungguh-sungguh dirancang dan diarahkan sejak dini. Dengan demikian,
masyarakat setempat tidak hanya menjadi pekerja atau penonton di
tengah kemegahan pembangunan, tapi juga ikut menikmatinya. Itu bisa
diwujudkan jika Badau yang bakalan jadi “pintu negara” diurus dengan
sebaik-baiknya. (Jannes EW/Adhi Ksp)
Peta: 1
Foto:
Kompas/ksp

KONDISI JALAN PUTUSSIBAU – BADAU – Beginilah kondisi sebagian ruas
jalan antara kota Putussibau (Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar)
dan Badau (wilayah perbatasan Kalbar – Sarawak). Masih berupa jalan
tanah, yang pada musim penghujan, berubah jadi lumpur tanah.

LINK TERKAIT http://www.pu.go.id/balitbang/puslitbangsebranmas/perbatasan.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s